
Kami semua duduk di depan ruang tunggu operasi. Ayah di dorong masuk tiga puluh menit yang lalu. Sejak itu, tidak ada satu pun dari kami yang membuka suara.
Uda, bunda, Uni Raisya, juga diriku. Kami semua bungkam. Entah apa yang ada dalam pikiran kami masing masing. Apakah memikirkan tentang ayah yang sekarang sedang berada di dalam ataukah memikirkan hal lainnya.
Jika bertanya diriku, jelas aku mendoakan ayah. Aku menginginkan ayah terus sehat dan biarlah aku yang lebih dulu pergi nantinya meninggalkan ayah.
"Han, sudah lama?"
Mas Faris ikut hadir diantara kami.
"Tiga puluh menit yang lalu baru masuk. Paling masih proses persiapan anestesi. Agung juga kulihat masih di koridor".
"Jadi si agung ikut operasi?"
"Jadi. Syukurlah ada Agung. Ada yang memantau keadaan ayah".
"Percayakan pada tim dokter. Mereka pasti akan berbuat maksimal".
Uda hanya mengangguk.
Bunda yang duduk disampingku kulihat sibuk menggerakkan tasbih di tangan sambil memejamkan mata.
Aku pun membuka quran kecil yang selalu ada di dalam tasku. Membacanya dengan pelan, hampir tak kedengaran orang lain.
Lima belas menit kemudian lampu tanda operasi di mulai bernyala. Kami serempak menarik nafas panjang.
"Bismillahhirrahmanirrahim"
Bunda berucap sambil menggenggam tangannya.
Ayah melakukan operasi pembuangan usus yang telah terinfeksi. Operasi ini sebenarnya tidak ber resiko tinggi di banding operasi kanker atau tumor lainnya. Tapi di karenakan umur ayah yang sudah lanjut. Maka proses penyembuhannya yang agak lama. Ditambah lagi penyakit darah tinggi yang di miliki ayah.
Uni Raisa duduk diam tanpa suara. Tak lama handphonenya Uni berdering, Uni berdiri menjauh. Beberapa menit kemudian, tampak seorang laki laki menghampiri Uni.
Mungkinkah itu laki laki yang dimaksud Uda?
Dari wajah memang tampan, tinggi dan atletis. Sebagai seorang pilot, jelas dia juga menjaga kebugaran tubuhnya.
Sekilas kami saling berpandangan ketika laki laki itu menyalami Bunda.
Aku langsung menangkupkan kedua telapak tanganku di dada ketika laki laki itu ingin bersalaman denganku. Dia terlihat kikuk dan salah tingkah.
"Dia Raima, adikku"
Uni memperkenalkan kami. Aku hanya mengangguk. Dan laki laki itu tersenyum.
Uda berdiri dan langsung menghampiri laki laki yang kemudian ku tau bernama Fajar.
"Bisa kita bicara? Berdua. Ikuti aku!".
Uni terlihat mencegah. Tapi laki laki itu tetap mengikuti langkah Uda.
Aku pun berdiri dan segera mengikuti langkah mereka. Mas Faris pun ikut berdiri mengikutiku tapi sebelumnya sempat memperingatkan uni.
"Tunggu di sini sama Bunda"
Tatapan tajam mas Faris membuat Uni bungkam.
Begitulah Uni, jika tidak ada ayah, maka dia akan menjadi kerupuk yang melemah karena lama di dalam bungkus.
Aku berdiri agak jauh dari Uda dan laki laki bernama Fajar itu. Mas Faris berdiri disampingku. Walaupun agak jauh, aku masih bisa mendengar percakapan mereka.
"Maaf, siapa namamu?"
"Fajar"
Laki laki itu tetap terlihat tenang.
"Apa tujuan hubunganmu dengan Raisa?"
"Maksudnya apa? Jelas saya serius!"
"Kamu serius mau menikahi Raisa?"
"Iya"
"Kapan?"
"Setelah kontrak Raisa selesai. Raisa masih terikat kontrak".
Sampai disini, laki laki itu masih tenang bahkan terkesan menantang Uda.
"Atau setelah perceraianmu dengan istri sahmu?"
"Atau kamu dan Raisa sudah menikah tanpa sepengetahuan aku? Toh kalian sudah sering check in berdua di hotel".
Kembali wajah itu terlihat terkejut. Dia tidak menyangka Uda banyak mengetahui tentang hubungan nya dan Uni.
"Sebagai laki laki kamu tidak di rugikan. Laki laki mana yang tidak tergiur dengan wanita cantik. Kucing di beri ikan, pasti akan dimakan. Raisa adik ku yang bodoh. Merelakan tubuhnya untuk laki laki yang bukan suaminya. Hal inilah yang aku sayangkan".
"Tapi nasi sudah menjadi bubur. Raisa sendiri yang memilih jalan ini. Aku tidak bisa memutar atau menghentikan waktu"
Uda menarik nafas sejenak. Laki laki itu hanya diam setengah tertunduk.
"Jika Aku meminta pertanggung jawabanmu, ada hati istrimu yang terluka. Tapi inilah jalan yang kalian pilih. Solusi dariku sebagai kakak tertua Raisa adalah nikahi adikku walaupun sebagai istri kedua".
Laki laki itu memandangi Uda hendak membuka mulutnya. Tapi gerakan tangan Uda yang menyuruhnya untuk diam membuat mulutnya kembali tertutup.
"Dan syarat dariku hanya satu. Terus teranglah pada istrimu. Datanglah bersama dia untuk melamar Raisa sehingga aku bisa yakin bahwa istrimu setuju"
"Sebelum urusanmu dengan istrimu selesai. Jangan muncul di hadapan aku. Jangan mencari muka dengan ayah. Ayah jelas akan kecewa jika tau yang sebenarnya".
"Dan satu lagi. Jangan terus berzina. Apa kau tidak takut pesawat yang kau kendarai akan jatuh karena malamnya kalian habis berzina?"
"Bersyukurlah kau bertemu lebih dulu denganku. Jika kau bertemu adikku Raiyan, maka tentu saja kau akan menjadi pasien rumah sakit ini. Jangan kembali lagi kesana. Aku tidak ingin berbasa basi denganmu".
Uda berjalan meninggalkan Fajar. Aku bernafas lega ketika Uda menghampiri kami.
"Ayo"
Uda berjalan lebih dulu. Aku dan Mas Faris menyusul, kami berjalan masing masing di samping Uda.
"Kenapa menyusul?"
"Berjaga jaga, Han"
"Aku tidak akan mengotori tanganku untuk laki laki brengsek itu. Cukup dengan kata kata saja".
"Uda hebat eh. Sabaaaarrr betuuuul"
Aku merangkul lengan Uda.
"Jangan mengejek Uda. Kamu mau Uda mu ini di usir dari rumah sakit karena membuat keributan?"
Ketika kami hampir sampai kembali di depan ruang tunggu operasi. Kami berpapasan dengan Uni Raisa yang berjalan terburu buru. Tidak ada tegur sapa di antara kami. Uda pun terlihat tidak perduli.
Tak berapa lama kemudian Uni pun kembali.
"Uda tega!"
"Kenapa? Pacarnu marah uda tegur?"
"Ini di rumah sakit. Jangan membuat ribut".
Akhirnya Bunda membuka suara.
"Uda hanya mengingatkan. Apa kau tidak kasihan pada ayah yang juga menanggung dosa karena kumpul kebo kalian?"
"Raisa pamit bunda. Nanti Raisa kembali lagi".
Uni bersiap untuk pergi.
"Berhenti ber zina. Apa kau tidak takut pesawat nya jatuh dan kalian tidak sempat bertobat?"
Uni Raisa cemberut pada Uda dan berjalan menghentakkan kakinya. Terlihat lucu dimataku. Uni terlihat seperti anak SMA yang dilarang pacaran oleh kakaknya.
Sepeninggalnya Uni, aku dan bunda bersamaan menarik nafas. Kami berpandangan dan tersenyum bersama.
"Ayo han, cari kopi. Biar otaknya gak tegang"
Mas Faris mengajak Uda pergi.
"Bawa es cream ya pulangnya mas"
"Mau berapa bakul?"
"Secukup uangnya mas Faris. Jangan sampe bikin alasan gak bisa makan karena belikan Ima es cream".
Mas Faris dan Uda tertawa sambil berjalan meninggalkan aku dan bunda.
Seperti tidak terjadi sesuatu sebelumnya. Mereka bercanda sambil berjalan.
Aku kembali menarik nafas.
Ya Tuhan. Episode baru tentang Uni kembali di buat. Entah sampai kapan episode ini akan berakhir.