
Setelah keributan tadi, jelas nasib kami tidak berakhir dengan mulus. Sebelum melerai Masa dan Galih, ternyata Dokter Tiar sudah melapor pada wali kelas kami lewat saluran telefon sekolah. Jadilah kami dibawa ke ruang bimbingan konseling. Aku sih cukup aman, karena cuma saksi. Hanya saja, biarpun saksi, aku masih tetap harus diinterogasi.
“Calliope, coba jelaskan ke Ibu, ada apa sebenarnya ini?” tanya Bu Kirana.
“Tadi tangan saya yang lagi sakit ditarik sama Galih, terus Masato nolongin saya. Dia menarik rambut Galih. Setelah itu Masato malah narik kerah bajunya Galih. Begitu, Bu.”
Galih dan Masa melirikku bersamaan. Dari sorot mereka, bisa terbaca kalau mereka tidak puas dengan penjelasanku yang kesannya memojokkan mereka bersamaan. Tapi, memang kenyataannya begitu kan?
“Ak... aku gak sadar, Li. Aku harap kamu dengerin aku, Li. Mau kan?” Galih memohon.
Sedari tadi Galih terus berkata aku, aku, aku, dan aku. Jadi penasaran, sampai mana keegoisannya. Dia datang padaku dengan alasan khawatir, tapi tujuan sebenarnya adalah agar dia berhasil membujukku untuk menjadi pacarnya. Buktinya, dia tidak sadar kalau tanganku sedang terluka. Padahal sudah jelas tanganku diperban begini. Bahkan sudah disindir begini pun dia tidak minta maaf.
“Saya tidak mengelak telah menarik rambut Galih, tetapi saya tidak menyesal.” Ujar Masa.
Uwah... ini bocah malah menambahkan minyak ke dalam api.
‘BRAK!’
Kami bertiga dan guru BK lainnya terperanjat, karena Bu Kirana memukulkan gulungan buku di tangannya di atas meja keras-keras.
“Pintar ya, kamu sekarang!” amuk Bu Kirana.
Bu Kirana ini memang terkenal sebagai guru yang galak. Padahal kalau dibandingkan guru BK lainnya, dia belum terlalu senior. Tetapi, aura dan wibawanya membuatnya begitu ditakuti oleh para murid.
Galih yang ketakutan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sementara, melihat dari getaran tubuhnya mungkin Masa juga tidak jauh berbeda, namun dia masih mengangkat kepala dengan pandangan mata lurus ke depan.
“Calliope, apa ada yang ingin kamu sampaikan lagi sebelum kamu kembali ke kelas? Kamu masih butuh istirahat kan?” tanya Bu Kirana.
“Saya cuma mau bilang kalau Masato cuma mau nolongin saya tadi. Jadi, saya mohon supaya Masato tidak dihukum.” Jawabku.
“Itu tergantung bagaimana sikap pahlawan kamu ini. Sekarang kamu kembali ke kelas saja. pelajaran sudah dimulai dari tadi, tapi kamu masuk saja. Saya sudah minta izin ke guru kamu.” Ujar Bu Kirana kemudian.
“Baik, Bu.”
Terpaksa aku menuruti perintah beliau. Padahal aku masih ingin menunggui Masa. Bagaimanapun dia mendapatkan masalah gara-gara aku.
Mungkin hukumannya tidak akan berat karena Galih tidak terluka parah. Hanya rambutnya saja yang rontok puluhan helai. Tetapi, aku tetap tidak akan terima apapun hukumannya. Karena, menurutku apa yang dilakukan Galih padaku itu lebih parah.
Baru setelah sekitar satu jam kemudian, Masa kembali ke kelas. Galih juga pasti sudah kembali ke kelasnya
sendiri.
Dari wajahnya yang begitu merah padam dan dahinya yang berkerut, aku menebak bahwa hasil pembicaraan mereka tidak berjalan baik. Apa lagi Masa yang duduk tepat di sebelahku sama sekali tidak menengok padaku. Dan aku sendiri tidak berani bertanya.
*
Tepat pukul 13.15 bel pulang pun berbunyi. Mendengar irama bel sekolah yang membunyikan lagu ciptaan Beethoven ini membuatku bernostalgia lagi. Tetapi, daripada memikirkan hal itu, ada hal penting lain yang harus ku lakukan.
“Masa, tunggu!” seruku sambil mengejar Masa yang sudah beranjak dari kelas.
“Masa!” panggilku lagi setelah berhasil mengejarnya.
Sayangnya, lagi-lagi dia tetap diam. Kalau begini, tidak ada cara lain.
‘Duk!’
Ku toyor kepala Masa dengan tangan kiriku. Barulah kemudian berhenti dan menengok ke arahku.
“Dari tadi dipanggil gak nengok. Kenapa, sih?!”
Masa kembali memalingkan kepalanya dariku dan berjalan. Namun, kali ini langkahnya lebih pelan. Dia juga menjawab, “Aku lagi jelek.”
“Pft.”
Aku mencoba menahan tawa mendengar jawabannya.
“Kalau lagi kecut gitu juga ganteng, kok.” Ucapku.
Dari samping bisa ku lihat pipi dan telinganya yang merah merona. Melihat Masa yang seperti itu, entah kenapa ada sebuah perasaan yang bangkit dalam hatiku yang membuatku ingin terus menggodanya.
“Mirip siapa tuh ya... namanya? Dao Ming Si?”
Masa menghentikan langkahnya, lalu menatapku. Ku berikan senyum terbaikku padanya yang masih saja nampak kesal.
Tapi, tiba-tiba Masa melakukan hal yang tak bisa ku duga.
“Hmmmpphh!!!”
Tangan Masa membekap mulutku, lalu membopongku seperti di pinggangnya. Sungguh bukan pemandangan yang romantis sama sekali dan tentu saja memalukan.
“Makanya jaga tuh mulut! Ga usah ngomong macem-macem!” omelnya.
“Hmmp! Hmm...mmm...mmm... mehmp! (Iya! Aku gak bakal ngomong macem-macem lagi, deh!)” kira-kira seperti itu yang ingin kusampaikan pada Masa, walaupun sudah pasti tidak tersampaikan sama sekali.
Setelah kami berada di gerbang sekolah, barulah Masa melepaskanku. Itu pun karena dia dihentikan oleh guru olah raga yang kebetulan melihat kami berdua. Akibatnya, lagi-lagi Masa dimarahi. Dan aku yang berada di sampingnya, terus menahan tawa.
“Seneng banget kayaknya.” Ujar Masa sambil menyenggolku.
“Emang! Hahahahaha!” gelakku puas.
Lagi pula salah sendiri sudah membopongku seperti itu.
“Iya, deh. Maaf.” Ucap Masa.
Kami berdua duduk berdampingan di dalam bus menuju rumah kami. Entah bisa disebut beruntung atau tidak, bus yang kami tumpangi sekarang tidak terlalu padat. Mungkin karena kami pulang lebih terlambat dari yang lain.
Setelah itu, Masa menceritakan hasil pembicaraan mereka dengan para guru. Ternyata, permintaanku untuk membebaskan Masa dari hukuman tidak dikabulkan. Tetapi, untung saja hukuman mereka cukup ringan. Mereka hanya diminta untuk membersihkan toilet tiga kali seminggu selama satu bulan mulai besok.
“Berarti kalian bakal bareng terus dong?”
Masa mendecakkan lidahnya.
“Ck. Kenapa? Iri?” tanyanya.
“Pfft. Nggak, lah. Ngapain iri sama orang yang dihukum bersihin toilet selama sebulan?”
Masa menatapku dengan serius. Alisnya sampai seperti menyatu saking dia kerutkan sekerut-kerutnya.
“Maksudku, aku kan bakal sering bareng sama si cowok najis itu. Emang kamu gak iri?”
Ku gelengkan kepalaku.
“Nggak. Udah bosen sama dia.” Tegasku.
“Hmmm???”
Rrr...
Wajar saja sih, kalau Masa sampai seheran itu. Aku yang biasanya selalu semangat setiap kali membicarakan Galih, tiba-tiba saja berkata bahwa aku sudah bosan padanya.
“Anggap aja kalau aku udah melek.” Kataku.
“Oo... bagus, sih. Tapi, masa mendadak banget.”
“Udah lah. Yang penting kan aku udah melek.”
Jawabanku itu mungkin tidak terlalu memuaskan untuk Masa. Namun, setelah itu dia tidak lagi membicarakannya.
“Eh, aku turun duluan, nih.” Kataku kemudian.
“Ok. Ati-ati.” Sahut Masa.
Bus trans pun berhenti di haltetujuanku. Sambil melambaikan tanganku pada Masa, aku turun dari bus. Masa juga membalas lambaian tangan itu bahkan setelah aku keluar dari halte.
Setelah mengangkut seluruh penumpang baru, bus trans pun melanjutkan perjalanannya. Sungguh pemandangan yang lama sekali tidak ku lihat. Terutama karena desain bus tadi berbeda dengan yang biasa ku lihat di masa depan.
Begitu pula dengan jalanan yang saat ini ku tapaki. Semenjak kuliah, aku jarang pulang ke kota ini. Bahkan setelah lulus pun aku mendapatkan pekerjaan di kota lain yang jaraknya sekitar tiga jam dari kota ini.
Dengan pelan aku menelusuri jalan pulang menuju rumah sambil mengingat-ingat seperti apa area di sekitarnya. Dan ternyata memang sama seperti dulu.
Setelah berjalan selama sepuluh menit, sampailah aku di rumah lamaku. Kurogoh saku depan tasku untuk mencari kunci rumah yang dulu selalu kutaruh di sana.
“Wah, sampai tempat nyimpen kunci juga sama seperti dulu.”
Ku ambil kunci itu dari sana, lalu dengan kunci itu, aku membuka pintu rumahku.
‘Cklek’
Pintu pun terbuka. Sama seperti memoriku, tidak ada yang menyambutku saat pulang. Dulu kupikir Ibuku tidak menyayangiku, karena selalu bekerja dan pulang larut malam. Namun, setelah tinggal bersama lagi, aku baru menyadari bahwa itu salah. Ibuku hanya tidak tahu bagaimana menjelaskan rasa sayangnya padaku.
Meskipun banyak gosip yang beredar di antara perumahan, karena Ibuku yang selalu pulang larut, Ibuku tetap menjalankan pekerjaannya. Dulu aku tidak tahu bahwa Ibuku mengemban tanggung jawab yang besar di perusahaan kakekku yang kaya raya.
Kini setelah lebih dari sepuluh tahun, Ibuku melepas posisinya pada pamanku. Aku sendiri juga tidak berminat untuk bekerja di sana. Mungkin terdengar naif, tapi aku tidak ingin melakukan nepotisme. Karena itu, aku memutuskan untuk bekerja di tempat yang tidak ada hubungannya dengan kakekku.
“Semuanya terasa terlalu nyata. Mungkinkah ini benar-benar bukan mimpi?”