
Brian mengurung dirinya didalam kamar. Ia bahkan mengabaikan panggilan dan ketukan pintu dari luar. Perkataan ayahnya selalu terngiang di kepalanya.
"Jangan jadi pria badjingan, Brian. Kalau kamu mencintai Vera dan menginginkannya seharusnya kamu bisa menahan diri untuk tidak menodai Shavana."
Brian berani bersumpah bila tidak ada sedikitpun niat dihatinya untuk menghianati Vera apalagi menodai Shavana. Sungguh semua ini adalah musibah baginya.
Disaat masih termenung tiba-tiba ponselnya berdering membuat pria itu segera melihat siapa yang menghubunginya. Raut kecewa nampak jelas di wajah Brian karena yang menghubunginya bukan seseorang yang sedang ia nantikan.
Dengan malas ia pun menjawab panggilan telepon tersebut.
"Halo."
"Ian, lu udah tahu belum kalau Vera mau ke London?" tanya Ken dari sebrang telepon.
"What! Ke London?!" Brian terkejut bukan main. Ia bahkan langsung menegakkan tubuhnya yang tadi sedang berbaring.
Sejak tadi ia terus menghubungi Vera untuk menjelaskan kesalah pahaman ini. Ia tidak menghianati Vera. Ia juga ingin Vera memberinya kesempatan kedua untuk melanjutkan hubungan mereka namun panggilan teleponnya sama sekali tidak mendapat jawaban.
"Lihat dari reaksi lu kayaknya lu belum tahu," ucap Ken.
"Iya gue belum tahu. Kapan dia berangkat, kenapa lu baru ngasih tahu gue?!" tanya Brian sedikit marah pada sahabatnya itu.
"Sorry gue juga baru tahu jadi baru ngabarin lu. Tiga jam lagi pesawatnya take off, Ian. Sekarang dia masih ada di apartement lagi istirahat setelah nangis kejer gara-gara gagal nikah sama lu. Lu kalo nggak mau dia pergi buruan dateng."
"Gue kesana sekarang."
Brian langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas keluar dari kamar. Ia tak perduli bila ayahnya melarang dirinya bertemu Vera. Ia tetap akan bertemu dengan gadis itu dan mencegahnya pergi ke London.
Saking kalutnya takut Vera pergi, Brian bahkan menuruni anak tangga dengan tergesa. Sesekali kakinya salah berpijak dan nyaris terjatuh. Shavana yang membawa gelas hendak menaiki anak tangga saja dilewatinya seolah tak terlihat olehnya
Beruntungnya hingga Brian keluar dari rumah ia tidak bertemu dengan ayahnya sehingga tidak ada perdebatan seperti tadi.
"Mas Brian mau kemana?" gumam Shavana yang melihat suaminya buru-buru pergi.
"Siapa yang mau kemana?" tanya Larissa yang baru saja menuruni tangga. Ia tadi mendengar suara pintu tertutup keras membuat dirinya yang sedang menonton TV di ruang keluarga terganggu.
"Mas Brian Bukde," ucap Shavana menatap pintu utama yang terbuka. Dari situ ia bisa melihat bila mobil Brian berjalan keluar gerbang rumah.
"Brian? Anak itu benar-benar ya." Larissa memijit kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Hari ini menjadi hari yang benar-benar menguras pikirannya karena ulah anak laki-lakinya itu.
"Apa Mas Brian mau nemuin mbak Vera, Bukde?" tanya Shavana pada Larissa.
Larissa menatap sendu pada keponakan yang kini sudah menjadi menantunya. Ia peluk tubuh kecil itu lalu mengusap punggungnya.
"Maafkan Brian ya Shava. Kamu sudah dinodai tapi Brian masih saja ngejar-ngejar wanita lain," ucap Larissa menegarkan hati Shavana.
"Nggak apa-apa Bukde. Aku baik-baik aja," ucap Shavana.
Shavana tidak apa-apa. Ia baik-baik saja Brian masih mengejar Vera karena ia sadar dirinya lah penyebab sepasang kekasih yang saling mencintai itu gagal menikah meski kata baik-baik saja itu tidak berlaku pada hatinya.
Larissa mengurai pelukannya. Ia tahu Shavana gadis yang baik tapi ia tak mau bila Brian memanfaatkan kebaikkannya untuk terus berhubungan dengan Vera.
"Lain kali kalau Brian mau pergi kamu tanyain kalau perlu kamu ikut juga."
"Kenapa begitu Bukde?"
Larissa mencubit kedua pipi Shavana, ia gemas sekali dengan menantunya. Masa hal sepele seperti itu saja Shavana tidak tahu.
"Karena kamu istrinya Brian, Shava. Jadi kemanapun dia pergi kamu harus tahu."
"Tapi Bukde aku takut dikira kepo," ucap Shavana.
"Ya nggak apa-apa Shava, kan kepo sama suami sendiri."
Shavana mengangguk mengerti membuat Larissa menghela nafasnya.
*
*
Ting.
Lift berhenti di angka 21 kemudian terbuka. Brian bergegas menuju pintu unit apartement miliknya yang sudah satu tahun terakhir ini ditempati oleh Vera.
Tidak perlu menekan bel atau menunggu pintu dibuka dari dalam, Brian kini sudah berada didalam apartement tersebut.
Ken, orang pertama yang Brian lihat di dalam sana karena pria itu ialah sepupu Vera.
"Dia di kamar," ucap Ken memberitahu Brian.
Brian mengangguk kemudian mendatangi kamar utama apartement itu. Brian hendak membuka pintu namun dikunci.
Tok tok tok.
"Honey, ini aku Brian. Please Honey buka pintunya kita harus bicara," kata Brian terus mengetuk pintu kamar tersebut.
Senyap. Tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar tersebut. Vera tak menyahut juga tak membukakan pintu. Entah wanita itu benar-benar sedang tidur atau hanya sedang menghindarinya.
Ken yang duduk di sofa segera menghampiri Brian lalu menepuk punggung pria itu. "Selesain masalah lu, gue tinggal."
Brian menganggukkan kepala membuat Ken segera meninggalkannya. Dirogoh lah kunci mobil dari dalam saku celana, lalu mengambil kunci pintu kamar yang gantungannya jadi satu dengan kunci mobil.
Ceklek.
Brian membuka pintu kamar tersebut dan langsung melihat dua buah koper besar siap geret. Sementara pemiliknya sedang meringkuk diranjang dengan tubuh ditutupi selimut hingga bagian dada dan mata yang terpejam.
"Aku tahu kamu nggak tidur. Kamu cuma lagi ngehindarin aku," ucap Brian.
Vera membuka matanya. "Mau apa kamu kesini?" tanyanya.
Brian melangkahkan kakinya mendekati Vera yang masih meringkuk di atas ranjang.
"Aku tidak menghianatimu Ver," ucapnya.
"Tapi kamu menidurinya," sahut Vera membuat tenggorokan Brian tercekat.
"Aku nggak sengaja."
"Tetap aja kamu menidurinya."
Brian luruh ditepi ranjang dengan pandangan menatap wajah Vera yang terlihat sembab. Sepertinya benar kata Ken bila wanita itu menangis kejer hingga wajahnya sesembab itu.
"Apa cinta yang selama ini aku berikan padamu tak berarti apa-apa hanya karena masalah ini?" tanya Brian menatap sendu pada mantan calon istrinya.
Vera mengusap pipinya. Sepertinya ia baru saja menangis lagi. "Kesalahanmu fatal Brian. Aku nggak bisa maafin kamu," ucapnya.
Dada Brian terasa sesak, nafasnya bahkan terasa berat. "Apa kamu tidak mencintai aku lagi?" tanyanya.
Vera mendudukan tubuhnya dengan kaki menjulur ketepi ranjang tepat di hadapan Brian yang masih luruh disana.
"Aku mencintai kamu, Brian. Sangat mencintai kamu. Tapi ini bukan lagi soal cinta tapi kepercayaan. Kamu sudah mematahkan kepercayaanku dengan meniduri gadis itu."
Brian meraih kedua tangan Vera lalu menggenggamnya. Meletakkan dipangkuan gadis itu Brian memohon.
"Ku mohon beri aku kesempatan."
Bersambung..