Queen Rainbow

Queen Rainbow
Chapter Tiga



Terlihat gadis cantik sedang melamun di bahu jalan. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Tatapan matanya kosong memandang ke arah kendaraan yang berlalu-lalang.


Ckitt...


Gadis itu mengerjap-ngerjap matanya sambil memegangi dadanya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat kala melihat motor yang berhenti di depannya.


"Ck! Lo lagi ... lo lagi," ujar lelaki yang duduk di motor sport itu.


"Maaf," cicit gadis itu takut. Kepalanya menunduk tak berani menatap mata elang lelaki itu.


"Queen Rainbow, bisa gak lo jangan nyari masalah sama gue?!" ujar lelaki itu pada gadis yang bernama Queen Rainbow itu.


"Maafin Quera Kak Semesta," cicit Quera pelan. Jari-jari lentik gadis itu saling bertautan karena takut.


"Maaf aja terus sampai ******," sentak lelaki yang bernama Semesta itu. Matanya semakin menatap tajam gadis dihadapannya.


"Quera gak tau harus gimana lagi, Kak," lirih Quera sambil meremas rok abu-abunya. Kepalanya sedikit terangkat memberanikan diri untuk membalas tatapan Semesta.


"Gak sok drama! Jijik gue liatnya," decak Semesta dengan nada jengah.


"Lagian kenapa sih lo demen banget ngelamun di jalanan?!" lanjut Semesta sambil menaikkan alisnya sebelah.


"Quera cuma bingung harus kemana, makanya Quera selalu mikir dulu," jujur Quera sambil menatap mata elang Semesta.


"Ribet banget sih, lo! Nanti-nanti gak usah sok mikir lagi," cibir Semesta yang membuat Quera mengerucutkan bibirnya.


"Ish! Kak Semesta ngeselin! Quera itu suka bingung mau kemana, ke panti atau pergi nyari tempat kost biar bisa mandiri," ujar Quera jujur.


"Ikut gue!" perintah Semesta pada Quera. Quera mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Ikut ke mana?" tanya Quera polos. Semesta berdecak sebal dengan tingkah gadis di hadapannya ini.


"Katanya lagi nyari tempat kost," cibir Semesta yang langsung diangguki Quera.


"Tapi, uang Quera belum cukup buat bayar kost," jujur Quera lagi. Semesta kembali berdecak kesal.


"Ikut gue!" ulangnya lagi, Quera menurut lalu naik ke motor sport Semesta.


"Setelah ini awas kalau lo masih suka ngelamun di jalanan," tegas Semesta sambil melirik Quera dari kaca spion. Quera hanya mengangguk seraya menampilkan senyum manisnya.


"Iya, Quera janji," ujar Quera masih dengan senyum di bibirnya.


Setelah itu motor Semesta membelah jalan ibu kota yang padat. Tiga puluh menit berselang akhirnya mereka sampai di Apartemen elit milik Semesta.


"Kak Semesta mesum," pekik Quera tepat ditelinga Semesta.


"Mesum? Maksud lo apa sih?" Jengah Semesta pada gadis didekatnya.


"Maksud Kak Semesta apa coba bawa Quera ke Hotel?! Quera emang gak punya uang tapi, Quera gak mau berbuat maksiat," pekik Quera lagi yang membuat Semesta ingin tertawa terbahak-bahak.


"Hotel? Norak banget sih lo, ini tuh Apartemen bukan Hotel!" jelas Semesta seraya menyentil dahi Quera. Quera menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahnya memerah karena malu.


"Itu otak jangan banyak nethink sama orang, banyakin posthink!" tegur Semesta. Lalu pintu Apartemen terbuka, Quera berdecak kagum saat melihat isi Apartemen Semesta.


Ruang tamu yang didominasi warna abu yang tampak sangat elegan, ditambah dengan furniture yang tampah mewah. Quera tak henti-hentinya berdecak kagum, Semesta hanya melihat Quera datar.


"Jangan norak!" Sinis Semesta yang membuat Quera menggembungkan pipinya.


"Iya, Kak Semesta ngapain ngajak Quera ke sini?" tanya Quera sambil menatap mata elang Semesta.


"Lo bisa tinggal disini sampai lo punya cukup uang buat nge-kost," jawab Semesta lalu membaringkan dirinya di sofa.


"Bareng Kak Semesta?" Semesta menatap datar ke arah Quera.


"Ya nggak lah," ucap Semesta dingin. Quera mengangguk-anggukan kepalanya.


"Makasih, Kak Semesta," ujar Quera seraya tersenyum manis. Semesta hanya mengangguk.


"Emm ... Kak Semesta kok baik banget, sih," ujar Quera ragu-ragu.


"Hmm. Jangan lupa nanti malam lo masak, gue mau makan disini," balas Semesta datar. Quera kembali menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Mau dimasakin apa?"


"Terserah," jawab Semesta acuh.


"Tempe goreng mau?" tanya Quera hati-hati. Semesta memandang Quera yang terlihat takut.


"Terserah asal rasanya enak, awas aja kalau gak enak."


"Pijitin kaki gue!" titah Semesta sambil menyelonjorkan kakinya.


"Ini tugas pertama lo jadi babu gue," lanjut Semesta datar.


Quera menurut dan memulai memijit kaki Semesta. Semesta memandangi Quera yang tampak sangat telaten memijit kakinya. Seperkian menit Semesta terhanyut dalam aktivitasnya memandangi Quera. Quera yang sadar dipandangi oleh Semesta pun membalas pandangannya.


Deg!


Mata mereka beradu pandang cukup lama, hingga Semesta memutuskan pandangannya dari Quera.


Jantung Quera mendadak berpacu dua kali lebih cepat, pipinya memanas menahan rasa malu dan baper. Semesta menggaruk tengkuknya salah tingkah. Semesta akui bahwa Quera itu cantik dan imut. Kulit seputih susu, rambut panjang yang digerai, bibir merah tipis, mata yang agak bulat mampu menghipnotis Semesta.


Tring ...


Bel Apartemen Semesta berbunyi, dengan segera Semesta membuka pintu Apartemennya. Sosok laki-laki dengan hoodie hitam memasuki unit Apartemen Semesta. Pandangan lelaki itu menyapu seluruh isi Apartemen Semesta, hingga pandangannya berhenti pada gadis yang duduk di sofa.


"Queen Rainbow?" gumam lelaki itu berjalan ke arah Quera. Quera mendongakkan kepalanya melihat ke arah lelaki yang baru datang ke Apartemen Semesta.


"Kak Alam," ujar Quera sambil menatap mata Alam.


"Hai!" sapanya seraya tersenyum manis, Quera membalas senyum Alam ramah.


"Ngapain sih lo ke sini?!" tanya Semesta yang malas menatap sosok Alam.


"Kenapa? Gak boleh gue ke sini?!" balas Alam sewot. Semesta berdecak kesal seraya memalingkan wajahnya dari Alam.


"Eh, kalian ngapain di Apartemen berduaan?! tanya Alam yang sadar dengan situasi saat ini.


"Jadi orang kepo banget, sih," decak Semesta menatap jengah ke arah Alam.


"Ta, gue tanya lo habis ngapain? Jangan-jangan—"


"Gak usah berpikiran kotor," potong Semesta menatap sengit Alam.


"Terus kalau bukan 'abis itu' terus abis apa?" tanya Alam ambigu. Semesta menoyor kepala Alam karena kelewat kesal.


"Yang sopan dong, Ta. Gue ini abang lo," ujar Alam pada Semesta.


"Ying sipin ding, Ti. Gii ini ibing li," ujar Semesta menye-menye.


"Dasar adek gak ada akhlak!" maki Alam pada Semesta.


Setelah perdebatan tadi Alam kembali mengalihkan atensinya kepada Quera. Gadis itu tampak berkaca-kaca melihat tingkah Alam dan Semesta. Perlahan Alam mendekat ke arah Quera lalu duduk disampingnya.


"Are you okay?" tanya Alam pada Quera. Quera menganggukkan kepalanya. "I'm okay," jawab Quera.


"Terus kenapa mata lo berkaca-kaca gini?" tanya Alam lagi.


"Quera cuma terharu aja liat kalian dekat banget, Quera juga pengen cuma kakak atau adik," jawab Quera lalu mengusap matanya yang sedikit basah.


"Minta aja sama bokap nyokap lo kalau lo pengen punya adik," ujar Alam yang mendapat gelengan dari Quera. Alam yang tak tahu tentang kehidupan Quera pun merasa bingung.


"Kenapa?"


"Quera dari kecil tinggal di panti jadi, Quera gak tau siapa mamah atau papah Quera," jawab Quera yang terdengar menyedihkan.


"Sorry, gue gak tau," sesal Alam lalu menggenggam tangan Quera.


"Gapapa, Kak Alam."


"Lam, itu tangannya." Semesta menunjuk tangan Alam dengan dagunya.


"Kenapa lo cemburu?" tanya Alam sewot.


"Dia itu babu gue jadi, lo gak berhak pegang-pegang dia," jawab Semesta datar.


"What the—"


"Sssst ... jangan ngomong lagi, Lam. Suara lo kayak toa masjid," peringat Semesta pada Alam. Wajah Alam berubah merah menahan marah karena sikap tak terpuji adiknya.


**TBC❤️


Jangan lupa Like, Vote, Rate, and Comment!


I Love You Readers...


—Bilaa**.