
Last Day before go
Tidak ada yang ingin dilakukan Vee hari ini. Padahal waktunya sudah semakin habis untuk meninggalkan Miami. Hari ini Vee lebih memilih berdiam diri di kamar sambil menikmati film dari ponselnya.
Kehidupan malasnya mulai datang kembali. Inilah yang Vee nanti-nanti. "Sepertinya kecelakaan itu membawa keberuntungan bagiku," gumam Vee sambil makan dan menikmati filmnya.
Kemudian Lucy mengetuk pintu dan datang dengan membawa nampan berisi cookies dan juga susu putih. "Silahkan dimakan, nona," ujar Lucy.
"Sepertinya aku tidak menyuruhmu membawakanku makanan," ucap Vee sambil mengingatnya.
"Memang benar, nona. Tapi adik tuan Marcus datang dan membawa cookies untuk dibagikan semua orang di rumah ini," ucap Lucy.
Vee mulai fokus pada arah pembicaraan Lucy. "Aku ingin menemuinya," ucap Vee. Lucy mengangguk dan menunjukkan jalan dimana adik Marcus berada. Tapi sambil berjalan, Vee mengambil beberapa Cookies itu dan memakannya.
_______
Setelah sampai, ternyata adik Marcus berada didapur dan sibuk membuat sesuatu dibantu dengan beberapa maid disini. Kemudian adik Marcus itu berbalik badan dan melihat ada Vee yang sedang berdiri memperhatikan bersama maid disampingnya.
"Hai... sepertinya aku baru melihatmu," ucap adik Marcus.
Vee menghampiri adik Marcus itu. "Benar, aku tinggal beberapa hari yang lalu disini," ucap Vee.
Adik Marcus itu tersenyum hangat, "jangan bilang kau kekasih kakakku?" Ucap Adik Marcus.
"Bukan aku hanya berteman dengannya. Kami bertemu karena dia menabrakku dan membawanya kemari," ucap Vee menjelaskan karena takut salah paham.
"Oh begitu... kukira kau kekasihnya." ujar adik Marcus.
"Apa kau baik-baik saja?" Sambung Maureen.
"Ya... aku baik-baik saja, kakakmu bertanggung jawab dengan baik," jawab Vee sambil tersenyum.
"Aku Maureen, siapa namamu?" Tanya Maureen.
"Aku Veerona, panggil saja Vee," ucap Vee sambil memperhatikan gerakan tangan Maureen
"Maaf tidak bisa berjabat tangan denganmu, tanganku kotor," ucap Maureen dengan raut wajah oenuh penyesalan.
"Tidak apa, btw cookies buatanmu sangat enak," puji Vee sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Terima kasih, aku membuatnya sesuai resep dari mommy," ucap Maureen tersenyum senang.
"Kau mau membantuku?" Tanya Maureen karena sepertinya Vee terus memperhatikan gerakan tangannya.
"Boleh, kebetulan aku belum pernah membuat kue. Kau bisa mengajariku membuatnya," ucap Vee senang. Ini adalah pertama kalinya Ia membuat kue.
Keluarga di rumahnya lebih sering memesan kue dibandingkan membuat sendiri. Jadi tidak heran bila kemampuan dan bakat yang dimiliki Vee hanya menjadi mata-mata negara.
Maureen tersenyum senang, "baiklah, guru Maureen akan mengajari muridnya dengan baik dan benar," ucap Maureen yang mengundang tawa. Vee akhirnya membantu membuat kue sesekali Maureen mengajari Vee.
______
Maureen mengeluarkan kue yang sudah matang dari oven. Aroma kue yang sangat nikmat menyeruak bebas di hidung Vee. Ia sangat tergiur dan tidak sabar untuk mencicipi hasil buatan Maureen yang dibantu olehnya.
"Perutku sudah tidak sabar berkenalan dengan kue cantik dan enak ini," ucap Vee sambil mengelus perutnya.
Maureen tertawa geli, "aku juga. Meskipun berkali-kali membuat kue, tapi kurasa bagian paling menyenangkan adalah mencicipinya."
Vee tertawa mendengar lelucon Maureen. Sepertinya Maureen sangat berbeda dengan kakaknya. Dia lebih banyak mengeluarkan kata-kata dibandingkan kakaknya yang harus berhemat dalam berbicara.
Meskipun keduanya berbeda, tapi Vee merasa keduanya sama-sama memiliki keseruan masing-masing.
"Kau tau hal yang paling kusuka selain mencicipi kue?" Tanya Maureen. Vee hanya menggeleng tidak tahu.
"Hal yang paling kusuka selain mencicipi kue yaitu menghiasnya."
"Kenapa?" Tanya Vee.
"Kue-kue ini terlihat lebih cantik saat dihias. Bahkan karena hiasan yang cantik orang-orang lebih memilih memajangnya daripada memakan kue," ucap Maureen sambil menghias kue.
"Dan hal itu membuatku bangga karena usahaku dapat membuat orang lain senang meskipun hanya melihat hiasan dari kue yang kubuat," sambung Maureen.
Setelah selesai menghias Maureen memperlihatkan pada Vee. Sungguh kue yang sangat cantik dan elegan dengan olesan krim putih dan hitam disetiap sisinya.
"Sepertinya kau sangat berbakat dalam membuat kue," puji Vee.
"Kau benar, karena bakatku itu aku bisa membuka toko kue disini," ucap Maureen.
"Wah... kau benar-benar hebat. Pasti tokomu itu selalu ramai pengunjung," ucap Vee ikut bangga dengan hasil kerja keras Maureen.
"Benar, aku bahkan hampir kewalahan menanganinya," jawab Maureen.
Vee tersenyum senang. Kemudian memperhatikan kue buatan Maureen itu. Memang benar kata Maureen, kue itu nampak sangat cantik dengan hiasan-hiasan yang dibuat oleh Maureen. Bahkan tanpa Vee sadari, Ia terus memperhatikan kue itu.
"Btw... kue ini sepertinya cocok digunakan untuk surprise ulang tahun," ucap Vee.
Maureen tersenyum, "memang benar, aku membuat kue ini untuk memperingati hari ulang tahun mommy, dan kebetulan adalah hari ini."
"Sepertinya kehadiranku akan mengganggu pertemuan keluarga kalian," ucap Vee merasa bersalah.
Maureen tertawa kecil, "tidak sama sekali, mommy sangat senang bila dihari ulang tahunnya banyak yang hadir dan mendoakannya."
Vee mengangguk, "kuharap itu benar."
_______
Miami, USA. 8 PM
Seperti perkataan Maureen sebelumnya. Hari ini adalah hari ulang tahun mommy dari Marcus dan Maureen. Rumah Marcus terasa begitu ramai dan jauh berbeda dari biasanya.
Disisi lain, Vee nampak sangat gugup. Ini bukan acara pertemuan keluarga untuk melamarnya, tapi kenapa suasana ini benar-benar membuatnya gugup.
"Apa kau gugup, Vee?" Tanya Maureen.
Mereka sekarang berada di dapur untuk menyiapkan kue ulang tahun dan beberapa cookies yang akan disajikan nanti.
"Sepertinya," jawab Vee sambil memainkan kedua tangannya.
Maureen tersenyum, kemudian menepuk pundak Vee pelan. "Tenang saja, keluargaku sangat ramah saat bertemu orang asing," jawab Maureen.
"Ku harap seperti itu nanti," jawab Vee. Kemudian ia membantu Maureen menata hidangan diatas meja makan.
Meskipun dibilang masih banyak maid di rumah Marcus yang siap siaga membantu, tetapi Maureen sangat ingin tangannya membantu. Begitu pula dengan Vee.
30 menit telah berlalu, semua kebutuhan untuk acara malam ini sudah terpenuhi dengan baik. Marcus dan Maureen menyambut kedua orang tuanya dengan baik. Mereka saling memeluk dan sesekali bertukar kabar.
"Hello son, how are you?" Tanya sang ayah, Diego Torenzo.
"Seperti yang kau lihat, dad. Im fine," Jawab Marcus.
"Kapan kau akan pulang ke rumah? Apa kau sudah berniat mengundurkan diri dari anggota keluarga ini?" Tanya sang ibu, Lucia Torenzo, alis Mrs. Torenzo.
Marcus tertawa geli. "Tidak sama sekali, mom. Aku akan pulang, tapi tidak sekarang."
"Pulanglah, sebelum ku coret namamu dari daftar nama keluarga Torenzo," sahut Lucia mengancam.
Vee datang dengan wajah yang sulit diartikan. Benar-benar bercampur aduk. Ada rasa takut, malu, bahkan merutuki dirinya sendiri mengapa harus bergabung dengan keluarga Marcus. Ia merasa tak enak hati ikut andil dalam acara malam ini.
"Oh hei, siapa gadis itu?" Tanya Lucia antusias. Wajahnya berkobar penuh ceria.
"Dia Vee, mom, kekasih Marcus," sahut Maureen. Sontak Vee dan Marcus mengangkat kepalanya dan saling melotot satu sama lain.
Ini tidak benar. Si kecil Torenzo itu benar-benar melupakan tata krama mulutnya.
"I-itu tidak benar, mom. Aku bisa-."
"Tidak perlu malu dengan mommy," sahut Lucia memotong perkataan Marcus.
Lucia benar-benar senang ketika anak lelaki satu-satu sudah terlihat menampakkan wujudnya sebagai lelaki. Lucia pikir, Marcus adalah gay.
"Bukan begitu, dad. Tapi-"
"Kemarilah, nak. Maafkan perlakuan anak tidak tau diri itu," Diego mengulurkan tangan untuk meraih Vee.
Pria tua itu benar-benar penyayang. Bahkan sepertinya Vee tak sanggup untuk membongkar sebuah kebohongan.
Vee berjalan kearah Diego, meletakkan tangannya diatas tangan Diego. Sungguh, sifat penyayang dari pria tua itu benar-benar membuat Vee luluh. Bahkan Ia sangat jarang sekali mendapatkan tatapan perhatian seperti ini dari ayah kandungnya sendiri.
"Dia akan menjadi bagian keluarga kita nanti," ucap Diego. Lucia tersenyum senang.
Ah betapa senangnya mereka ketika suatu saat bisa menimang cucu. Mereka sungguh menantikan momen itu nanti.
"Waw, sepertinya kita akan bertambah anggota," Maureen tersenyum senang. Didalam hatinya Ia berhasil membuat kakaknya ini terikat meskipun hanya kepalsuan.
Maureen tau kakaknya itu tidak bisa menolak apa yang dikatakan orang tuanya bila sudah menyangkut kebahagiaan mereka. Inilah yang Maureen suka dari Marcus. Dia sangat penyayang keluarga.
Lucia memeluk Vee dengan penuh kehangatan. Lalu berbisik. "Kupikir anakku itu mengalami gay, tapi sepertinya tidak, Vee."
Vee terkikik geli. Apa Marcus sungguh terlihat seperti gay? Bahkan lelaki itu sangat menggoda ketika bertelanjang dada. Bagaimana bisa ibunya sendiri berpikiran seperti itu.
Lucia melepas pelukannya, meraih pipi Vee kemudian mengecup kening Vee cukup lama. Oh astaga, ini benar-benar diluar ekspektasinya.
Awalnya Vee mengira keluarga Marcus akan tidak senang dengan kehadirannya. Tapi ternyata? Benar-benar sangat ramah. Vee semakin menyukai keluarga ini.
Sedangkan Marcus? Dia hanya diam berpikir untuk mengakhiri syuting kali ini.
Apa ini adalah karma dari akting mereka yang kemarin-kemarin? Bahkan mereka hanya akting. Lalu mengapa harus benar-benar terjadi tanpa keinginan mereka?
"Sudah sudah, ayo kita ke ruang makan sebelum makanannya dingin," ucap Maureen. Semua menyetujui dan menuju ruang makan.
...*****...
Maureen sedang membuat minuman didapur. Sedangkan Vee membantu para maid merapikan meja makan dan piring-piring diletakkan didapur untuk dicucui.
"Kenapa kau berkata yang tidak-tidak didepan orang tuamu?" Ucap Vee. Kali ini Ia menahan emosinya. Bukan kemarahan yang meletup-letup. Tetapi rasa kesal yang amat dalam pada Maureen.
"Aku hanya ingin menyenangkan hati orang tuaku. Mereka selalu mengharapkan kekasih untuk Marcus."
"Tidak, maksudku mereka ingin segera memiliki cucu," sambung Maureen.
Memang benar. Semua orang tua mengharapkan cucu dari anaknya kelak. Tapi bukan hasil kebohongan seperti ini.
"Apa kakakmu itu benar-benar terlihat seperti gay? Ibumu bilang Ia sempat mengira Marcus adalah gay."
"Aku pun sempat mengira seperti itu. Dia tidak pernah berhubungan dengan wanita setelah kekasihnya meninggalkannya dan menikah dengan orang lain," ucap Maureen. Ia kembali menerawang bagaimana keadaan Marcus dahulu. Benar-benar sangat terpukul.
Oh gadis itu benar-benar sialan! Apa Marcus tidak cukup tampan dan kaya dimatanya?
"Bisakah kau membantuku membawa cookies itu di halaman belakang? Tanganku hanya bisa membawa minuman-minuman ini," ucap Maureen yang tangannya sudah membawa nampan berisi gelas-gelas dengan jus jeruk didalamnya.
"Tentu."
Dihalaman belakang Marcua dan orang tuanya nampak sangat akrab sekali. Mereka duduk diatas matras yang dibawahnya adalah rerumputan. Sambil menikmati bintang dan bulan malam ini, sungguh adalah suasana yang menyenangkan.
Tunggu. Vee baru menyadari bahwa Marcus mengelurkan banyak kata-kata ketika berbincang dengan orang tuanya. Tidak seperti dengan dirinya yang hanya dibatasi 10 kata. Vee masih mengingat kejadian itu.
Oh sepertinya lelaki ini cerewet bila dihadapan orang tuanya.
"Apa perusahaan berjalan dengan baik?" Tanya Diego.
"Tentu saja, aku tidak pernah asal-asalan dalam memimpin," jawab Marcus membanggakan dirinya.
"Sudahi kerjamu, Marc. Carilah istri dan buatkan cucu untuk kami," Lucia menyahut disela-sela perbincangan mereka.
Ayolah... cucu cucu cucu. Apa mereka tidak bisa menahan keinginannya untuk menimang cucu? Umurnya masih 27 tahun. Masih ingin menikmati umurnya yang kepala 2 itu sebelum menuju kepala 3.
"Tidak sekarang, mom. Kerja adalah keinginanku sekarang. Aku belum terpikirkan untuk menikah. Lagipula kerja adalah yang utama untuk membiayai kehidupanku kelak ketika sudah beristri," jawab Marcus. Selalu seperti itu alasannya.
"Uangmu sudah banyak, lalu apa lagi yang kau harapkan selain beristri? Kau akan menyesal nanti bila umurmu sudah semakin tua," Lucia jengkel sekali dengan anaknya ini. Sudah berapa kali Ia mengingatkan Marcus untuk mencari istri.
Lagipula, umurnya sudah semakin tua. Ia tidak tau kapan ajal akan menjemput.
"Vee cocok untukmu, kau menikahlah dengannya," ucap Lucia.
Disisi lain Vee hampir menjatuhkan nampan berisi cookies itu. Menikah? Oh astaga, bahkan ia sama sekali belum terpikirkan masalah menikah.
"Bagaimana ini? Aku belum siap untuk menikah," ucap Vee panik pada Maureen disebelahnya yang ikut menguping.
"Tenang saja Vee, semua akan baik-baik saja. Kau tak lerlu khawatir."
"Tapi orang tuamu menyuruh Marcus untuk menikah denganku."
"Aku akan berbicara pada mereka nanti," ucap Maureen kemudian melanjutkan langkahnya, disusul Vee dibelakangnya.
"Sudah sudah, minum saja dulu jus jeruk dan cookies ini," ucap Vee sambil memberikan satu persatu isi nampan itu.
Marcus menerima gelas itu dengan perasaan kesal. Jika bukan karena adiknya yang laknat ini, Ia tidak akan terjerumus dalam masalah pernikahan hari ini.
"Hei... kau bisa menumpahkan isi gelas itu dibajuku," ucap Maureen menyadari kekesalan Marcus padanya.
"Tidak peduli dengan bajumu."
Maureen hanya memutar kedua bola matanya. Lalu memberikan gelas berisi jus jeruk itu pada Vee. "Minumlah, ini benar-benar segar."
"Terima kasih," Vee menerima gelas itu lalu menyeruputnya.
"Kau sudah berumur berapa, Vee?" Tanya Lucia.
Vee menoleh sambil tersenyum memperlihatkan keramahannya. "Baru berumur 22 tahun."
"Usiamu sudah cukup matang Vee. Apa kau ada rencana untuk menikah?"
"Mom... come on," sahut Marcus tak suka dengan obrolan mereka.
"Diamlah! Aku tidak bertanya padamu!" Kali ini Lucia benar-benar dibuat jengkel dnegan anaknya itu. Marcus memilih diam dengan perasaan dongkol.
Vee menggeleng, "aku belum terpikirkan untuk menikah."
"Sayang sekali... padahal aku mengharap cucu darimu," ucap Lucia membuat Vee tersedak dengan minumannya.
Uhukk... uhukk
"Kau baik-baik saja, nak?" Lucia mengelus punggung Vee berusaha menenangkan.
"Aku baik-baik saja. Aku izin ke kamar mandi sebentar," ucap Vee lalu beranjak dari duduknya.
Selama di toilet, Vee merasa panik dan juga bingung harus melakukan apa. Ia tidak ingin melanjutkan kebohongan ini. Sungguh tidak ingin. Sudah cukup Vee terjerumus dalam kebohongan. Ia tidak pandai berakting, dan harus mengakhirinya.
Vee menarik napas dalam-dalam lalu dihembuskan melalui mulutnya. Ia harus mengatakan kebenarannya. Benar. Kebohongan ini tidak boleh berlanjut.
Ia keluar dari kamar mandi. Kemudian dikejutkan dengan kehadiran Marcus didepan kedua matanya.
Vee melihat wajah Marcus seperti memendam amarah. Wajahnya terlihat mengerikan saat ini. Berbeda dengan saat itu. Saat itu Marcus terlihat menakutkan karena rambut-rambut diwajahnya yang sudah tumbuh lebat. Tapi sekarang? Entahlah... membayangkan Marcus marah saja Ia sudah terserang rasa takut.
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
...DONT FORGET TO VOTE AND COMMENT ABOUT THIS CHAPTER...
...THANK YOU...
^^^S H A A N^^^