
" Uda dan Uni mu bertengkar?"
Ayah yang pagi ini sudah bisa bangun dari tempat tidur kuajak berkeliling di sekitaran taman rumah sakit menggunakan kursi roda.
Aku sempat terdiam sesaat. Ayah pun memalingkan wajah dan menyentuh lenganku.
"Ima!"
"Eh, iya Yah"
"Apa yang kamu lamunkan?"
"Ima kangen taman bunganya Bunda di belakang rumah kita ketika melihat taman di sini"
"Iya benar, kasian bunga bunganya bunda. Semoga mak Ipah ingat untuk terus menyiramnya"
"Bunda bakalan sedih kalo bunga bunganya mati. Tapi Raiyan akan bersyukur karena saingannya berkurang"
Aku dan ayah tertawa bersama.
"Ima.."
"Iya yah"
"Ayo duduk di kursi itu. Ada yang mau ayah tanyakan"
Jantungku kembali berdegup kencang.
Jangan kumat sekarang ya jantung.. Doaku dalam hati.
"Apa yang mau ayah tanyakan?"
Aku mengontrol suaraku biar setenang mungkin.
"Uda dan Uni mu bertengkar?"
"Kenapa ayah berpikir seperti itu?"
"Ayah bisa melihat jika mereka tidak bertukar kata. Saling mendiamkan. Bertukar sapa pun tidak".
"Kamu satu satunya anak ayah yang tidak pernah berbohong. Ada apa dengan Uni dan Udamu?"
"Kenapa ayah tidak bertanya sama Uni atau Uda langsung?"
"Ayah tidak bisa"
"Ayah saja tidak bisa, apalagi Ima. Ayah tahu kan kalo Ima tidak pernah berani bertanya pada mereka. Melawan ucapan mereka pun Ima tidak berani".
"Jika ayah bertanya, ayah takut mendengar apa jawaban mereka"
"Ayah bertanya pada Ima. Kalau Ima tau kemudian Ima menjelaskannya. Apa Ayah bisa mendengarnya?"
Ayah menarik nafas panjang sambil menatapku.
"Jelaskan pada ayah, nak.
Ayah tau, mereka menahan diri untuk bertengkar di depan ayah karena ayah sakit"
"Mungkin benar antara Uda dan Uni ada masalah. Tapi Ima tidak tau ayah. Ima juga sadar sikap mereka berubah. Tapi Ima tidak berani bertanya. Tunggu Raiyan datang. Mungkin Raiyan bisa bertanya pada Uda nantinya".
Ayah mengangguk sambil menatap jauh ke depan taman.
Maafkan Ima ayah, Ima harus berbohong.
Ima tidak bisa menjelaskannya pada ayah.
Ima takut, jantung Ima kumat disini dan terbongkar juga penyakitnya Ima.
"Kalau Ayah enggan bertanya pada Uda atau Uni. Tunggu Raiyan saja ya Yah. Raiyan lebih berani dari Ima."
Ayah kembali mengangguk.
"Jika Ima tau sesuatu beritahu ayah ya ,Nak. Jangan jadikan sakitnya ayah untuk kalian menutupi apa pun dari ayah".
"Siap komandan. Ima akan cerita ke ayah nantinya. Sekarang kita kembali ya yah. Ayah sudah lelah Ima lihat. Padahal Ima yang dorong. Ayah tinggal duduk".
Ayah tersenyum sambil mengangguk.
Aku kembali mendorong kursi roda ayah untuk kembali ke kamar.
"Iya Yah".
"Maafkan ayah ya nak. Selama ini ayah sering bersikap tidak adil pada Ima"
"Yang sudah berlalu tidak usah di bicarakan lagi Yah. Ayah jangan merasa bersalah. Bagi Ima apapun yang ayah lakukan untuk Ima, itu adalah yang terbaik".
"Terima kasih, Nak!. Kamu memang yang paling berbeda".
"Berbeda, Yah?"
"Iya. Kamu anak spesial ayah. Kamu lahir prematur, di tinggal pergi ibu, sering jatuh sakit. Sebelum ada Bunda, ayah selalu bingung jika kamu harus di rawat di rumah sakit. Kamu memang spesial, Ima".
"Kamu tidak cengeng. Tidak pernah mengeluh walaupun sedang sakit. Sekarang pun seperti itu. Tetap tidak pernah mengeluh. Ayah bukannya lebih sayang ke Uni mu. Semua anak, ayah sayang. Tapi ayah sebagai orang tua tau, bahwa kamu lebih kuat dari Uni mu".
Ayah menarik nafas sejenak.
"Ayah tau ada yang salah dengan Uni mu. Tapi ayah juga tau bagaimana uni mu. Unimu itu menanggung beban hatinya sendirian".
"Maksud Ayah?"
"Ketika ibu kalian meninggal, semua hanya memikirkan Ima yang masih bayi. Padahal bayi yang baru lahir tidak akan tahu rasanya kehilangan ibu. Berbeda dengan Raisa. Dia merasakan bagaimana kehilangan kasih sayang seorang ibu. Perhatian semua orang hanya padamu saat itu. Itulah yang membuat Raisa cemburu."
"Karena itu sikap uni berbeda pada Ima?"
"Berbeda bagaimana nak? Unimu sayang padamu. Apa yang berbeda?"
Aku terdiam sesaat. Tidak mungkin aku menceritakan pada ayah jika Uni berbeda sikap jika di depanku dan di depan semua orang.
"Ima salah bicara, ayah."
Ayah memandangiku. Aku tahu banyak pertanyaan di dalam benak beliau yang tidak dapat beliau ungkapkan padaku.
Maafkan Ima, Ayah.
Aku terus mendorong kursi roda ayah menuju kamar sampai kami bertemu Uda dan mas Faris.
"Baru uda mo nyusul ke taman"
Uda mengambil alih mendorong kursi roda ayah.
"Ma, temanin mas Faris sebentar mau?"
"Kemana mas?"
"Swalayan depan. Bentar aja"
Aku mengangguk kemudian berpamitan pada Ayah. Tak kuduga, mas Faris malah membawaku ke arah lain.
"Kemana mas?"
"Pemeriksaan lanjutan"
"Apa lagi yang diperiksa?"
Aku menarik nafas panjang. Sedikit bosan dengan berbagai rangkaian pengobatan yang kujalani.
Mas Faris berhenti dan memandangiku.
"Dek Ima menyerah?"
"Bukan begitu, Mas"
"Ini belum apa apa dek, masih banyak lagi yang harus dek Ima jalani kalo dek Ima mau sembuh".
Aku kembali menarik nafas panjang
"Iya mas, maafkan Ima"
"Optimis ya dek, jangan menyerah"
Aku hanya mengangguk. Mas Faris kembali memandangiku sebelum akhirnya melangkah menuju poli jantung.
Aku bukannya pesimis mas. Tapi ternyata imanku masih kecil. Aku kadang berharap jika Tuhan mengambil saja nyawaku ini. Agar penyakitku tidak menjadi beban untuk keluargaku.
Maafkan aku ya Tuhan.