Queen Rainbow

Queen Rainbow
Chapter Satu



Masa putih-biru telah usai diganti dengan masa putih-abu. Quera menatap penampilannya di cermin. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya hanya ditaburi bedak bayi, dan sedikit polesan lipbalm di bibirnya.


"Sempurna," gumam Quera melihat pantulan dirinya di cermin. Gadis cantik itu menyunggingkan senyum yang sangat manis. Lalu beranjak pergi dari kamarnya.


"Selamat pagi, Bu," sapa Quera pada Ibu panti yang mengurusnya dari kecil.


"Pagi juga sayang," balasnya sambil mengecup kening Quera.


"Quera pergi sekolah dulu, ya, Bu," pamit Quera kemudian menyalami tangan wanita paruh baya itu. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat pada Quera.


"Semangat sekolahnya, semoga sukses dan gak ada kendala," ujar wanita paruh baya itu, Quera menerbitkan senyumnya ketika mendengar ucapan ibu panti.


"Makasih, Quera sayang ibu," ujarnya kemudian memeluk wanita paruh baya itu.


"Ibu juga sayang kamu," balas ibu panti itu sambil mempererat pelukannya.


****


SMA Bratajaya adalah SMA swasta elit yang banyak diidamkan para siswa-siswi yang baru lulus masa putih-biru. Dan Quera sangat beruntung mendapatkan beasiswa di sana. Pagi ini cuacanya cerah, jalanan ibukota pun sudah dipadati oleh kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Quera diam dipinggir jalan menunggu angkot lewat.


Rambutnya beterbangan diterpa angin pagi, kulitnya yang seputih susu terlihat sangat bercahaya. Pandangan Quera berhenti pada sosok lelaki yang mengendarai motor sport berhenti di depannya.


"Mau bareng? Anak SMA Bratajaya, kan?" tawarnya sambil tersenyum manis. Ah, jantung Quera rasanya sedang berdisko. Wajah tampannya nampak tak asing di penglihatan Quera.


"Hei, mau bareng gak?" tawarnya lagi sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Quera. Quera mengerjapkan matanya beberapa kali. Pesona lelaki itu sungguh tak dapat dibantahkan.


"Boleh," jawab Quera sambil tersenyum manis. Tangan lelaki itu terulur untuk membantu Quera naik ke atas motornya. Dengan senang hati Quera menerima uluran tangan itu.


"Makasih," ucap Quera yang dibalas anggukan oleh lelaki itu. Motor sport lelaki itu melesat membelah jalanan ibukota yang sudah padat.


"Nama lo siapa?" tanya lelaki itu sambil melirik Quera dari spion.


"Queen Rainbow biasa dipanggil Quera," jawabnya yang langsung diangguki oleh lelaki itu.


"Namanya cantik secantik orangnya," ujarnya yang membuat Quera tersipu. Memori Quera kembali melayang pada pertemuannya dengan lelaki yang menyebut namanya aneh. Wajah tampan yang terpahat sempurna itu membuat Quera candu.


"Gak usah baper dulu, belajar yang bener!" kata lelaki itu yang fokus pada jalanan.


Quera mengangguk. "Iya siap, Kak."


Lelaki itu tersenyum dengan sifat Quera yang humble. Jika ada yang berpikiran Quera adalah gadis polos tentu itu salah. Quera sama seperti gadis kebanyakan yang mengalami masa pubertas.


15 menit berlalu, akhirnya mereka sampai diparkiran SMA Bratajaya. Suara-suara teriakan mulai memenuhi indra pendengaran Quera.


"KAK ALAM KAPAN JADI PACAR AKU?"


"KAK ALAM MAKIN HARI MAKIN GANTENG AJA."


"KAK ALAM KAPAN AKU DIBONCENG KAK ALAM?"


"KAK ALAM I LOVE YOU."


"KAK ALAM CALON IMAMKU."


Teriakan para fans dari Alam itu terdengar bersahut-sahutan.


"Oh, jadi namanya Kak Alam," gumam Quera seraya melirik Alam yang tengah membenarkan tatanan rambutnya yang sedikit acak-acakan.


Wajah Alam sungguh sangat sempurna. Rahang kokohnya terlihat sangat berkarisma, alis tebalnya sungguh sangat menawan, ditambah bibirnya yang terlihat sangat menggoda. Quera menelan salivanya ketika melihat Alam dari dekat.


"Alam Bratajaya, panggil aja Alam," ujarnya yang langsung melenggang pergi dari hadapan Quera.


Quera mematung ditempatnya. Wajah Alam sungguh sudah menjadi candu baginya. Quera mengucap syukur karena bisa sekolah disini dan bertemu para cogan tentunya.


****


07.45


Sudah lima belas menit lamanya para siswa-siswi baru SMA Bratajaya berbaris di lapangan. Para siswa-siswi itu sudah memakai seragam lengkap Bratajaya, tak ayal tadi Alam bisa mengenali Quera sebagai anak Bratajaya. Sambutan-sambutan yang sangat membosankan harus mereka dengarkan. Tak ada yang istimewa di acara MPLS hari pertama sebelum sang ketua osis datang.


"Perkenalkan nama saya Alam Bratajaya, saya ketua osis disini sekaligus anak pertama dari pemilik sekolah ini," ujarnya yang langsung mendapat tepuk tangan yang riuh.


Quera menganga tak percaya. "Anak pemilik sekolah?" tanya Quera cengo.


"Iya," sahut gadis disampingnya. Quera menoleh ke arah gadis itu seraya tersenyum ramah.


"Antartica Athasia panggil aja Tica," ujar gadis itu memperkenalkan diri.


"Queen Rainbow panggil aja Quera," balas Quera dengan senyum yang tak pernah luntur.


"Namanya cantik secantik orangnya," puji Tica yang membuat Quera merasa dejavu. Kalimat itu adalah kalimat yang diucapkan Alam tadi pagi, bukan?


"Makasih." Mereka berdua kembali fokus pada Alam yang mulai membeberkan acara-acara yang akan dilakukan di MPLS.


"Untuk hari ini kita akan bermain game gombalin kakak osis," ujar Alam yang membuat siswa-siswi berteriak kegirangan. Berbeda dengan Quera yang bingung harus ngegombalin siapa?


"Pemain pertama adalah Queen Rainbow dengan saya sendiri," ujar Alam lagi yang langsung membuat Quera cengo.


Quera menunjuk dirinya tak percaya, Antartica mengangguk.


"Sekali lagi untuk Queen Rainbow silahkan maju ke depan barisan," perintah Alam. Quera melangkah dengan gugup. Tangannya gemetaran, jantungnya pun sudah tak karuan. Malu, satu kata yang menceritakan perasaan Quera saat ini.


Semua mata langsung tertuju pada Quera. Pandangan kagum dari kaum adam jelas sangat dilayangkan untuknya. Rambutnya yang digerai indah, kulitnya yang seputih susu, bibirnya yang merah menggoda, sungguh sangat menyejukkan mata.


"GILA CANTIK BANGET."


"AUTO JADIIN GEBETAN INI MAH."


"NENG JADIAN, YUK!"


"NENG MASIH JOMBLO APA UDAH ADA PAWANGNYA?"


"NENG MAU GAK JADI PACAR ABANG?"


Sorakan-sorakan itu memekakkan telinga Quera. Alam mengintruksikan kepada semuanya untuk diam. Hening, hanya terdengar suara langkah Quera yang mulai mendekat ke arah Alam. Saat jaraknya dengan Alam tinggal dua langkah lagi Quera malah tersandung yang mengakibatkan dirinya bertabrakan dengan dada bidang Alam.


"Lain kali hati-hati," ujar Alam sambil membenarkan posisi Quera. Wajah Quera sudah memerah menahan malu.


"DEDE BAPER BANG."


"DEDE JUGA PENGEN DIGITUIN DONG!"


"DEDE KAPAN BANG?"


"SYIRIK DEDE SAMA DIA."


"BANG TANGGUNG JAWAB, GUE BAPER NIH!"


Ricuh, semua heboh dengan apa yang dilihatnya barusan. Quera menutupi wajahnya dengan tangan.


Mimpi apa semalam sampai bisa kejadian gini, batin Quera bersuara.


"Woy, berisik!" teriak seorang lelaki dari lapangan basket. Semua siswi langsung mengalihkan pandangannya ke arah lelaki itu. Tampan, satu kata untuknya. Lelaki itu sedang berlari mengelilingi lapangan, keringat yang bercucuran dari pelipisnya yang semakin menambah kesan seksi. Baju seragam yang dikeluarkan dan dua kancing atas yang dibuka menampakkan dada bidangnya, rambutnya yang acak-acakan semakin menambah kesan badboy pada dirinya.


"Adik lo dihukum lagi, Lam," ujar salah satu osis. Alam menganggukkan kepalanya. Quera langsung mengalihkan pandangannya ke arah lelaki itu. Mata Quera membulat sempurna ketika melihat lelaki itu, lelaki yang pernah bertabrakan dengannya tempo hari.


Quera menepuk jidatnya frustasi. "Mati aku," gumamnya. Alam melirik ke arah Quera yang tampak gelisah setelah melihat adiknya.


"Dia Semesta Bratajaya, adik gue yang terkenal badboy. Jadi, gue harap lo gak usah berhubungan sama dia atau lo bakal kena masalah," peringat Alam pada Quera. Quera mengangguk pelan, dirinya merutuki Alam yang telat memperingatkannya.


Aku udah ada masalah lagi sama dia, batin Quera menjerit.


TBC❤️


Mau tau kelanjutan kisahnya?


Jangan lupa tinggalkan jejak! Tolong juga kasih krisarnya🤗