
..."Bener yah, Jodoh itu gak kemana, kalau menurut lo gimana?"...
Wila datang membawa nampan berisi pesanan makanan dan minuman miliknya serta milik Dea. Kemudian Wila pun duduk dibangkunya sambil memberikan pesanan milik Dea. Dea menerimanya sambil mengucapkan terima kasih kepada Wila.
"Makasih ya la" Ucap Dea sambil tersenyum menatap Wila.
"Hmm" Balas Wila dengan tak bersemangat sambil mengaduk-aduk baksonya.
Dea keheranan melihat tingkah Wila yang tidak bersemangat seperti beberapa jam lalu saat Wila kembali dari toilet.
"Lo lagi pms ya la?" Tanya Dea dengan wajah keheranan.
"Bukan pms, gue lagi kesel aja sama tuh cowok kampret" Jawab Wila menatap Dea dengan menggebu-gebu.
Dea yang melihat temannya dalam mode berbahaya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Maksud lo cowok yang mana sih?" Tanya Dea sekali lagi sambil memajukan sedikit wajahnya seakan sangat penasaran menanti jawaban Wila.
Wilapun melihat-lihat ke seluruh penjuru kantin dan seketika pandangannya berhenti di pojok kantin tempat geng Warrior berada.
"Tuh yang rambutnya hitam kecoklatan" Ucap Wila sambil mengkode Dea dengan dagunya.
Dea pun melihat kearah yang ditunjukkan oleh Wila, seketika mata Dea membulat "Jadi cowok yang lo maksud itu si Raga?" Tanya Dea memastikan.
Wila yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya dari geng Warrior dan menatap kembali kearah temannya "Au ah, bodo amat. Gue juga gak peduli namanya siapa kek, intinya tuh orang yang bikin gue gak mood dari jam pelajaran Bu Ayumi sampai tadi waktu gue mau bawa pesenan kita ini" Ujar Wila sambil mendengus sebal.
"Jadi gini la, cowok yang bikin lo kesel itu namanya Raga Mahardika, dia itu masuk jajaran Most Wanted Boy disekolah ini. Selain tampangnya dia yang ganteng pake banget itu, dia juga jago bela diri. Dan jangan lupakan fakta kalau dia itu ketua geng Warrior dan semua anggota geng Warrior itu punya radar ketampanan diatas rata-rata. Selain itu ya, dia juga kapten tim basket " Jelas Dea pada Wila dengan semangat menggebu-gebu sambil menatap Wila dengan mata berbinar-binar.
"Au ah serah, gue masih kesel sama tuh orang. Lo bayangin aja, pas lagi ditoilet yang jelas-jelas khusus buat perempuan malah tuh anak main nyelonong masuk seenak jidatnya dan tadi waktu gue bawa pesenan kita berdua tiba-tiba dia muncul dan ngomong-ngomong soal jodoh. Makin gak suka gue sama tuh cowok" Ucap Wila dengan tatapan tidak suka dan memilih memakan bakso dihadapannya.
"Sekarang lo bisa bilang gak suka, gak tau kalau nanti ya kan? Bisa-bisa lo beneran suka bahkan sayang sama si Raga" Ucap Dea sambil nyengir dan menaik-turunkan alisnya.
"Serah lo mau bilang apaan, mending lo makan tuh bakso sebelum gue habisin juga bakso punya lo" Ujar Wila sambil menatap tajam pada Dea.
"Ya maaf la, ini juga gue mau makan bakso gue" Kata Dea langsung melahap bakso dihadapannya.
Merekapun menikmati makanan mereka masing-masing dengan hening. Tanpa disadari, ada seseorang yang menatap kegiatan yang dilakukan oleh Wila dari pojok kantin. Dari awal Wila menikmati makanannya sampai ia selesai dan pergi meninggalkan kantin, Raga selalu mengawasinya dari pojok kantin tanpa melepaskan pandangan sedikitpun dari Wila.
Raga berpikir bahwa Wila benar-benar memiliki magnet yang mampu memikat siapapun dengan daya tariknya itu. Bahkan untuk membuat seseorang menjadi pacarnya bukan hal yang sulit. Oleh karena itu, Raga bertekad untuk membuat Wila menjadi miliknya. Hanya miliknya seorang dan Raga akan membuktikan bahwa ialah yang akan memiliki hati seorang Wila Wijaya.
Kringg..kringg...kring...
Bel tanda pulang telah berbunyi, pembelajaran pada hari ini telah selesai dan siswa-siswi mulai berhamburan meninggalkan kelas untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Wila dan Dea serta beberapa siswa dikelasnya masih berada di dalam kelas karena jadwal piket mereka yang membuat mereka pulang paling terakhir.
Setelah selesai dengan tugas mereka, mereka pun berkemas untuk pulang. Seperti Wila dan Dea yang juga telah selesai berkemas dan pergi meninggalkan kelas mereka lalu berjalan menuju tempat parkir.
"La, gue main ke rumah lo ya? Bosen nih gue dirumah mulu" Keluh Dea pada Wila.
"Terserah lo aja" Ucap Wila santai sambil terus berjalan menuju parkiran.
"Ok deh, lo paling ngertiin gue hehehe" Balas Dea sambil sedikit terkikik.
Sedikit lagi mereka sampai di tempat parkir, namun dari koridor sekolah yang dilalui Wila dan Dea terlihat beberapa siswa tengah berkelahi. Jika diperhatikan ada beberapa anak yang berkelahi di area parkiran karena kendaraan hanya tersisa beberapa saja yang kebanyakan dimiliki oleh Guru-guru di SMA Cakrawala dan lainnya milik siswa-siswi yang masih menjalani jadwal piket kelas.
Wila dan Dea masih meneruskan langkah mereka menuju perkiran tanpa menyadari bahwa ada beberapa anak-anak yang sedang berkelahi di area parkiran. Dilihat dengan seksama, anak-anak yang berkelahi sepertinya anak-anak kelas 11 dan 12 yang sudah pasti kehadiran geng Warrior ada di dalam perkelahian itu.
Saat ini Raga sedang berkelahi dengan seniornya yaitu Bara. Dari awal kemunculan Raga disekolah hingga kini, Bara selalu bersikap seperti membencinya bahkan sangat niat untuk selalu berkelahi dengan Raga. Raga tak tahu kesalahan apa yang dibuatnya kepada seniornya itu hingga Bara selalu mengajaknya berkelahi padahal tidak ada masalah yang terjadi diantara mereka.
Raga sedang asik meladeni Bara dalam perkelahian itu, hingga dilihatnya Wila sedang berjalan menuju arah parkiran dimana dirinya serta geng Warrior sedang berkelahi dengan senior mereka. Tak ingin membuat Wila dalam bahaya, Ragapun memilih berlari meninggalkan Bara yang sudah siap akan melayangkan tinjunya pada lawan dihadapannya itu sepertinya akan marah besar karena kehilangan lawannya.
"Mau kemana lo?!" Seru Bara dengan nyaring.
Raga yang mendengar itu memilih tidak menggubrisnya dan berlari menuju Wila untuk mengamankan cewek itu. Hampir saja Wila dan Dea terkena pukulan dari senior kelas 12 sampai Raga datang dan menarik mereka menjauhi are parkiran itu.
"Lo berdua gak papa kan" Tanya Raga sambil ngos-ngosan sembari mengatur nafasnya.
Yang ditanya hanya diam tak berekspresi seakan masih tak percaya kejadian yang hampir saja menimpa mereka jika Raga tidak datang dan membantu mereka.
Melihat tak satupun dari mereka menjawab pertanyaannya. Akhirnya Raga menyentikkan jarinya di depan wajah mereka. Seketika Wila dan Deapun tersadar dari lamunan mereka.
"Kalian baik-baik aja kan?" Tanya Raga sekali lagi dengan wajah seriusnya.
Akhirnya Dea yang menjawabnya "Ah iya, kita baik-baik aja kok. Oia, makasih udah nolongin kita".
"Hmm" Dehem Raga dengan mata yang menatap Wila dengan dalam.
Tiba-tiba Alex datang dan menghampiri mereka.
"Ga, Bara sama gengnya kabur. Gue juga suruh anak-anak untuk pulang duluan biar gue yang nyusulin elo kesini" Ucap Alex sambil menepuk bahu Raga.
Raga hanya menggangguk sekilas lalu berucap "Lex lo bisa gak anterin dia?" Tanya Raga pada Alex sambil menunjuk kearah Dea dengan dagunya.
"Hah kenapa harus gue?" Ucap Alex malah balik bertanya.
"Soalnya gue mau nganterin temennya, tadi mereka hampir kena pukulan dari gengnya Bara. Kalau gue gak cepet dateng buat nolongin mereka, bakal kelar mereka berdua" Ucap Raga sambil melihat kearah Wila dan Dea.
"Eh eh, dengan tujuan apa lo nganterin gue?" Tanya Wila keheranan setelah sekian lama terdiam.
"Udah ah jangan bawel, ayo!" Ucap Raga sambil menarik tangan Wila lagi dan menuju ke belakang sekolah mereka, dimana tempat basecamp geng Warrior berada selain kantin Bi Siti.
Ditengah perjalanan mereka menuju belakang sekolah, Wila teringat sesuatu "Eh bentar, mobil gue gimana?" Tanya Wila sambil memberhentikan langkahnya.
Ragapun juga ikut memberhentikan langkahnya dan terdiam sesaat. Lalu berucap "Tenang aja, temen-temen gue nanti yang urus mobil lo itu".
Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju belakang sekolah. Disitu terlihat motor Raga yang terparkir di depan sebuah warung kecil milik seorang Bapak-bapak berusia sekitar 40-an.
Namun sebelum Raga membawa Wila untuk pulang kerumahnya, ia menyempatkan diri sebentar untuk berpamitan pada sang pemilik warung tersebut.
"Abah, Raga pamit pulang dulu yah" Ucap Raga sambil menyalimi seorang Bapak-bapak yang dipangilnya Abah itu di dalam warung tersebut.
"Iya nak Raga, hati-hati dijalan" Balas Abah pada Raga sambil tersenyum.
Kemudian Raga bersama Wila pergi meninggalkan warung itu dan menuju ke rumah Wila.
20 menit kemudian sampailah mereka di depan rumah Wila. Wilapun turun lalu berucap pada Raga "Makasih udah nganterin gue dan makasih juga udah nolongin gue sama temen gue tadi" Ucap Wila pelan pada Raga.
"Iya sama-sama" Jawab Raga dengan tenang sambil melihat dengan intens pada Wila.
Lanjut Raga lagi "Oh ya, dalam sehari kita udah ketemu 3 kali. Jangan-jangan bener yah, kalau jodoh itu gak kemana. Kalau menurut lo gimana?" Tanya Raga dengan cengiran khasnya.
Wila yang mendengar itu hanya mendengus sambil membatin "Ngerusak suasana aja ni orang". Kemudian Wilapun berucap "Hih udah deh gak usah bahas jodoh-jodoh terus, gue bosen dengernya. Mending lo pulang sekarang, udah sore" Ucap Wila dengan cepat sambil mengibas-ngibaskan tangannya berniat mengusir Raga untuk segera pulang.
"Iye-iye bawel, huh ini juga gue mau pulang" Cibir Raga kemudian menstater motornya dan berlalu dari hadapan Wila.
Wila pun masuk kerumahnya dan disana sudah ada Dea dan juga mobilnya yang tadi dilihatnya sebelum masuk ke dalam rumah sedang terparkir rapi di garasi.
To Be Continued.
Halo teman-teman semua :)
Yuhu author kembali dengan part baru RagaWila :)
Mohon dukungannya untuk cerita ini, dengan cara like ataupun comment dan jangan lupa follow akun author untuk selalu dukung author :)
Jadi guys, dibawah ini author melampirkan foto lapangan sekolah SMA Cakrawala dan juga rupa dari rumahnya Wila