
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aku terkejut ketika memasuki kamar rawat ayah, melihat dan mendengar jawaban salamku di jawab bukan hanya oleh bunda dan Uda.
Aku tersenyum sambil meletakkan barang bawaanku. Aku melihat Mas Agung, Mbak Dewi dan juga dua orang lainnya sedang duduk bersama Uda dan Bunda mengelilingi tempat tidur ayah.
"Ini Raima mah, yang suka di ceritakan mas Agung. Sini Ma, ini mamah papahnya Mbak. Mertuanya Mas Agung".
Aku tersenyum pada dua orang yang di perkenalkan mbak Dewi padaku sebagai mamah dan papahnya.
Aku mencium tangan laki laki yang kuperkirakan seumuran ayah. Tapi wajahnya masih tampan dan masih bugar. Penampilannya pun layaknya seorang pengusaha di cerita cerita sinetron. Kelak, beliau pun akan menjadi bos besar di tempatku berkerja nanti.
Ketika aku mencium tangan pak Barata, beliau mengelus kepalaku lembut.
Dan ketika aku mencium tangan istri beliau, tak kusangka, bu Barata memeluk ku dan mencium kedua pipiku.
"Apa kabarmu sayang? Kamu yang keterima di barata grup?"
"Alhamdulillah baik bu. Iya, Ima yang melamar di Barata Grup"
"Jangan panggil ibu, mamah saja seperti Dewi dan Agung".
Aku hanya tersenyum menanggapi.
"Wah, wah. Ada udang di balik batu mamah ini"
Mas Agung dan Mbak Dewi tertawa. Pak Barata hanya tersenyum. Aku pun hanya diam karena tidak mengerti maksud perkataan mereka.
"Raima putri ke tiga saya".
Ayah memperkenalkanku pada Bapak dan ibu Barata.
"Kalo tentang Raima saya sudah sering dengar pak Rizwan, Ibu. Agung tu kalo ceritakan Raima tu kayak ngedongeng"
Mas Agung lagi lagi tertawa.
"Makanya saya ni penasaran mau liat Raima. Ternyata benar, anaknya manis gini. Pas jadi menantu mamah"
Lagi lagi mas Agung dan mbak dewi tertawa.
"Gak usah aneh aneh, Mah".
Mbak Dewi yang menanggapi mamahnya.
"Eh, siapa tau. Mana kita tau. Tunggu Dewa datang ya. Mamah kenalkan kalian nanti"
Aku lagi lagi hanya tersenyum.
"Siapa Dewa?"
Ayah kali ini yang bertanya.
"Putra bungsu kami pak Rizwan. Sekarang di luar negeri. Habis ambil S2 eh betah di sana. Kerja juga disana".
"Tapi sebentar lagi pulang. Katanya mau puasa di Indonesia. Papahnya juga sudah tua, mau menyerahkan semuanya ke Dewa. Sayang Dewanya masih betah di negeri orang".
Bu Barata menjelaskan tanpa di minta.
"Sudah mah, kamu menjelaskan seperti mau mengobral Dewa. Ketahuan anaknya, ngambek gak mau pulang lagi nanti".
Pak Barata membungkam mulut istrinya. Kami yang melihat hanya tersenyum.
Tak lama pintu kamar kembali terbuka. Uni Raisa masuk masih dengan pakaian pramugarinya.
Uni hanya tersenyum masuk tanpa salam.
"Ini putri tertua saya. Kakaknya Raima"
Ayah memperkenalkan Uni pada Ibu dan Bapak Barata.
Uni mengangguk ramah pada Mbak Dewi dan Mas Agung. Mendekati Bapak dan Ibu Barata dan mencium tangan mereka seperti yang kulakukan tadi.
Anehnya, tidak ada usapan di kepala Uni yang dilakukan oleh Pak Barata. Dan tidak ada pelukan dari Bu Barata buat Uni. Bahkan Bu barata mengijinkan saja Uni memanggilnya dengan sebutan tante.
Apa Mas Agung sudah menceritakan semua tentang Uni pada mereka. Sehingga mereka seperti bersikap antipati.
Dan juga apa mas agung sudah menceritakan tentang sakitku sehingga mereka merasa kasihan padaku?
Aku hanya bisa menarik nafas. Ada rasa tidak senang dan juga kecewa jika memang benar mereka hanya kasihan padaku.
"Uda keluar dulu ya, yah. Terlalu banyak orang di dalam".
"Ayo, Han. Aku juga mau keluar"
Uda berdiri bersama mas Agung. Aku tahu itu hanya alasan uda saja. Perang dingin antara uda dan uni masih berlanjut ketika kemarin di penginapan terjadi lagi episode yang kedua.
Uni datang kepenginapan bersama Fajar. Mungkin uni tidak menyangka jika ada Uda di penginapan. Episode sindir menyindir tahap kedua pun berlanjut.
Dan sepertinya hari ini pun Uda enggan untuk bertatapan langsung dengan Uni. Yang kata uda "Selalu emosi liat wajah gak bersalahnya. Padahal penuh dosa".
"Baru pulang flight, Sa?"
Pertanyaan mbak Dewi mengembalikanku ke dunia nyata.
"Belum mbak. Flight nya sore ini. Mampir liat ayah dulu sebelum terbang".
"Wah, kalo flight sore gitu. Balik lagi atau nginap di kota tujuan?"
Bu Barata kali ini bertanya.
"Nginap tante. Baliknya dengan flight besok sore".
"Oh, jadi sore ini gantiin yang akan datang gitu ya".
"Iya tante. Pramugari yang datang flight sore ini pulang. Kami yang menggantikannya sampai besok sore".
"Trus yang datang sore ini, off gitu?"
"Berangkat lagi di flight besok sore".
"Ooh, gantian gitu yaa".
Bu Barata manggut manggut tanda mengerti.
"Mamah nanya kayak wartawan"
Mbak Dewi tertawa kecil melihat tingkah mamahnya. Sedangkan pak Barata hanya diam tanpa ekpresi, tipe tipe laki laki cool begitu lah hehehe.
"Kepo mamah tu. Kan kehidupan pramugari itu katanya penuh dengan perselingkuhan. Apalagi mereka tu sering cinta lokasi gitu".
Aku sekilas berpandangan pada bunda. Kulihat uni duduk sambil meremas kedua tangan. Jari jarinya saling terkait.
"Insya Alloh, anak saya bisa menjaga diri, bu".
Ayah membela Uni, putri kesayangannya.
"Ya syukur alhamdulillah. Banyak rumor yang kurang baik tentang pilot dan pramugari. Ada yang narkoba lah. Selingkuh lah. Di rumah punya istri, di luar ngaku bujangan. Harus pinter pinter jaga diri ya Sa!"
Kulihat Uni hanya mengangguk kecil. Kata kata Bu Barata ini sebenarnya mewakili kata hatiku dan Bunda.
"Ayo mah, papah ada janji"
Pak Barata mengajak bu Barata untuk pamitan.
Kami semua lantas berdiri. Setelah bersalaman dengan ayah dan bunda. Bu Barata menghampiriku. Aku pun kembali mencium tangan beliau.
"Nanti main kerumah ya. Mamah masakin kue kue kering nanti"
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Tante pamit ya, Sa. Hati hati flightnya nanti"
Nah kan benar. Bu Barata menyebut dirinya mamah padaku, sedangkan pada uni, tetap dengan tante. Ini pertanyaan besar untukku.
"Mbak Dewi kasih orderan orang orang dulu boleh gak Ma? Dari pada gabut kan?"
"Boleh Mbak, sekalian Ima belajar"
"Kenapa Raima gak langsung masuk saja ,Wi?"
Suara Pak Barata kali ini kudengar.
"Kontraknya baru mulai lebaran nanti pah. Ngepaskan kalender. Dari pada nanti tepotong lebaran".
Pak Barata hanya mengangguk.
Aku dan Bunda mengantar Pak Barata, Ibu dan Mbak Dewi sampai di luar kamar. Uda pun langsung mencium juga tangan Bapak dan Ibu Barata. Sedangkan mas Agung mencium tangan bunda. Aku ikut mencium tangan Mas Agung yang sudah kuanggap seperti Uda.
"Jangan sungkan bilang ke kami kalo perlu sesuatu, han"
Pak Barata menepuk pundak Uda.
"Iya, pah. Raihan akan bilang".
"Ajak ayah, bunda kerumah nanti ya Han. Jangan langsung pulang. Nginaplah dulu di rumah".
"Siap mah. Titah ibu ratu tidak akan berani Raihan bantah"
"Kamu itu!".
Bu Barata memukul pundak Uda.
Mereka pun kembali berpamitan. Uda mengantar mereka sampai keparkiran. Hanya itulah alasan Uda yang enggan berada di ruangan yang sama dengan Uni.
Aku pun kembali masuk kedalam. Mengambil barang barang yang tadi kubawa. Dan kembali duduk di luar. Aku pun berpikir untuk berinteraksi sedikit mungkin dengan Uni. Bukan memihak Uda, aku hanya ingin Uni intropeksi diri. Bahwa banyak yang tidak suka dengan perbuatannya sekarang ini.
Dan semoga uni cepat menyadari kesalahannya.