
Kediaman Istana Kerajaan Bata
Di ruang keluarga istana duduk Nyonya muda Shin sedang meminum segelas teh yang hidangkan di atas meja, ia melihat Pangeran Han datang berjalan, lalu gelas yang dipegangnya kemudian ditaruh di atas meja, ia memanggil Pangeran lalu menyuruhnya untuk duduk di dekatnya.
"Pangeran!" Panggil nyonya muda Shin
Pangeran yang mendengar suara nyonya muda mengarahkan pandangannya lalu menundukkan badan ke arah nyonya muda
"Ada apa yang mulia nenek memanggil saya?" tanya Pangeran Han kemudian menundukkan kepalanya
"Bangunlah, duduk di dekat Nenek ada yang ingin Nenek sampaikan kepadamu"
Pangeran berjalan menuju ruang keluarga dan duduk di sofa dekat Nyonya muda
"Begini kamu kan sudah tau ayahmu Raja Haning memiliki sahabat kecil yaitu Raja Hunang. Nenek, ayah, dan ibumu sepakat untuk menjodohkanmu dengan Putri Raja Hunang" ujar Nyonya Shin kepada Pangeran dengan tatapan serius
"Dijodohkan?," bentakan Pangeran dengan keras sehingga menbangunkan Ratu Elis yang sejenak menikmati tidur pulasnya.
Ratu Elis terbangun karena terkejut mendengar suara keras dari luar, ia bangun dan beranjak dari tempat tidur, ia kemudian berjalan keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi
"Oh salam Yang mulia Nyonya Shin saya kira anda tidak berada di luar, saya mendengar suara bentakan keras dari luar entah apa itu" Ucap Ratu Elis menggarut kepalanya dan menatap keluar
"Oh, haha kamu sudah bangun sini duduk di dekat Ibu"
"Eh apa ini, lagi berkumpul tidak mengajak. Kalian sedang membicarakan tentang apa?" tanya Ratu Elis berjalan dan duduk di sofa
"Ah itu Yang mulia Ibu..." sejenak terpenggal oleh Nyonya muda Shin
"Jadi begini Pangeran tidak ingin dijodohkan dengan Putri dari Raja Haning" tutur Nyonya muda Shin
"Apa? Uhuk uhuk" teriak Ratu Elis dan batuk tanpa sengaja
"Yang mulia ibu tidak apa-apa? Tadi Yang mulia Nenek salah paham kalau Aku tidak ingin dijodohkan tapi tadi Aku belum jawab Yang mulia Nenek sudah tarik kesimpulan jadi Aku akan bersedia menikah." ucap Pangeran mengelus leher Ibunya yang masih batuk
"Jadi kamu betul-betul ingin dijodohkan?" tanya Nyonya muda Shin dengan penuh semangat
"Iya Yang mulia Nenek saya bersedia," jawab Pangeran sambil tersenyum
"Tidak ada cara lain selain menyakinkan Ibu, Aku tidak ingin Ibu sakit-sakitan lagi sudah cukup" suara batin panwgeran Han
"Kalau begitu nanti Nenek akan sampaikan kepada Ayahmu, kemudian dia akan memberitahukannya kepada sahabat kecilnya Raja Hunang" kata Nyonya muda Shin
Pangeran yang hanya mendengar ucapan Nyonya muda Shin hanya tersenyum dan mengangguk seakan-akan menjadi seorang manusia penurut tak ada yang pernah tau isi hati Pangeran. Dia sedang kenapa, saat ini prinsip dalam hidupnya senyum adalah obat dari segalanya
Kediaman Raja Hunang
"Apa? menikah? Tidak, tidak saya tidak mau. Kemarin Yang mulia mengizinkan saya untuk mencari pasangan sendiri tapi justru dijodohkan." keluh putri Khaning
"Putri Khaning dengarkan ayah dulu, pangeran yang akan kamu nikahi ini bukan pangeran sembarangan dia sangat berbeda. Ayah tak salah pilih untukmu, dia Putra mahkota terkenal dengan seluruh bakat atlet dalam dirinya dan kepopuleran ketampanan serta sifat dingin tak banyak dimiliki oleh orang lain. Dia sangat cocok denganmu dia akan menerimamu apa adanya," ucap raja Hunang
"Apakah benar dia akan menerima diriku apa adanya?. tidak mungkin. Aku tetap tidak ingin menikah dengannya, aku sendiri yang akan memilih pasangan hiduoku." protes putri Khaning kepada yang mulia raja Hunang
"Mm..bagaimana kalau kita bikin perundingan, kamu tetap jadi Putri cupu yaitu Putri Dianra cari identitasnya lalu uji dia. Apakah dia memandang seorang Putri dari sifatnya atau kecantikannya kalau kamu menang kamu bebas memilih pasangan hidupmu tapi kalau kamu kalah, kamu harus menikah dengannya sepakat?" sahut raja Hunang sambil memberikan tangannya sebagai tanda saling sepakat.
"Sepakat." ujar putri Khaning membalasnya dengan mengajukan tangannya dan tersenyum
"Eits tapi Ayah akan mengirim mata-mata untuk selalu mengikutimu saat kamu menguji Pangeran itu sebagai pembuktian dari kesepakatan kita berdua." tutur Raja Hunang
"It's oke, saya terima" kata Putri Khaning