My Protector Of The Mafia Leader

My Protector Of The Mafia Leader
My Protector Of The Mafia Leader | Part 4



First Day before go. 7.10 AM


Hari ini adalah hari pertama sebelum Vee meninggalkan Miami. Ia sudah bertekad untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktunya di Hawai. Vee sudah menyelesaikan sarapannya tanpa Marcus. Meskipun Marcus menolak, Ia harus tetap pergi.


"Lucy, apa kau mau menemaniku bersenang-senang?" Tanya Vee pada pelayan disamping mejanya.


"Tentu saja nona, akan ku persiapkan mobil dan sopir untukmu," ucap Lucy, kemudian pamit pergi.


Beberapa menit kemudian Vee sudah bersiap-siap dan menuju teras rumah. Hari ini ia ingin pergi berbelanja dengan uangnya sendiri. Benar. Vee sudah meminta bantuan Chloe untuk mengurus tabungannya yang hilang. Dan alhasil Vee sudah memiliki uangnya kembali.


"Hari ini kita akan pergi kemana, nona?" Tanya Lucy.


"Aku ingin shopping, sudah lama sekali kakiku tidak merasakan lelahnya berkeliling di pusat perbelanjaan," jawab Vee.


Tak lama kemudian mereka sampai dipusat perbelanjaan. Vee turun dari mobil kemudian ditemani Lucy disampingnya. Ia melihat banyak sekali pakaian yang modis dan seksi disana.


Vee mampir disebuah toko mewah, toko dengan nama Louis Vuitton. Semua orang tau bila toko dengan brand asal Prancis itu memiliki barang yang sangat mewah dan mahal.


Vee berjalan dideretan tas. Ia melihat-lihat berbagai macam model tas disana. Pelayan dari toko itu pun mengikuti Vee sambil sesekali menjelaskan bahan dari tas tersebut.


"Tas ini sepertinya cocok dengan Anda, nona," ucap pelayan toko tersebut sambil tersenyum menunjukkan keramahannya.


Tapi tak lama kemudian tas yang dipegang Vee direbut oleh seorang wanita. "Ah sepertinya tas ini bagus untukku," ucap wanita tersebut.


"Hei maaf, tas ini aku lebih dahulu mendapatkannya," ujar Vee tak terima.


Wanita itu malah menatap Vee dengan pandangan 'mana mungkin gadis seperti dia bisa membeli tas semahal in'. Tanpa menjawab perkataan Vee, gadis itu langsung menuju kasir dan membayarnya.


Vee tak terima dengan perlakuan wanita itu. Berani sekali merebut barang yang sudah berada ditangannya. "Apa kau tuli? Aku lebih dulu mendapatkannya," ucap Vee sambil menarik bahu wanita itu menjauh dari kasir.


Lucy menghampiri Vee, berusaha melerai pertengkaran mereka. Namun tetap saja, sepertinya diantara keduanya tidak ada yang ingin mengalah. Lucy dengan tergesa-gesa menelpon Marcus untuk memberitahu keadaan Vee sekarang.


"Memang kau yang lebih dahulu mendapatkannya, tapi ku jamin kau tidak akan mampu membayarnya," ucap wanita itu dengan nada sombong.


"Sombong sekali kau. Apa penampilanku terlihat miskin hingga tidak mampu membayarnya?" Ucap  Vee.


"Kau lihat saja dicermin. Gaun polosmu saja sepertinya berada jauh dari harga tas ini," ucap wanita itu sambil melipat kedua tangannya didada.


"Hei wanita sombong... kau ingin aku membeli mulutmu itu, hah?" Ujar Vee menahan emosi.


"Silahkan saja jika kau mampu," ucap wanita itu. Tapi didetik kemudian Vee menarik rambut wanita tersebut. Merasa sangat marah ketika harga dirinya diinjak-injak seperti lantai.


Dan pertengkaran pun berlanjut hingga para pengunjung pusat perbelanjaan itu berkumpul menyaksikan pertekaran mereka.


Beberapa menit kemudian Marcus datang membelah kerumunan tersebut. Menghampiri Vee yang masih setia menarik rambut wanita itu. Bahkan para pelayan toko dan Lucy ikut andil untuk melerai mereka.


"Hei hentikan!" Ucap Marcus. Pertengkaran mereka pun berhenti.


"Kenapa kalian bertengkar? Apa kalian tidak tau malu harus bertengkar dikeramaian?" Ujar Marcus.


"Dia merebut tas ku, padahal aku yang lebih dulu mengambilnya," ucap Vee pada Marcus.


Marcus menatap Vee yang rambutnya sudah acak-acakan. Marcus menyuruh pelayan toko itu menjelaskan permasalahan yang terjadi disana. "Apa gadisku ini terlihat miskin dan menyedihkan dimata Anda, nona?" Tanya Marcus.


Wanita itu malah masih tetap dengan gaya sombongnya, melipat kedua tangan didada. "Sepertinya begitu," jawab wanita itu.


"Baiklah... siapa namamu, nona?" Tanya Marcus.


"Elena Carrington," ucap wanita itu tak lain bernama Elena.


Nyali Elena sepertinya mulai mengecil. Tapi wajahnya masih berusaha bersikap tidak akan terjadi apa-apa. Karena pasti lelaki itu hanya berusaha berbicara omong kosong saja.


"Jangan terlalu banyak omong kosong, tuan. Sebaiknya Anda mengajak pacar Anda ini pergi dari toko ini," ucap Elena.


Marcus tersenyum simpul, ia menatap pelayan toko, kemudian. "Tolong kemas semua tas yang ada disini, berikan pada para pengunjung yang menyaksikan pertengkaran ini," ucap Marcus.


Para pelayan dibuat menganga dengan kata-kata Marcus. Sekaligus bersemangat mengemas semua tas yang terpajang di toko. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Marcus membayar semua tas itu dengan kartu atm American Express Centurion Black Card. Semua pengunjung menyaksikan hal tersebut dan terpana.


Nyali Elena sudah semakin habis. Ia dibuat malu dengan lelaki dihadapannya ini. Tak hanya Elena yang terkejut, tetapi Vee juga sama. Ternyata lelaki yang selama ini bersamanya memiliki kekayaan yang sangat melimpah.


"Apa kau sudah percaya, nona?" Ujar Marcus kemudian menarik tangan Vee pergi dari toko itu.


_______


Setelah pertengkaran itu selesai, Marcus mengajak Vee pergi dari pusat perbelanjaan menuju rumah.


"Sepertinya aku kurang meneliti setiap petak rumah ini," ucap Vee kagum. Marcus hanya diam sambil menyiapkan kudanya yang akan Ia tunggangi.


"Aku belum pernah berkuda seumur hidupku," ucap Vee sambil mengelus kuda putih dihadapannya itu.


"Dan sepertinya hari ini sangat menarik bila digunakan untuk berkuda," sambung Vee.


Marcus masih tetap fokus dengan kudanya.


"Berapa jumlah kudamu?" Tanya Vee.


"Delapan," jawab Marcus.


"Bagaimana cara agar aku bisa menunggangi kuda?" Tanya Vee lagi. Gerakan tangan Marcus berhenti. Ia berbalik badan menatap Vee.


"Aku akan mengajarimu," jawab Marcus kemudian mulai menaiki kudanya. Vee hanya diam memperhatikan cara menunggangi kuda seperti yang dicontohkan oleh Marcus.


Beberapa menit kemudian kuda Marcus berhenti tepat disamping Vee. "Bagaimana?" Tanya Marcus.


"Sepertinya mudah sekali," jawab Vee. Kemudian ia mulai naik pada kuda putih cantiknya itu. Namun tanpa disangka, kuda yang akan ia naiki mengangkat kedua kakinya, Vee hampir saja jatuh. Beruntung tangan Marcus sigap menangkap tubuhnya.


Marcus membantu Vee berdiri. Suasana menjadi sedikit lebih canggung karena kejadian tadi. "Menunggangi kuda sama seperti bertemu dengan orang baru. Ia butuh adaptasi sebelum kau tunggangi," ucap Marcus sambil mengelus rambut kuda itu.


Vee hanya tersenyum kikuk. Suasana menjadi canggung karenanya. Ia benar-benar ceroboh. Vee mengelus rambut kuda putih itu dengan sayang. "Apa aku bisa menaiki kudanya sekarang?" Tanya Vee. Marcus mengangguk. Vee berhati-hati menaiki kuda putih itu.


Dan benar saja, kuda itu nurut padanya. Marcus menarik tali kudanya, menuntun Vee untuk menunggangi kuda dengan benar, sambil sesekali menjelaskan.


.......


.......


.......


...TO BE CONTINUED...


...DONT FORGET TO VOTE AND COMMENT ABOUT THIS CHAPTER...


...THANK YOU...


^^^S H A A N ^^^