My Special Wedding

My Special Wedding
BAB. 7 Jangan Jadi Pria Badjingan



Shavana keluar dari kamarnya bertepatan dengan Brian yang hendak masuk kedalam kamar pria itu. Brian tampak acuh bertemu dengan Shavana. Ia terus berjalan melewati Shavana yang menghentikan langkah kakinya didepan pintu.


Saat Brian sudah hendak membuka pintu, Shavana barulah memanggilnya.


"Mas Brian."


Brian melirik sekilas pada Shavana namun tak menyahut. Pria itu lanjut membuka pintu kamar lalu masuk kedalamnya.


Dihempaskanlah tubuh lelahnya diatas tempat tidur. Brian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, mencari kontak bertuliskan 'My Honey' lalu menelponnya.


Panggilan pertama tidak mendapat jawaban, Brian mencoba menghubungi lagi.


"Come on, Honey, angkat teleponnya."


Panggilan kedua tidak mendapat jawaban. Brian mencoba menghubungi untuk yang ketiga kalinya tapi sama seperti sebelumnya panggilan teleponnya tidak mendapat jawaban.


Brian melempar ponselnya ke samping, menjambak rambutnya dan berteriak.


"ARRGGHH!!"


Beruntungnya kamar Brian kedap suara sehingga tidak ada orang yang mendengar teriakannya.


"Kenapa ini terjadi padaku, Tuhan?!"


Diambilah figura berisi foto Vera dan dirinya diatas nakas lalu ia dekap kuat-kuat.


"Hanya kamu yang aku cinta, Ver, kembalilah padaku," lirih Brian terdengar pilu.


Siapa yang tidak akan frustasi bila gagal menikah dengan kekasih yang ia cintai. Pernikahan sudah di depan mata tapi gagal begitu saja karena ia meniduri gadis lain.


Brian mendudukkan tubuhnya kemudian menatap figura berisi foto dirinya memeluk Vera dari belakang. Foto itu diambil satu tahun yang lalu di London. Mereka tersenyum bersama terlihat sangat bahagia karena ia baru saja melamar Vera untuk menjadi istrinya.


Setelah puas memandangi foto itu Brian meletakkan kembali ke tempat asalnya kemudian bangkit dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi. Ia berniat akan menemui Vera kerumah gadis itu.


*


*


"Brian mana Shava?" tanya Larissa karena melihat Shavana yang turun seorang diri.


"Mas Brian baru masuk ke kamar, Bukde," jawab Shavana menghampiri Larissa yang sedang menyiapkan makan malam.


Shavana membantu Larissa membawa beberapa makanan yang sudah ada di piring besar ke meja makan. Semua makanan itu pelayan yang memasaknya dan Larissa hanya membantu mencicipi rasanya saja.


"Nggak usah Shava biar pelayan aja," cegah Larissa yang melihat Shavana sudah mengangkat piring besar berisi sea food asam manis, menu andalan dirumah ini.


"Nggak apa-apa Bukde, lagian aku di rumah Ini nggak ngapa-ngapain juga." Shavana kembali mengambil piring berisi menu yang lainnya.


"Ya sudah kalau memang kamu mau," ucap Larissa dan Shavana mengangguk.


Shavana melihat banyak makanan yang terhidang di meja makan sama seperti kemarin malam. Sementara sarapan tadi pagi Shavana melewatkannya, dan makan siang ia makan prasmanan diacara pernikahannya.


Sebetulnya resepsi pernikahan masih akan berlangsung hingga pukul 12 malam, tapi Brian membatalkannya dan pukul 4 sore tadi acara sudah selesai.


Tidak lama kemudian Reyhan datang dan Larissa langsung menarikan kursi untuk suaminya, menuangkan air putih kegelasnya kemudian duduk di kursi sebelahnya. Melihat itu Shavana jadi teringat bila dirinya sudah menikah.


"Apa aku juga harus begitu," gumamnya.


Selama ini Shavana hanya tinggal bersama ayahnya karena ibunya sudah meninggal lebih dulu jadi ia tidak pernah melihat ayahnya dilayani seperti itu.


"Shava panggil Brian sana makan malam sudah akan dimulai," titah Larissa karena di meja makan semua keluarga sudah berkumpul dan hanya Brian saja yang belum bergabung.


"Iya Bukde."


Tangannya sudah terulur hendak mengetuk pintu kamar Brian namun ia urung karena tak berani.


"Aduuhh, ketuk nggak ya?" tanya Shavana pada dirinya. Ia ragu untuk mengetuknya khawatir akan mengganggu pria itu dan berujung ia dimarahi belum lagi bila pria itu marah kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu nyelekit dihati.


"Tapi semua orang dimeja makan sudah nungguin mas Brian," gumammya menimbang apa yang harus ia lakukan.


Pada akhirnya Shavana memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Brian.


Ketukan pertama tidak dibukakan pintu. Shavana kembali mengetuk sembari memanggil nama pria itu tapi Brian tak menyahut dan tidak membukakan pintu.


Shavana kembali mengetuk pintu. "Mas Brian sudah ditungguin makan malam," ucap Shavana memberi tahu Brian tujuan dirinya mengetuk pintu.


Brian didalam kamar yang tengah melipat lengan kemejanya seketika menghentikan tangannya namun segera ia lanjutkan setelah tidak mendengar suara Shavana.


"Ck! Laga jadi istri beneran."


Karena tidak dibukakan pintu dan tidak mendapat sahutan, Shavana memutuskan kembali ke meja makan.


"Loh kok datang sendiri, mana Brian?" tanya Larissa heran pasalnya ia sudah menyuruh Shavana memanggil Brian tapi gadis itu kembali seorang diri.


"Mas Brian nggak bukakan pintu Bukde, dia juga nggak nyahut waktu aku panggil."


"Bener-bener anak itu. Kamu duduk aja Shava kita mulai makan malamnya biarin aja Brian makan sendiri nanti."


"Iya Bukde."


Shavana menarik kursi kosong yang berada didekat bukdenya, menuangkan nasi kepiringnya dan beberapa lauk lainnya. Namun belum sempat ia menyuap tiba-tiba saja pandangan semua orang dimeja makan tertuju pada seseorang yang baru saja turun dari tangga.


"Kamu mau kemana Brian?" tanya Larissa yang melihat penampilan Brian sudah rapih. Brian mengenakan celana bahan dengan atasan kemeja yang dilipat lengannya hingga siku.


"Aku mau keluar," jawab Brian tanpa menghentikan langkah kakinya. Brian ingin bertemu Vera dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara dirinya, Vera, dan Shavana.


Tadi sesaat setelah ijab qobul selesai Brian sudah hendak menemui Vera tapi karena ayahnya menegaskan dirinya harus tetap disana jadi Brian menurut dibandingkan berdebat yang justru akan mempermalukan dirinya dan keluarga besarnya.


Reyhan bangkit dari duduknya membuat semua orang yang sudah ada di meja makan menghentikan tangan mereka.


"Kamu tidak diizinkan keluar!" Ucapan Reyhan itu sontak saja menghentikan langkah kaki Brian yang sudah mencapai pintu utama.


"Dad, please! Aku ingin bertemu Vera," ucap Brian.


Reyhan menghampiri Brian yang juga tengah menghampiri dirinya.


"Daddy tidak mengizinkan kamu bertemu Vera. Kamu sekarang sudah menikah jadi fokuslah pada istrimu."


"AKU TIDAK MENCINTAINYA, DAD! HANYA VERA YANG AKU CINTAI DAN HANYA DIA YANG AKU INGINKAN!"


PLAKK!!


Shavana cukup terkejut meliahat Brian berteriak seperti itu ditambah lagi pakdenya yang menampar pria itu sangat keras. Sepertinya pakdenya itu sudah tidak bisa menahan amarah.


Brian membeku ditempat dengan sebelah tangan memegangi pipinya. Beruntungnya hanya tamparan yang mendarat di wajahnya bukan kepalan tangan yang sejak tadi ayahnya tahan.


"Jangan jadi pria badjingan, Brian. Kalau kamu mencintai Vera dan menginginkannya seharusnya kamu bisa menahan diri untuk tidak menodai Shavana."


Bersambung..