
Shavana membantu bukde-nya menyiram tanaman. Mulai tanaman yang merambat di tanah, bunga-bunga dipot besar hingga bunga yang tergantung diteras samping, semuanya ia siram dengan hati-hati.
Meski ia sudah menjadi istri tuan muda di rumah ini tapi Shavana tidak enak bila hanya makan tidur saja. Sebisa mungkin ia tidak merepotkan bukde dan pakde-nya. Tadinya Shavana tidak ingin datang ke Jakarta tapi pakdenya terus membujuk dirinya untuk datang dengan alasan di kampung sudah tidak ada siapa-siapa. Namun kedatangannya justru membuat kekacauan di rumah ini.
Tidak lama kemudian Shavana melihat ada sebuah mobil Rolls Royce seri terbaru memasuki halaman rumah pakdenya. Meski Shavana gadis kampung tapi ia tidak katro sekali dan cukup tahu bila mobil yang ia lihat itu golongan mobil mewah didunia.
Mobil itu sama persis seperti mobil Brian yang tadi malam dipakai hanya saja warna dan plat mobilnya yang berbeda. Bila mobil Brian berwarna hitam mengkilat, mobil ini memiliki warna silver mengkilat.
"Siapa yang datang?" gumamnya.
Tangan Shavana masih menyiram tanaman namun pandangannya memperhatikan mobil tersebut menantikan siapa yang keluar dari dalam mobil itu.
"Hai," sapanya namun langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
"Oh temannya Mas Brian yang kemarin," gumamnya.
Rupanya seseorang yang datang itu ialah Ken. Ken datang pagi-pagi ke rumah itu atas perintah Brian yang meminta dirinya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia yang membawa minuman, lalu Brian ikut menengguknya lalu mabuk dan salah masuk kamar itu semua karena dia.
*
*
"Dimana Brian sekarang?"
Sayup-sayup Shavana yang baru saja masuk kedalam rumah mendengar suara pakdenya sedang berbicara. Shavana menoleh, terlihat pakde dan bukdenya sedang duduk bersisian dan Ken duduk di hadapan mereka dengan kepala menunduk.
"Brian ke London, Om."
Ucapan Ken itu membuat Shavana cukup terkejut, tapi setelah mengingat tadi malam Brian berjalan tergesa ia jadi mengerti.
Reyhan memijit pelipisnya. Brian benar-benar membuatnya sakit kepala. Meski Ken tidak mengatakan Brian pergi bersama Vera tapi ia sudah mengetahuinya. London ialah kota dimana ibunya Vera berasal dan sudah pasti Brian pergi bersama gadis itu. Beruntungnya hari ini akhir pekan jadi ia tak harus pusing dengan pekerjaannya.
"Kenapa dia bertindak sejauh ini?"
"Karena dia mencintai Vera, Om."
"Tapi dia sudah menikah."
"Brian tidak menginginkan pernikahan itu, Om."
"Berapa lama dia di London?"
"Aku nggak tahu, Om."
Terdengar helaan nafas kasar keluar dari mulut pria setengah baya itu.
"Sudah Tante bilang kan semalam kamu nggak usah bawa minuman. Lagaknya mau ngerayain pernikahan Brian tapi justru gara-gara kamu dia gagal nikah karena nidurin Shavana," omel Larissa yang sudah tidak tahan tak mengomeli Ken.
"Maaf, Tante, aku nggak tahu kalau bakalan jadi kayak gini," ucap Ken menyesal.
"Terus sekarang gimana urusannya?" tanya Larissa dan Ken menggeleng pelan.
Shavana menjauh dari ruang tamu dimana ketiga orang itu sedang berbicara. Ia sudah puas mendengar pembicaraan mereka dan sekarang memilih masuk kedalam kamarnya.
Klek. Pintu kamar ia kunci. Tubuhnya ia sandarkan didaun pintu tanpa ia duga air matanya menetes begitu saja. Shavana menyesali dirinya datang ke rumah ini dan berujung tidur dengan Brian.
Brian yang sudah hendak menikah dengan wanita yang dicintainya jadi harus menikahi dirinya. Pernikahan tanpa cinta ini benar-benar menyakitkan.
"Ibu, Bapak," lirihnya.
Andai waktu bisa diputar ia memilih tinggal dikampung sebatang kara dibanding terlibat ke dalam masalah rumit ini.
Bohong bila ia mengatakan baik-baik saja. Memang raganya baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya. Bagaimanapun ia manusia biasa yang bisa merasakan sakit hati.
*
*
Kurang lebih 18 jam waktu yang mereka tempuh akhirnya sepasang kekasih yang gagal menikah itu tiba di bandara London Heatrow. Saat ini mereka datang ke kota London tepat di bulan november dan kota London sedang mengalami musim gugur.
Sepanjang perjalanan Brian bisa melihat daun-daun berguguran dari pohonnya dan berserakan di jalanan. Apa cinta Vera padanya akan berguguran seperti itu dan tak lagi utuh untuknya?
Mereka datang ke kota itu hanya berdua. Orang tua Vera tidak ada yang ikut karena mereka sudah menetap dijakarta dan hanya sesekali saja mengunjungi kota tersebut.
Tadinya Vera ingin pergi ke London seorang diri untuk menenangkan diri. Ia ingin melupakan Brian yang sudah membuatnya kecewa dan sakit hati. Ia juga ingin belajar melupakan Brian yang kini sudah menjadi suami orang. Tapi Brian justru mengikutinya.
"Bicaralah Sayang."
Vera bergeming. Ia bahkan tak ingin menatap Brian. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya Vera hanya memejamkan matanya menghindari Brian yang terus mengajaknya bicara.
"Aku bantu."
Vera menepis tangan Brian yang sudah hendak memegang tangannya. Saat ini mereka sudah tiba dirumah Vera jadi tak akan menjadi pusat perhatian.
Pembicaraan diapartemen belum selesai karena Vera harus pergi ke bandara tapi siapa sangka Brian justru mengikutinya dan membeli tiket pesawat juga. Brian rela duduk di kursi penumpang kelas ekonomi karena kelas bussines sudah penuh dan ia tak ingin Vera pergi dari dirinya.
Brian membuntuti Vera yang masuk kedalam rumah lalu masuk kedalam lift. Pria itu sudah tidak asing dengan rumah Vera karena ini bukan pertama kali untuknya datang ke rumah itu.
"Please, bicaralah."
Blam!
Vera menutup pintu kamarnya membuat Brian berdiri mematung didepan pintu tersebut.
Setelah tersadar Brian langsung mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Ver."
"Vera."
"Sayang."
"Vera Sayang."
"Please beri aku kesempatan."
Vera sama sekali tidak membukakan pintu untuk Brian. Dengan langkah gontai ia duduk disofa yang berada tak jauh dari pintu kamar Vera. Nanti sewaktu-waktu gadis itu keluar, Brian bisa langsung menghampirinya.
Namun ... hingga 4 hari berlalu Vera tidak kunjung keluar dari dalam kamarnya.
Pintu kamar Vera terbuka hanya saat ia menerima makanan dari pelayan dan pelayan yang mengambil pakaian kotor miliknya.
"Tuan anda ingin makan apa?" tanya pelayan.
"Buatkan aku kopi saja."
Pelayan itu mengangguk kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan kopi. Pelayan itu sudah hafal kopi seperti apa yang Brian inginkan. Kopi hitam dengan sedikit gula katanya agar ia tahan tidak mengantuk.
Ya, selama empat hari ini Brian terus terjaga menunggu Vera keluar dari kamarnya. Penampilannya sangat kacau, baju yang sudah 4 hari tidak diganti rambut acak-acakan, dan kantung mata terlihat jelas dibawah matanya.
Tok tok tok
"Vera aku mohon beri aku kesempatan."
Bersambung..