R O S A L I N A 3

R O S A L I N A 3
Mau Kuantar?



Bandara, Seoul.


Pria : "Hai, nona?"


Mica menoleh. Ia melihat ada seorang pria yg mengajaknya bicara.


Mica : "Who are you?" tanya Mica dengan logat bahasa inggris.


Pria : "Ah, my name is Won Bin."


Mica : "Won Bin? I'm not know you." ucap Mica.


Ternyata pria yg menyapanya adalah Won Bin adik angkat dari Stephen Woo.


Won Bin : "Ah, iya. But, i see you need a help."


Mica : "No, i dont think so!"


Won Bin : "Really?"


Mica : "Yes."


Won Bin : "Alright!" ucapnya kecewa kemudian ia pergi dari sana dengan mobil mewah milik Stephen Woo.


Tinggallah Mica sendiri disana. Ia berdecak kesal, ketika ia mengingat tentang lelaki tadi yg sudah seenaknya menarik tangannya keluar dari taksi yg hendak di tumpanginya.


"Ck, ini semua gara-gara lelaki sialan itu!" umpatnya. dalam hati.


Ketika, ia sedang merasa kesal. Tiba-tiba saja, Won Bin kembali datang menghampirinya. Kembali, menawarinya tumpangan.


Won Bin : "Ayolah, mau kuantar?"


Mica memutar bola matanya malas. Akhirnya, ia pun setuju untuk diantar oleh Won Bin.


Mica : "Ck, baiklah. Jika, kau bersikeras." ucapnya sewot. Won Bin hanya tersenyum saja mendengarnya.


Mica segera naik ke dalam mobil yg notabene pemiliknya adalah Stephen Woo. Sedangkan, Won Bin hanya disuruh untuk membawa mobilnya untuk menjemput dirinya di bandara. Tapi, karena keasyikan main game hingga membuat Won Bin lupa diri sekaligus juga lupa pada perintah Stephen Woo.


Won Bin : "Tadinya kukira kau akan menolak ajakanku." ucapnya senang.


Mica hanya diam saja. Ia malas menanggapi kata-kata lelaki yg baru dikenalnya.


Won Bin : "Oh, ya? Siapa, namamu?"


Mica menjawab sekenanya.


Mica : "Mica."


Won Bin : "Oh, jadi nama kamu Mica ya? Kalau aku, Won Bin. Dimana, alamat rumahmu! Biar kuantar!" ucapnya tersenyum manis.


Mica : "Ini alamat rumahnya. Apa, kau tahu alamat ini?" tanya Mica mulai bersahabat.


Won Bin : "Oh, alamat ini ya? Tentu saja aku tahu. Aku akan mengantarkanmu kesana."


Mica : "Benarkah? Um, terima kasih."


Won Bin : "Sama-sama."


"Yes, berhasil." ucap hati Won Bin.


Terukir raut senang di wajah tampannya Won Bin. Ia benar-benar senang bisa menaklukkan wanita yg tadinya terlihat galak pada dirinya. Namun, sekarang wanita yg terlihat galak itu sudah bisa sedikit bersahabat dengannya. Meski, masih sama-sama canggung karena perbedaan bahasa di antara mereka. Won Bin berbicara dengan menggunakan bahasa inggris agar dapat dimengerti oleh Mica. Dan, Mica juga melakukan hal yg sama. Kini, keduanya terlibat dalam pembicaraan yg hangat.


Sampai akhirnya, kendaraan itu berhenti di depan sebuah rumah mewah bernuansa cat putih dan coklat di depan dinding rumahnya. Dihiasi dengan aneka bunga berwarna-warni di samping kiri dan kanan di taman rumah itu. Mica sungguh sangat senang melihatnya. Segera ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Nessa, adik dari Aldrich Jefferson.


Percakapan Via Telepon.


Mica : "Tante, Mica udah sampai di depan rumah!"


Nessa : "Apa! Sudah sampai? Oke...oke...tante akan segera membukakan pintu pagar."


"Tut"


Nessa menutup teleponnya. Ia menyuruh seorang pelayan untuk membuka pintu pagar. Setelah pintu pagar terbuka. Mobil yg dikendarai oleh Won Bin segera masuk ke dalam halaman rumah. Dan, di depan rumah Nessa sudah menunggu dengan senyum terukir di bibir manisnya. Mica keluar dari dalam mobil itu. Ia berteriak memanggil Nessa.


Mica : "Tante!" teriaknya sambil melambaikan tangannya.


Nessa tersenyum, ia juga melambaikan tangan juga kepada Mica. Mica berlari, menghampiri Nessa dan memeluknya erat.


Mica : "Mica kangen banget sama tante." ucapnya polos.


Mica : "Oh, itu. Aku bertemu dengannya di bandara. Ayo, aku kenalkan tante."


Mica menarik tangan Nessa dan membawanya ke hadapan Won Bin.


Mica : "Tante, kenalkan ini Wòn Bin. Won Bin, kenalkan ini tanteku, Nessa."


Nessa : "Apa dia pacarmu?"


Mica : "Pacar??? Isssshhh, bukan tante?"


Won Bin tidak mengerti dengan percakapan Mica dan Nessa. Karena, mereka menggunakan bahasa indonesia.


Won Bin : ???


Nessa : "Jadi siapa, dong?"


Mica : "Teman, tante?"


Nessa : "Oh? Tante kira dia pacar kamu."


Mica : "Tante ada-ada aja!"


Nessa : "Kalau iya juga gak apa-apa kok. Hehehe...!" ucap Nessa sambil terkekeh geli.


Berbicara dalam bahasa inggris....


Nessa : "Ayo, masuk dulu."


Won Bin : "Ah, tidak usah tante? Saya pulang saja. Masih ada urusan yg harus saya kerjakan." ucapnya sambil meraih ponsel yg sejak tadi berdering. Ia tahu siapa yg sejak tadi sibuk meneleponnya. Tidak lain adalah pemilik asli mobil yg ditumpangi oleh Mica, Stephen Woo. Orang yg dengan kasarnya mendepaknya keluar begitu saja.


Nessa : "Oh, begitu. Ya sudah, kalau begitu. Um, terima kasih sudah mengantar Mica."


Won Bin : "Sama-sama, tante? Saya permisi."


Nessa dan Mica menganggukkan kepalanya. Mengantar dengan senyuman manis mereka. Sampai mobil yg dikendarai oleh Won Bin bilang dari pandangan mata mereka.


.


.


.


.


.


.


Dalam perjaanan pulang.....


Won Bin mengangkat telepon dari Stephen Woo. Tampak sekali, Stephen sangat marah padanya. Karena, keterlambatannya menjemput Stephen di bandara.


Berbicara dalam bahasa korea....


Won Bin : "Maafkan aku, kakak? Jangan, marah padaku dulu."


Stephen : "Diam kau, Won Bin Sialan. Gara-gara kau, aku harus naik taksi kembali ke rumah. Dan, gara-gara kau juga aku sampai menarik orang keluar dari taksi dengan paksa. Kalau dipikir-pikir, kesalahanmu ini sangat banyak. Untuk itu, aku akan memberikan hukuman padamu."


Won Bin : "Ah, jangan kakak? Tolong maafkan kesalahanku."


Stephen : "Tiada maaf bagimu! Huh! Potong gaji dan potong bonus akhir tahun sebesar 50%."


Won Bin : "Apa!!! Kakak, kau memotong gajiku sebanyak itu? Kakak, kau kejam sekali."


Stephen : "Diam!!! Segera pulang dan cepat kembalikan mobilku!"


"Tut"


"Ck, duhh....matilah! Dia sangat marah padaku!" ucap Won Bin dalam hati.


Ia pun mempercepat laju kendaraan agar cepat sampai di rumah dan meminta maaf pada kakak angkatnya agar tidak marah lagi padanya. Walau pun pasti akan sangat sulit untuk mendapatkan maaf dari Stephen mengingat dia adalah orang yg tegas dn disiplin dalam setiap perbuatan mau pun kata-katanya juga dalam pekerjaan di kantor.


Bersambung.....


ROSALINA 3