Queen Rainbow

Queen Rainbow
Chapter Dua



Semesta Bratajaya adalah anak kedua dari pasangan Bumi Bratajaya dan Bulan Gemintang. Sifat Semesta dan Alam ibarat kutub magnet yang saling tolak menolak. Sifat Alam yang ramah, pintar, dan baik sangat berkebalikan dengan sifat Semesta yang tempramen, sering bolos, dan begajulan.


Alam terkesan rapi sedangkan Semesta terkesan sangat acak-acakan. Dinilai dari ketampanannya, Semesta lebih unggul dibandingkan Alam.


***


Kring...


Bel istirahat sudah berbunyi, semua siswa-siswi yang sedang menjalani MPLS pun segera berhamburan mencari tempat yang teduh. Seperti Quera saat ini, gadis itu duduk di bangku yang dipayungi pohon rindang. Helaian rambutnya beterbangan diterpa angin, Quera membuka kotak bekalnya. Nasi, tempe, dan tahu adalah makanan yang Quera bawa hari ini.


"Boleh ikut duduk?" ujar seseorang yang membuat Quera terkesiap. Netra coklat Quera memandang lelaki yang berada di sebelahnya.


"Kak Alam?"


"Apa?" balas Alam datar. Quera segera mengalihkan pandangannya dari Alam.


"Kenapa gak ke kantin?" tanya Alam pada Quera, Quera kembali mengalihkan pandangannya kepada Alam.


"Gak papa, Quera lebih senang sendiri aja," ujar Quera sambil tersenyum manis ke arah Alam. Dada Alam bergemuruh, jantungnya memompa dua kali lebih cepat.


"Jadi, lo gak seneng gitu kalau ada gue disini?" tanya Alam datar. Quera menggeleng. "Quera seneng kok ada Kak Alam disini, malahan Quera bersyukur bisa deket-deket cogan," ujar Quera keceplosan.


Alam terkekeh geli dengan apa yang diucapkan Quera. Quera menutup mulutnya dengan tangan. Wajahnya memerah karena malu.


"Gue pikir lo cewek polos nyatanya lo sama aja kayak cewek lain," ucap Alam lalu kembali terkekeh.


"Quera gak mau munafik, Kak. Quera bukan cewek suka caper yang pura-pura polos demi deketin cowok," kata Quera. Alam melengkungkan senyumnya.


"Good!" puji Alam lalu mencubit pipi Quera. Quera meringis karena cubitan Alam di pipinya.


"Gue pergi dulu, ya. Jangan lupa makan yang banyak soalnya kan mau dijemur lagi," ujar Alam yang langsung melangkah pergi. Quera menggembungkan pipinya lalu kembali melalukan aktivitas yang tertunda tadi.


***


"Semesta lo telat lagi?" tanya Langit—sahabat Semesta.


"Iya, males gue kalau harus datang pagi-pagi," ujar Semesta sambil menyugar rambutnya


"Gak berubah-berubah lo, Ta," ujar Langit seraya terkekeh.


"Lang, gue lagi nyari cewek, lo bisa bantu gue cari tuh cewek," ujar Semesta yang membuat Langit bingung.


"Lo doyan cewek?" Pertanyaan tak penting itu tiba-tiba keluar dari mulut Langit. Semesta menoyor kepala Langit.


"Lo kira gue homo gitu?" tanya Semesta menajamkan tatapannya pada Langit.


"Iya, gue kira lo belok," jawab Langit yang kembali mendapat toyoran dari Semesta.


"Otak lo yang belok."


"Jahat banget sih, lo. Btw gimana ciri-ciri tuh cewek?" tanya Langit pada Semesta. Semesta menyunggingkan senyum miring yang membuat Langit bergidik ngeri.


"Namanya Queen Rainbow, tingginya cuma se-dagu gue, kulitnya putih, rambutnya panjang, hidungnya mancung kecil, bibirnya merah merona," jelas Semesta yang membuat Langit membayangkan gadis itu.


"Cari dia terus bawa dia kehadapan gue, mau gue kasih perhitungan," lanjut Semesta yang membuat Langit mengernyitkan dahinya.


"Dia cewek yang udah nabrak gue seminggu yang lalu," ujar Semesta, Langit mengangguk paham.


"Dia sekolah dimana?" tanya Langit. Semesta menjentikkan jarinya. "Bratajaya," jawabnya.


"Lagi ngomongin apaan, nih?" tanya seorang lelaki yang baru saja datang.


"Lagi ngomongin cewek," ujar Langit pada lelaki itu. Lelaki itu menaik-turunkan alisnya.


"Sama gue juga mau ngomongin cewek,"balas lelaki itu pada Langit. Semesta menatap kedua sahabatnya itu datar.


Semesta mengalihkan kembali perhatiannya pada kedua sahabatnya. Semesta mengernyitkan dahinya, "apa dia udah sepopuler itu?" gumam Semesta pelan.


"Itu cewek yang diincer Semesta," jawab Langit pada lelaki itu.


"Serius lo?"


"Iya, Semesta yang ngomong sama gue langsung," jawab Langit sambil melirik Semesta.


"Beneran itu, Ta?" tanya Mars—lelaki yang berbincang dengan Langit.


"Dia terkenal?" Semesta malah balik bertanya kepada Mars.


"Kayaknya sih iya, apalagi dia deket sama Kakak lo," jawab Mars santai, kemudian duduk didekat Langit.


"Dia deket sama Alam?" beo Semesta yang diangguki oleh Mars.


"Iya, tadi pagi dia berangkat bareng terus pas acara MPLS tadi dia mesra-mesraan sama Alam, barusan juga gue lewat taman liat mereka berdua lagi ngobrol sambil ketawa-ketiwi," jelas Mars. Semesta mengerutkan keningnya, sejak kapan Alam kenal dengan cewek itu?


"Ta, Lang, kantin, yuk!" ajak Mars beranjak berdiri yang diikuti oleh Langit. Mereka menatap Semesta yang masih diam duduk di kursinya.


"Kalian duluan aja, pesenin gue bakso, gue ada urusan bentar." Semesta memerintah kedua sahabatnya. Langit dan Mars mengangguk patuh. Mereka berdua kemudian meninggalkan Semesta seorang diri.


***


"Mau bunuh diri lo?" bentak seorang lelaki pada Quera. Quera mendongakkan kepalanya melihat lelaki itu. Mulut Quera terbuka saat melihat lelaki itu.


"K-kak Semesta," gumam Quera yang masih bisa didengar oleh Semesta. Senyum miring Semesta jelas sangat dilayangkan untuknya.


"Bagus lo udah tahu nama gue, masih inget perkataan gue tempo hari?" tanyanya lagi sambil menaik-turunkan alisnya.


"M-masih," jawab Quera gugup. Manik mata Semesta tak berpaling sedikitpun dari Quera. Quera menelan salivanya, jantungnya sudah berdetak tak karuan.


"So, gue bakal kasih perhitungan sama lo. Pasti lo udah tahu dong kalau gue anak pemilik sekolah ini," ucap Semesta pada Quera. Quera mengangguk pasrah.


"Angkat kaki dari sekolah ini sekarang juga!" tegas Semesta. Quera tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Perlahan buliran bening itu merembes ke pipinya. Bibirnya masih terkatup rapat belum bisa mengucapkan apapun. Semesta melihat itu, melihat pipi Quera yang sudah basah oleh air mata. Tak ada suara isakan yang keluar dari bibir merah Quera, hanya air mata yang terus merembes membasahi pipinya.


"Ck! Gak usah pake acara nangis-nangis segala," decak Semesta yang merasa tersinggung dengan air mata Quera.


"Apa susahnya sih tinggal cari sekolah lain? Lagian lo pasti anak orang kaya, kan?" lanjut Semesta yang mendapat gelengan dari Quera. Semesta mengerutkan keningnya bingung, tatapan matanya tak pernah lepas dari Quera.


"Quera anak beasiswa, Quera gak punya ayah atau ibu, Quera cuma punya ibu panti," jelas Quera membalas tatapan Semesta.


"Tolong jangan keluarin Quera dari sini! Quera gak punya uang buat lanjutin sekolah," lanjutnya sambil menyeka air matanya.


"Gak akan luluh gue sama lo," ujar Semesta sadis.


"Lagian lo tuh gak penting buat gu—" ucapan Semesta terpotong oleh Quera. "Di dunia ini emang gak ada yang pernah anggap Quera penting selain ibu panti dan anak-anak panti, tapi Quera mohon jangan keluarin Quera dari sekolah ini," mohon Quera lalu terduduk lemas ditanah. Kalau dirinya dikeluarkan dari sini maka impiannya pun tak akan pernah terwujud.


"Bangun!" titah Semesta pada Quera yang menunduk. Quera seolah tuli dengan perintah Semesta. Semesta berjongkok menyamakan posisinya dengan Quera. Dipegangnya bahu Quera lembut, tangannya membenarkan tatanan rambut Quera yang beterbangan diterpa angin. Diangkatnya dagu Quera oleh Semesta. Netra coklat Quera terfokus pada manik mata Semesta yang menatapnya dalam.


"Jangan nangis lagi, gue gak akan ngeluarin lo dari sekolah ini, asal lo harus mau jadi babu gue," ujar Semesta pada Quera. Quera tanpa berpikir lagi langsung menganggukkan kepalanya.


Semesta membantu Quera berdiri. Manik matanya tak lepas dari gadis cantik di depannya.


"Mulai besok lo jadi babu gue!" perintah Semesta kemudian berlalu pergi.


TBC❤️


Jangan lupa tinggalkan jejak dan krisarnya juga❤️🤗


—Bilaa