PSYCHOPATH

PSYCHOPATH
Pysicopath 4



John dengan perasaan takut memasuki ruangan begitu gelap dan terdapat satu lapangan yang sangat luas dan beberapa orang bertanding dengan lawan yang sangat banyak, postur tubuh mereka semua sangat bagus dengan gagah dan tinggi serta gerakan yang lincah. Joe berpikir keras kenapa ayahnya membawa ke tempat seperti ini.


"Hy bro, kenalakan ini jagoan gue john" sambil menyombongkan kepada teman temannya.


"cukup tampan dan sempurna, namun apakah bocah tengil seperti dia berani melawan kita" dengan tertawa sinis.


"Anda jangan menyepelekan keilmuan saya, jika anda mau melihat kemampuan saya. Ayo satu lawan satu"


"Hahaha bocah bodoh, kalau satu lawan satu kamu bermain saja dengan sasakmu yg jelek" dengan mengejeknya.


"Kalian jangan menyepelekan anak saya, John jika kamu bukan pecundang sihlahkan kamu naik ke ring pertandingan dan lawan 5 orang tersebut" dengan tatapan tajam karena ia tidak ingin anaknya membuatnya malu dihadapan teman-temannya.


"Tapi ayah, bagaimana mungkin aku melawan mereka, Aku tidak akan sanggup" ucap John ingin pergi meninggalkan tempat tersebut


"Jika kamu tidak kembali dan bertanding maka aku tidak akan menganggapmu anak lagi, Pengecut!! "dengan wajah yang merah padam bagaikan mengebu-gebu.


"Baiklah aku akan membuktikan padamu yah, bahwa aku bukanlah laki laki pengecut. ini hanya terjadi 1 kali seumur hidupku dan jika aku mati tolong jaga ayah dan ibuku ********" dengan tangan mengepal dan kesal.


John menaiki ring pertandingan dengan santai dan memainkan gerakan awalan untuk melihat gerak gerik lawannya agar dapat dijatuhkan dalam sekali perlawanan. dengan gerakan yang lincah dan terlatih dalam waktu 10 menit john bisa mengalahkan ke lima pemuda berbadan gagah dan seram pandangannya.


prok.. prok... prok...


suara tepuk tangan sangat menggebu di dalam ruangan dan semua terpukau dengan keahlihannya.


"Maksudmu? maaf aku tidak berminat, Ayah sebaiknya kita pulang. "John menarik tangan ayah.


"Oke hati hati,ingat jangan lupa tawarannya Velix" temannya sambil melambaykan tangan.


perjalanan mobil yang cukup menengangkan dan tiba tiba ayahnya menghentikan mobil tersebut.


"Ada apa yah? " dengan tatapan heran


"Ayah akan menjadikanmu kapten Mapia dan kamu tidak bisa menolak karena masuk ke dalam golongan mereka bukanlah hal mudah" dengan tatapan marah.


"Ayah aku bukanlah Anjing yang bisa kamu ikat dan kamu lepaskan, biarkanlah aku mengurus jalan hidupku sendiri dan mengapa tidak ayah saja yang masuk ke golongan hitam. " dengan nada kecewa


"Ayah tidak ingin ada penolakan" dengan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Kejadian tersebut membuat John menjadi sosok pendiam dan jarang berkomunikasi, Adiknya Jonatan selalu merasa iri dengan ayahnya yang selalu menjadikan kakaknya nomor satu dan aku merasa dilupakan, John selalu ayah ajak jalan jalan keluar namun aku adalah anak yang tidak dianggap itu adalah pemikiran Jonatan. Natan selalu kesal dengan kakaknya yang diperlakukan istimewa padahal sebenarnya batin John sangat tersiksa namun ia tidak bisa berbuat apa apa.


"Jika kamu tidak mau mengikuti perintah ayah, jangan salahkah ayah jika kamu kehilangan ibumu"


" Ayah sangat kejam, Ayah tidak sayang kita semua lagi" kesal John dan marah atas perlakuan Ayahnya.


"Pengorbanan aku begitu pahit setiap waktu aku harus berkelahi bertaruh nyawaku untuk menghasilkan uang yang banyak dan adiiku yang selalu menggapku oramg yang disayang ayahnya namun semua itu hanya rasa sakit yang ia dapatkan. "