
Di Starbucks, Aileen sudah memesan Roti dan minuman.
Aileen duduk di tempat yang biasa ia duduk bersama dengan Axel.
“Tempat ini ngga ada yang berubah, semua tetap sama” batin Aileen.
”Waduh gua lupa share lock ke Alva” kata Aileen.
Aileen pun mengeluarkan ponselnya dan mengirim lokasi kepada Alva.
“Beres deh, tinggal tunggu dia” kata Aileen.
Staf Starbucks memanggil nama Aileen. Aileen mengambil minumannya dan duduk kembali ke tempatnya.
Aileen minum dan main hpnya sambil menunggu Alva.
Alva datang dan langsung pesan minuman.
“Bos Alva” kata salah satu staf.
”Iya, saya pesan biasa yang saya minum disini” ucap Alva.
”Baik bos” kata salah satu staf.
”Disini ada cewek cantik ngga mbak?” Tanya Alva.
”Ouh yang sendirian itu bos?” Tanya balik salah satu staf.
”Betul, dimana tempat duduknya?” Kata Alva.
”Biasanya cewek itu duduk di luar dekat pemandangan bos tempat bos Axel dulu duduk disana” ucap salah satu staf.
”Ouh disana, terimakasih. Nanti minta tolong dikirimkan ke meja sana. Dua minuman” kata Alva.
”Coffe bos?” Tanya salah satu staf.
”Non Coffe” jawab Alva.
”Baik bos” ucap salah satu staf.
Alva menuju ke meja yang dibilang oleh staf pelayanan.
“Tempat duduknya si Axel dimana ya?” Alva melihat sekitar mencari Aileen.
“Apa itu ya Aileen?” Batin Alva melihat gadis yang duduk disana.
”Gua coba aja deh” batinnya lagi.
Alva menuju meja di pojokan dekat pemandangan.
“Hm.. permisi, Aileen ya?” Tanya Alva.
”Iya” Aileen menoleh kearah suara.
”Akhirnya datang juga” katanya lagi.
”Sudah nunggu lama atau barusan datang?” Tanya Alva.
”Baru aja va gua datang, sudah pesan minuman?” Tanya Aileen.
”Sudah, gua langsung ke kasir tadi” jawab Alva.
”Ouh baguslah” kata Aileen.
”Lu mau?” Tawar Aileen kepada Alva.
”Ngga leen, gua ngga suka yang terlalu manis” kata Alva.
”Ouh begitu, maaf ya” kata Aileen.
”Gua lupa kalau lu dan Axel berbeda. Pasti makanan dan minuman beda juga” kata Aileen lagi.
”Ngga, gua sama Axel ada beberapa yang kita sukai” kata Alva.
“Hmm” Alva memikirkan apa yang sama dari Axel.
”Olahraganya” ucap Alva.
”Seperti Basket, Batminton, gym dan renang” ucap Alva.
”Gua baru tau Axel suka Basket”.
”Sebelumnya yang gua pernah lihat dia suka banget dengan Renang. Karena di sekolahan kita ada kolam renangnya” ucap Aileen sambil makan rotinya.
”Ya, Axel kalau dirumah hobby utamanya adalah renang” kata Alva.
”Kalau lu hobby utamanya apa?” Tanya Aileen.
”Hobby utama gua ya? Hmm…” Alva memikirkan hobby utamanya apa.
”Hobby utama gua adalah Basket” jawab Alva.
”Basket?” Aileen terkejut.
”Iya, memang ada apa dengan basket?” Tanya Alva.
”Ngga kenapa kenapa si cuman hobby gua juga basket” kata Aileen.
”Wah! Sama dong ya pencinta basket” kata Alva.
Staf pun membawa minuman yang dipesan oleh Alva.
“Ini bos minumannya” staf itu menaruk minuman di meja.
”Terimakasih” jawab Alva dengan sopan.
Aileen terkejut mendengar staf memanggil Alva dengan sebutan bos.
“Bos? Apa dia pemilik Starbucks ini? Tapi kenapa Axel ngga cerita ya siapa pemilik Starbucks disini” batin Aileen.
Staf itu pamit untuk pergi ke pekerjaannya kembali.
“Ini buat lu leen” Alva menaruk minuman di depan Aileen.
Aileen tetep melamun yang masih bertanya tanya di kepalanya.
“Apa gua tanya aja kepada alva?” Batin Aileen.
”Iya gua harus tanya ini biar gua ngga mati penasaran” batin Aileen lagi.
Alva sadar kalau dari tadi Aileen melamun. Ia mencoba membuyarkan lamunan Aileen.
“Aileen!! Hallo!! Aileenn!!” Alva menjentikan jari di depan Aileen.
Aileen tersadar dari lamunannya.
“Kenapa va?” Tanya Aileen.
”Lu kenapa? Dari tadi melamun aja. Ini minuman gua pesan khusus buat lu” kata Alva.
”Tapi gua udah ada ini va” kata Aileen.
”Ngga papa, yang satu buat dirumah” ucap alva.
”Hm va, gua mau tanya boleh ngga?” Tanya Aileen.
”Boleh tanya aja” Alva sambil minum.
”To the point aja ya, kok staf tadi manggil lu dengan sebutan bos?” Tanya Aileen yang tanpa basa basi.
Alva tersedak minumannya. Ia terkejut mendengar perkataan Aileen.
“Mampus, gua jawab apa ini? Aileen pakai tanya gini segara. Gua yang bertahun tahun menyuruh Axel merahasiakan ini dari orang lain malah Aileen bertanya dengan pertanyaan seperti itu” batin Alva.
*******