
8.30 PM
Malam ini langit sedang dihias dengan bintang dan bulan yang begitu cantik. Tidak ada awan gelap yang menutupi cahaya dari aksesoris langit itu. Vee nampak sangat sibuk membuat semua sosis dan daging terbakar diatas panggangan. Benar. Ia ingin membakar beberapa sosis dan juga daging dihalaman belakang.
"Apa semua bahannya sudah siap, Lucy?" Tanya Vee sambil menata sosis diatas panggangan dengan rapi.
"Sudah nona," jawab Lucy.
"Baiklah, bisakah kau panggilkan tuanmu kemari?" Ucap Vee.
"Tentu saja nona," jawab Vee. Tak lama kemudian Lucy pamit untuk pergi.
Kemudian Marcus datang. Masih bingung apa yang ingin dilakukan gadis itu di rumahnya. "Kau sedang apa?"
Vee sontak menoleh sebentar, "aku sedang memanggang sosis dan daging. Ini sebagai ucapan terima kasihku."
Lalu vee mengangkat sosis dan daging yang sudah matang dan disajikan diatas tikar. Meskipun menu utamanya hanya daging dan sosis, tapi Vee merasa hal ini cukup sebagai ungkapan terima kasihnya pada Marcus.
Mereka mulai duduk diatas tikar. Vee menuangkan wine digelas Marcus dan miliknya. Kemudian ia menyajikan sosis dan daging untuk Marcus. "Makanlah, selagi masih panas," ucap Vee.
"Aku tidak bisa makan lewat pukul 8 malam," ucap Marcus, lalu menyeruput wine-nya.
"Mungkin kau bisa tidak melakukannya hanya untuk malam ini. Sosis dan daging ini benar-benar enak. Apa kau tidak tergiur?" Ucap Vee sambil menikmati makanannya.
Marcus hanya menatap Vee sejenak, lalu menatap sekeliling halamannya. "Aku melakukannya untuk menjaga stamina dan porsi tubuhku."
"Ku rasa tubuhmu sangat sehat, jadi tidak masalah bila makan makanan lewat pukul 8 hanya untuk sekali," ucap Vee.
"Kalau kau tidak mau, akan ku habiskan," sambung Vee sengaja menggoda Marcus agar mau memakannya.
"Makan saja," jawab Marcus.
Vee rasa Marcus adalah tipe lelaki yang tidak mudah digoda. Padahal sosis dan daging dihadapannya ini benar-benar menggiurkan. Tanpa berpikir lagi, akhirnya Vee memakan sosis dan daging itu.
"Aku melakukan ini sebagai ucapan terima kasih selama aku disini. Tapi kau malah tidak menghargai usahaku," ucap Vee sedikit kecewa dengan perlakuan Marcus padanya.
"Aku sangat menghargai usahamu," ucap Marcus.
"Kalau begitu kenapa kau tidak makan hasil usahaku?" Tanya Vee.
"Bukankah sudah kukatakan?" Ucap Marcus.
"Setidaknya kau menghargai dengan memakannya," ucap Vee. Marcus hanya diam. Kemudian.
"Kapan kau akan pergi?" Tanya Marcus. Ekspresi Vee nampak sedikit kegirangan karena Marcus bertanya tentang hal itu padanya. Ia berharap Marcus bisa menemaninya sebelum ia pergi meninggalkan Miami.
Padahal ada makna lain dari kalimat Marcus itu. Bukankah kalimat itu adalah kalimat untuk menyuruh Vee cepat pergi?
"Hanya tinggal 2 hari dan aku akan pergi," ucap Vee.
"Baguslah," jawab Marcus. Ekspresi Vee seketika berubah, tidak sesuai dengan harapannya.
"Kau berharap agar aku cepat pergi?" Tanya Vee.
"Tidak, atau kau yang berharap aku mencegahmu pergi?" ucap Marcus.
Vee tertawa hambar, "tidak pernah terlintas sama sekali," jawab Vee.
"But... yeah thank you for all your kindness. Dan terima kasih sudah menolongku dipusat perbelanjaan tadi. Aku akan mengganti uangmu secepatnya," ucap Vee.
"No problem, I think that's how I help others," jawab Marcus.
"Dan aku juga berterima kasih padamu telah membantuku saat bertemu Emma kemarin," ucap Marcus, lalu menyeruput wine-nya.
Vee nampak tertarik untuk bertanya tentang Emma. "It's okey, tapi sebenarnya apa hubunganmu dengannya?"
"Dia menyukaiku, tapi aku sebaliknya," jawab Marcus.
"Sesimpel itu?" Tanya Vee, Marcus hanya mengangguk.
Dan malam itu mereka habiskan untuk berbincang-bincang. Meskipun semua jawaban yang keluar dari mulut Marcus sangat singkat, tapi masih cukup menghibur Vee malam itu.
_______
Second Days before go. 9 AM
Hari ini Vee menghabiskan waktunya untuk tidur. Sudah lama sekali ia tidak menghabiskan waktunya untuk bermalas-malasan. Vee mengecek ponselnya. Ada notifikasi dari Sara.
Sara : kapan kau akan kembali? Leone mencarimu
Ck! Baru saja Ia bangun dan mendapatkan moodboster-nya, tapi tiba-tiba Sara menghancurkan mood hari ini. Leone, lelaki itu. Ash... mengingatnya saja ia benar-benar muak.
Bagaimana tidak? Baru saja bertemu lelaki itu sudah berani bertanya tentang kehidupan pribadinya. Padahal orang disekitarnya saja tidak pernah bertanya hal tersebut, kecuali memang bila sudah dekat dengannya. Dan Vee sangat tidak menyukai orang lain yang tidak ia kenal untuk bertanya kehidupan pribadinya.
Me : aku tidak tertarik bertemu dengannya.
Vee beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Ia ingin berendam dengan sabun aroma terapi chamomile hari ini. Setelah hampir 1 jam ia berendam, Vee keluar dari kamar mandi.
Ia melihat lampu notifikasi menyala pada ponselnya. Dan ternyata pesan dari Sara.
Sara : tapi dia sangat tertarik padamu. Temuilah dia saat kau kembali ke Washington
Vee tidak mempedulikan pesan Sara, Ia berganti baju kemudian menuju dapur untuk sarapan.
_______
Didapur Vee nampak meneliti punggung lelaki yang terekspos itu. Punggung itu adalah milik Marcus. Dan Vee baru menyadari itu. Ternyata setiap inci bagian tubuh Marcus dipenuhi dengan otot, bahkan tubuhnya membentuk bak adonan kue yang sempurna.
Vee menghampiri Marcus yang sedang mengambil beberapa makanan dilemari pendingin. "Morning," sapa Vee.
Marcus sedikit terkejut tapi kemudian menoleh pada Vee, Marcus hanya berdehem untuk menjawab kata sapaan Vee.
"Ini kau, Marcus?" Tanya Vee.
"Kau pikir siapa? Hantu?" Ucap Marcus. Kemudian Ia melahap potong buah naga dan mengunyahnya.
"Bukan, wajahmu seperti sangat berbeda. Kau lebih rapi dan terlihat tampan," puji Vee.
"Kau berharap aku mengucapkan terima kasih?" ujar Marcus. Vee menggeleng tidak membenarkan.
Memang benar. Pagi ini wajah Marcus sangat berbeda. Kumis dan jenggotnya yang menebal sudah ia cukur dan hanya menyisakan sedikit rambut disana. Bahkan rambutnya yang terlihat tidak tertata kini terlihat rapi seperti sudah dipotong oleh Marcus.
Tapi kemudian dering ponsel Vee berbunyi. Tertera panggilan video call dari Sara. Vee mengangkat panggilan itu dan sedikit menjauhkan jarak ponsel itu dari wajahnya.
"Kau sudah membaca pesanku, kan?" Tanya Sara tanpa langsung berbasa basi.
"Sudah," jawab Vee.
"Kalau begitu temui dia, ada yang ingin dibicarakan katanya," ucap Sara.
"Aku tidak bisa, Sara. Kau tau kan aku tidak suka dengan lelaki yang terlalu banyak bertanya tentang kehidupan pribadiku," ucap Vee malas.
"Aku tau, maka dari itu Ia memintaku untuk bisa bertemu denganmu," ucap Sara.
"Siapa lelaki disampingmu itu, Vee?" Tanya Sara. Vee baru menyadari bahwa punggung Marcus terlihat dari layar ponselnya.
Vee nampak bingung harus berkata apa. Tapi kemudian otak cerdasnya memiliki ide cemerlang. Vee menarik tubuh Marcus untuk lebih dekat dengannya hingga sama-sama berhadapan dengan ponsel Vee.
"Siapa dia Vee?" Tanya Sara. Sepertinya gadis ini sedikit bungkam ketika melihat wajah Marcus.
"Dia kekasihku," jawab Vee asal. Tatapan Marcus sedikit melotot. Namun didetik berikutnya ia mengikuti alur permainan Vee.
"Perkenalkan, dia Marcus, dan dia adalah Sara, sahabatku," ucap Vee memperkenalkan. Sara tersenyum kikuk. Sepertinya percakapannya tadi terdengar oleh kekasih Vee.
"Kau menghilang selama 2 minggu lalu kembali dengan sudah memiliki kekasih? Oh My God... pulang dan ceritakan tentang hubungan kalian padaku, Vee," ucap Sara disebrang telpon.
"Sepertinya tidak akan, karena kau pasti juga menyuruhku bertemu dengan Leone setelahnya," ucap Vee.
"Siapa itu Leone, sayang?" Tanya Marcus dengan suara beratnya. Oh shit! Suara serak itu benar-benar terdengar sangat seksi ditelinganya. Vee terpesona mendengarnya.
"Bukan siapa-siapa, hanya saja dia-"
"Dia menyukaimu? Katakan padaku jika dia tidak menyukaimu," ucap Marcus.
"Dia menyukaiku," jawab Vee.
Oh tidak... sepertinya Vee dan Marcus benar-benar cocok bila sudah berakting. Bahkan dramanya pun seperti dibuat nyata.
"Shit! Mau kupisahkan kepala dengan tubuhnya? Beraninya dia menyukaimu!" ucap Marcus dengan nada menyeramkan. Vee memasang wajah takut dengan kata-kata Marcus.
"Ehem... sepertinya kalian sedang memiliki masalah, lebih baik kalian selesaikan dahulu, aku permisi," ucap Sara lalu menutup sambungan telponnya.
Setelah sambungan itu terputus, suasana menjadi awkward dan mereka canggung satu sama lain. Tapi kemudian Marcus meninggalkan Vee di dapur.
"Terima kasih," teriak Vee ketika punggung Marcus hampir menghilang dari hadapannya.
.......
.......
.......
...TO BE CONTINUED...
...DONT FORGET TO VOTE AND COMMENT ABOUT THIS CHAPTER...
...THANK YOU...
^^^S H A A N ^^^