
"Keluarga Barata tau tentang sakitnya Ima,Uda?"
"Cuma Agung yang tau"
"Tentang Uni?"
"Itu aib keluarga kita. Untuk apa Uda memberitahu mereka".
"Tapi kenapa perlakuan mereka berbeda pada Ima dan Uni? Apa mas Agung menceritakan pada mereka?"
"Tidak, Uda tau bagaimana Agung. Tidak mungkin dia bercerita pada mertuanya".
"Bu Barata sikapnya berbeda pada Ima dan Uni. Bahkan tadi cenderung menyinggung Uni tentang perselingkuhan para pilot"
"Hahahaha. Mungkin saja bu Barata bisa membaca tingkah seseorang dari raut wajahnya".
"Uda, Uni juga saudara kita"
Uda menarik nafas panjang.
"Uda tau. Tapi apa Raisa pernah berpikir bahwa kita juga saudaranya? Dosa yang dia lakukan bukan hanya di tanggung olehnya. Tapi oleh Ayah, Uda dan Raiyan sebagai saudara laki lakinya. Kewajiban Uda untuk memberinya teguran. Karena dosa yang juga ikut Uda tanggung".
"Jika Raisa dan pacarnya tidak bisa di beri peringatan secara baik, Uda akan mendatangi maskapai tempat mereka berkerja. Biar viral sekalian. Uda tau Raisa sudah dewasa. Tapi sekali lagi. Ini kewajiban Uda sebagai saudara laki laki".
Aku ikut ikutan Uda menarik nafas panjang. Aku yang belakangan ini belajar lebih dalam tentang agama mengetahui dosa yang disebutkan Uda tadi. Tidak salah jika Uda bersikap tegas pada Uni.
"Jika saja ayah tidak sakit. Uda sudah bertindak lebih tegas lagi. Tapi kita lihat saja, apa pasangan sapi itu mau berubah".
"Pasangan sapi?"
Aku tertawa
"Yap, bukan lagi kumpul kebo tapi kumpul sapi".
"Uda aneh aneh aja kasih julukan".
"Besok sudah puasa. Ayah juga sudah lebih baik. Pagi ini sudah bisa duduk. Mungkin Uda akan pulang lebih dulu. Ada Faris dan Agung yang akan membantu Ima dan bunda di sini".
"Bunda juga kemarin bilang begitu ke Ima. Uda juga sudah terlalu lama ijin. Nanti kalo uda di pecat, siapa dong yang biayain Ima nantinya"
"Hei, lupa kalo sudah di terima di Barata Grup?Uang kau nanti akan lebih banyak dari Uda".
"Dokter spesialis tht kalah dari Ima? Uda bercanda".
"Masa depanmu terjamin de. Ada asuransi kesehatan juga. Berobatmu jadi terjamin. Betah betahlah bekerja di sana".
"Mana tau kedepannya bagaimana, Uda. Kita tidak bisa meramal masa depan".
"Apalagi jadi nyonya muda Barata. Terjamin tujuh turunan".
Uda berkata sambil tertawa karena melihat mimik tidak suka dariku.
"Ima tidak akan menikah"
"Sadar apa yang Ima ucapkan?"
Aku mengangguk.
"Uda tau apa yang Ima tanyakan pada dokter di pemeriksaan terakhir kemarin? Bagaimana jika saya menikah dan hamil dokter?
Jika Ima hamil, denyut jantung akan bekerja lebih cepat, menyebabkan jantung akan cepat lelah. Lelahnya jantung akan mengurangi oksigen yang diberikan melalu ari ari kejanin. Dan kemungkinan juga akan terjadi penyakit jantung bawaan. Ima tidak ingin anak Ima mengalami hal yang sama dengan Ima, Uda".
"Semua masih kemungkinan kan?"
"Mencegah apa? Hamil atau menikahnya"
"Setiap pasangan yang menikah, pasti ingin punya keturunan. Jika Ima tidak bisa memberikan keturunan, suami akan menikah lagi dengan alasan mencari anak. Ima tidak ingin sakit hati yang akan menyebabkan penyakit Ima kambuh. Jadi Ima mencegah itu terjadi".
"Astaghfirullah Ima. Sejauh itu sudah pemikiranmu".
"Ima mencoba realistis, Uda".
"Tapi belum tentu semua itu akan terjadi kan? Ada saja pasangan yang bahagia walaupun tidak mempunyai anak. Banyak juga laki laki yang setia dengan pasangannya"
"Ya, mungkin suatu saat nanti, Ima bisa menikah dengan seorang duda yang sudah memiliki anak. Jadi tuntutan anak tidak ada lagi ke Ima".
"Sudah sudah, terlalu jauh sudah pemikirannya. Cukup, Uda pusing dengan pola pikirmu. Ayo kita masuk. Uda mau bicara dengan ayah tentang kepulangan Uda lebih dulu".
Aku terkekeh sambil merangkul lengan Uda.
"Mungkin nantinya Ima bisa membawa salah satu anak Uda atau Raiyan buat Ima adopsi"
Aku berkata sambil tertawa dan mengedipkan mataku pada Uda.
Uda membalas candaanku dengan merangkul leherku kuat hingga aku teriak dan mencubit perut Uda.
Candaan kami masih berlanjut sampai di dalam kamar. Uni melihat kami dengan wajah yang kata Uda tanpa dosa. Entah apa yang ada di dalam pikirannya Uni. Tapi seingatku, dari kecil hingga kami semua dewasa, uni memang jarang bercanda sepertiku dengan Uda atau Raiyan.
Candaan Uni dengan kami hanya berupa kata kata lucu. Tapi jika aku dengan Raiyan, kami kadang bercanda secara fisik. Saling merangkul, memukul atau mencekik.
Sewaktu kami masih tinggal bersama di solok, jika aku belum menangis, maka Uda atau Raiyan tidak akan berhenti menggangguku. Dan mereka berdua tidak seperti itu pada Uni. Mungkin itulah membuat Uni yang katanya Bunda, menaruh Iri padaku.
Uda berhenti merangkulku. Kemudian mengambil posisi duduk di dekat ayah. Uni yang menyadari bahwa Uda mendekat pada ayah bersikap waspadai.
"Ayah, ada yang mau Raihan bicarakan".
Ayah memandang Uda. Dan Uni makin terlihat waspada. Wajahnya terlihat khawatir jika Uda menceritakan tentangnya pada ayah.
Bukan cuma Uni, tapi bunda pun melihat Uda dengan raut wajah khawatir. Kemudian bunda memandangku. Aku tersenyum pada bunda. Melalui tatapan mata kami, sepertinya bunda mengerti kalo semua akan baik baik saja. Terbukti setelah itu bunda mengangguk dan membalas senyumku.
"Raihan Ijin untuk pulang lebih dulu. Kasian anak istri Raihan, Yah. Raihan juga sudah terlalu lama ijin".
Sempat kulihat Uni menarik nafas lega. Lucu juga melihat ketakutan uni. Bagaimana jika Uda atau Raiyan benar benar membongkar semuanya pada ayah. Ya kita lihat saja nanti bagaimana episode ini akan berakhir.
Ayah mengangguk.
"Beritahu Agung supaya ayah rawat jalannya nanti di solok saja atau di Padang. Terlalu jauh jika harus bolak balik nanti ke Jakarta".
"Nanti akan Raihan beritahukan, Yah".
Ayah kembali mengangguk.
"Kapan rencananya kau akan pulang, Han?"
"Kemungkinan lusa. Ada beberapa hal yang akan Raihan urus lebih dulu".
Ayah kembali mengangguk.
"Raihan keluar dulu. Ada janji dengan teman Raihan".
Uda mencium tangan Ayah dan Bunda. Kemudian mengacak jilbabku sebelum keluar kamar.
Aku melontarkan protes yang di balas Uda dengan tertawa kecil. Lagi lagi Uni memperhatikan interaksiku dan Uda. Dan kali ini bukan hanya Uni. Ketika aku memandang ayah, ayah pun memandangku dengan sorot mata penuh tanya.
Ya Tuhan. Sehabis ini ayah pasti akan menginterogasiku.