
Cekrek.
Foto bersama akhirnya selesai, meski sempat ada perdebataan kecil antara Brian dan Shavana namun hasil fotonya memuaskan.
Brian dan Shavana dipotret dari berbagai sudut pandang, pose maupun gaya. Belum lagi paras mereka yang tampan dan cantik membuat keduanya nampak serasi dalam foto tersebut.
Foto bersama juga tidak luput mereka ambil. Brian dan Shavana berada ditengah. Dibagian sisi mereka ada Larissa dan Reyhan beserta keluarga besar mereka lainnya juga ada yang di bagian belakang.
Sungguh Shavana sangat terharu dengan semua ini. Ia yang sudah tidak memiliki orang tua jadi sepeti memiliki keluarga lagi. Mereka semua yang tadinya keluarga jauh sekarang menjadi keluarga suaminya yang artinya keluarganya juga.
"Sudah. Kalian boleh istirahat," ucap Larissa setelah memeriksa foto yang hasilnya memuaskan.
"Iya Bukde," ucap Shavana namun tidak dengan Brian. Pria itu hanya diam saja.
Shavana berjalan masuk kedalam rumah untuk menuju kamarnya. Ia benar-benar lelah. Lelah tubuh dan lelah pikiran. Tak bisa membayangkan rumah tangga apa yang akan ia jalani bersama Brian mengingat mereka menikah karena terpaksa.
Berbeda dengan Shavana yang kembali kekamar, Brian justru kembali duduk bersama kedua temannya. Alex dan Ken masih duduk dimejanya karena kedua orang itu tidak akan pulang sebelum di usir.
"Jangan lah ketus-ketus sama si Shava. Kasian dia," ucap Alex membuat Brian langsung memicingkan matanya.
"Gue cuma kasian," ucap Alex cepat seolah tahu kenapa Brian memicingkan mata kearahnya.
"Gue no coment." Ken mengangkat kedua tangannya. Ia lebih baik tidak ikut bicara dibandingkan kena marah sahabatnya seperti tadi.
Brian meletakan lagi kepalanya diatas meja membuat kedua temannya menatap iba pada dirinya yang nampak sedang frustasi.
"Gue belum bisa nerima pernikahan ini," kata Brian terdengar lirih.
"Bingung gue mau ngomong apa, belum pernah ada diposisi lu sih," ucap Alex sementara Ken hanya diam menatap Brian tanpa ekspresi.
"Gue cinta sama Vera dan berharap semua ini cuma mimpi," ucapnya lagi.
"Ini nggak mimpi Ian, ini nyata. Lu udah nikah sama si Shava," ucap Alex.
"Iya gue tahu. Gimana caranya gue bisa jalanin rumah tangga tanpa cinta ini ya Lex?" tanya Brian lirih.
"Elah lu nih kayak cewek aja Ian pake dipikirin segala. Tinggal jalanin aja napa," celetuk Ken.
Rupanya pria itu tidak tahan juga untuk tidak ikut bicara meski sekuat tenaga sudah menahannya.
"Mending lu diem aja deh Ken, semua ini juga gara-gara lu." Brian menegakkan tubuhnya dan menatap tajam kearah Ken membuat pria itu langsung menutup mulutnya.
*
*
Shavana yang sudah masuk ke dalam kamar segera membersihkan diri baru setelahnya ia berganti pakaian dengan daster rumahan yang ia bawa dari kampung.
Tak lupa juga Shavana membereskan tempat tidurnya yang tadi pagi belum sempat dibereskan. Tiba-tiba ia teringat dengan dirinya yang bangun tadi pagi sudah ada Brian disampingnya.
"Ya ampun bisa-bisanya Mas Brian salah masuk kamar. Aku juga kenapa tadi malam nggak kunci pintu. Kalau aja pintunya aku kunci Mas Brian kan nggak masuk kesini." Shavana merutuki dirinya yang teledor.
Ia ingat-ingat lagi apa yang terjadi antara dirinya dan Brian tadi malam tapi tetap saja tidak bisa mengingatnya. Shavana hanya ingat dirinya sebelum tidur makan camilan dan menengguk minuman yang diberikan pelayan padanya setelah itu ia tidak ingat apa-apa
"Gara-gara minuman laknat itu aku jadi nggak ingat apa-apa. Apa ada yang sengaja ya ngasih minuman itu sama aku," ucap Shavana jadi berpikir negatif.
"Sial sekali hidupmu Shava, bisa-bisanya nikah sama orang paling menyebalkan di dunia. Baru datang kesini aja aku udah diusir. Satu malam tinggal disini aku ditidurin. 24 jam disini aku dinikahin. Gimana kalau seumur hidupku sama-sama dia terus. Nggak bisa bayangin aku."
Benarkah Brian sudah menodainya?
Ingin menepis semua kemungkinan yang terjadi namun bukti pada dirinya sudah cukup jelas bila ia sudah ternoda. Shavana menggelengkan kepala. Ia tak kalah frustasi dengan Brian.
Brian masih untung memiliki Alex dan Ken teman curhat sekaligus teman seperjuangannya meski kedua temannya itu rada-rada somplak. Tapi tak mengapa dibandingkan Shavana yang tak memiliki teman untuk berbagi cerita dan hanya bisa ia pendam sendiri.
"Shava."
Terdengar suara seseorang memanggilnya dari luar membuat Shavana burung-buru membukakan pintu kamarnya.
"Pakde, Bukde."
"Boleh kami masuk?" tanya Reyhan.
"Boleh Pakde, silahkan masuk." Shavana membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan menutupnya kembali setelah Larissa dan Reyhan masuk ke dalam kamarnya.
Mereka berkumpul disofa kamar itu. Larissa duduk bersisian dengan Reyhan dan Shavana duduk dihadapan mereka.
Suasana canggung menyelimuti mereka. Shavana yang awalnya keponakan kini sudah berubah statusnya menjadi menantu.
"Bukde sama Pakde nggak ganggu kamu kan?" tanya Larissa memecah kecanggungan di antara mereka.
"Nggak Bukde. Ada apa ya?" tanya Shavana balik.
Larissa melirik suaminya yang masih bergeming menatap Shavana dengan ekspresi yang entah tidak bisa dijelaskan.
"Mas." Larissa menyenggol lengan Reyhan agar segera berbicara.
Reyhan menarik nafasnya terlebih dahulu kemudian ia hembuskan.
"Maafkan anak Pakde yang sudah menodai kamu ya Shava. Pakde benar-benar menyesal nggak bisa jaga kamu sesuai dengan amanah dari mendiang ayahmu," ucap Reyhan.
Shavana menundukkan kepalanya dengan bulir-bulir bening mulai membasahi pipinya.
"Maafkan juga Pakde yang sudah maksa kamu menikah dengan Brian. Pakde cuma nggak mau kamu hamil tanpa suami," sambung Reyhan lagi.
Shavana menganggukkan kepalanya. "Iya Pakde aku ngerti. Maaf karena aku pernikahan anak Pakde dan kekasihnya jadi batal," ucapnya terdengar lirih.
"Ini semua sudah takdir. Mungkin Brian dan Vera tidak berjodoh makanya mereka gagal menikah dan Brian justru menikah denganmu."
Savana lagi-lagi menganggukkan kepala bila sudah menyangkut takdir, semua ciptaan Tuhan tidak ada yang bisa mengelaknya.
Ia dan Brian ditakdirkan Tuhan untuk bersama sehingga kini mereka menjadi sepasang suami istri dan akan menjalani rumah tangga mereka sama-sama.
"Jangan khawatirkan tentang cinta, karena cinta akan datang dengan sendirinya seiring dengan kebersamaan kalian."
Kalimat itu terus mengiang di kepala Shavana padahal orang yang mengatakannya sudah tidak ada di sana.
"Apa aku harus menerima pernikahan ini? Tapi apa Mas Brian juga menerimanya?'
Lagi-lagi Shavana hanya bisa berdialog sendiri karena tidak ada orang yang bisa ia ajak bicara.
Shavana menggelengkan kepala. "Nggak mungkin Mas Brian menerima pernikahan ini."
Bersambung...