
Inikah kekuatan anak muda yang masih tinggi staminanya? Aku berlari sekencang itu pun napasku masih stabil. Tidak seperti biasanya yang jalan ke ruang divisi lain di sebelah saja langsung ngos-ngosan. Atau karena ini adalah mimpi, jadi semua yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin.
Apapun itu, aku senang. Karena akhirnya aku bisa menolak pernyataan cinta seseorang yang nantinya akan menyakitiku.
Mungkin tindakanku ini terkesan kontradiktif. Katanya ingin punya pacar, tapi kenapa malah menolak saat ada yang menyatakan cinta?
Tentu saja aku punya alasan yang kuat untuk itu. Jika ini adalah mimpi tentang masa lalu, pasti kejadiannya akan mirip seperti aslinya.
Aku ingat betul apa yang terjadi saat itu. Galih menyatakan cintanya padaku, kemudian aku menerimanya. Jujur saja dulu aku sempat naksir padanya, karena dia tampan, pintar, dan jago olah raga. Pokoknya tipikal jagoan di drama-drama sekolah. Tetapi, itu adalah awal dari penyesalanku.
Setelah aku mengiyakan pernyataan cintanya, tiba-tiba teman-teman Galih muncul dari balik pohon sambil bertepuk tangan, bersorak, dan ada pula yang bersiul. Awalnya kupikir mereka memberikan selamat pada kami. Tetapi, ternyata aku terlalu naif.
Aku ingat betul ucapan salah satu di antara mereka.
“Wah... hebat juga, lo. Belom ada lima detik udah langsung diiyain. Kalah taruhan deh gue.” Katanya.
Benar. Ternyata aku cuma dijadikan bahan taruhan. Bayangkan saja betapa malunya aku saat itu. Hatiku juga hancur, karena orang yang kuanggap baik ternyata menyakitiku seperti itu.
Tetapi setelah kejadian itu, aku jadi tahu bahwa sebetulnya aku tidak benar-benar jatuh cinta pada Galih. Namun, tetap saja traumanya masih membekas. Hingga saat aku benar-benar jatuh cinta pada seseorang aku takut untuk menerimanya.
“Lho, Calliope. Kamu kenapa lari-lari, Call?” tanya seorang guru yang tanpa sengaja terkena pundakku saat lari tadi. Aku pun menghentikan lariku, kemudian berbalik ke arah beliau.
Nama beliau adalah Bu Risma, salah satu guru senior di SMA-ku dulu yang mengajar Fisika. beliau merupakan guru favoritku, karena cara mengajarnya tidak bertele-tele seperti guru Fisika lainnya.
“Maaf, Bu. Tadi saya terburu-buru.” Alasanku.
Dahinya yang keriput semakin berkerut.
Sebelum beliau mulai mengatakan sesuatu lagi, aku terlebih dulu berkata.
“Maaf, Bu. Saya permisi dulu. Saya tidak akan lari di selasar lagi. Permisi.”
“Eh? Eh!” seru Bu Risma.
Aku tidak menggubrisnya dan dengan langkah terburu-buru meninggalkan Bu Risma yang sepertinya agak kesal setelah aku berlaku tidak sopan. Biarlah. Toh ini cuma mimpi. Sekali-sekali berbuat begitu kan tidak masalah. Kalau sudah siuman, kelakuanku pasti tidak akan diungkit oleh beliau. Lagi pula kami sudah beda daerah sekarang. Jangankan mengungkit, bertemu pun susah.
Tapi omong-omong, sebetulnya saat ini aku tidak tahu mau ke mana alias tanpa arah. Kalau ke kelasku dulu, belum tentu ada hal yang menyenangkan. Mau ke perpustakaan juga sama saja. Yang ada malah mengingat betapa kesepiannya diriku yang tidak memiliki banyak teman.
“Asal keliling aja kali, ya?” gumamku.
Kalau dipikir-pikir saat sekolah aku jarang sekali keluar kelas maupun perpustakaan. Bentuk lapangan basket sekolahku seperti apa juga lupa.
Kutapaki satu persatu sudut sekolah yang entah kenapa bisa terlihat dengan sangat jelas sekali di mimpiku ini. lalu kini, tibalah aku di kantin sekolah yang saat ini cukup ramai. Mungkin karena saat ini adalah jam olah raga.
“Oh, iya ya. Kantin sekolahku dulu kan kayak gini, ya.” Gumamku sambil memperhatikan setiap sudut kantin.
Di kantin sekolah ini, terdapat dua pedagang. Aku tidak tahu kantin mana yang lebih terkenal enak, karena selalu membawa bekal ke sekolah. Apalagi keduanya juga sama ramainya.
“Tumben ke kantin?” tanya seorang anak laki-laki.
Saat aku menengok ke arahnya, salah satu tangan anak laki-laki itu sudah merangkulku tanpa ragu. Aku sedikit kaget karena dia melakukannya tiba-tiba. Ditambah lagi dia balas menatapku sambil memperlihatkan senyum khasnya yang begitu lebar. Melihat senyum itu, secara reflek aku ikut tersenyum.
Dia adalah Hiiragi Masato atau yang biasa ku panggil dengan Masa, salah satu dari sedikit temanku saat SMA. Aku cukup akrab dengannya. Dan dialah satu-satunya orang yang bisa kusebut ‘cinta pertama’ dalam hidupku. Aku tidak menyangka akan melihatnya lagi di mimpiku.
“Kamu kenapa sih, kok tumben agak beda?”
Walaupun masih memperlihatkan senyum, ekspresi Masa juga memperlihatkan rasa bingungnya.
“Maksudnya?”
Aku balik bertanya.
“Hmm... kamu senyum ke aku balik. Biasanya kan cuek banget, kayak nganggep aku tembok gitu.” Responnya.
Iya juga. Dulu aku selalu dingin padanya, karena aku menganggapnya terlalu suka ikut campur urusanku. Terutama jika tentang Galih. Masa adalah satu-satunya orang yang menganggap bahwa Galih bukan orang baik. Karena itu, dia selalu berusaha mencegahku untuk dekat dengan Galih.
Memang waktu itu aku terlalu buta. Aku pikir, semua siswa yang selalu mendapatkan nilai tinggi di setiap mata pelajaran itu sudah pasti orang baik. Apa lagi dia tampan, anak bupati dan banyak teman. Kurang apa lagi?
Dulu aku menerima cinta Galih dan berhasil dipermainkan olehnya. Aku begitu menyesal tidak mendengarkan nasihat Masa saat itu. Masato lah satu-satunya orang yang mau mendengarkan curhatku dan menungguiku sampai aku berhenti menangis. Mungkin, sejak saat itu aku sudah jatuh cinta padanya. Meskipun pada akhirnya aku tidak bisa mengungkapkannya.
“Malah ngelamun. Kesurupan, ya? Aku jitak, nih!”
‘Tak!’
Masa benar-benar menjitakku dengan keras.
Dia melepas rangkulannya, lalu bergidig takut saat melihatku.
“Aku cuma seneng ketemu lagi sama kamu.” Ucapku jujur.
Mendengar itu, Masa malah semakin terheran-heran bahkan mundur satu langkah dari tempatnya tadi.
Rrr... sepertinya aku harus mendatarkan wajahku lagi, dari pada melihat Masa seperti ini.
Kutangkup wajahku dengan kedua telapak tanganku, lalu ku buka lagi. Ku perlihatkan wajah cuek seperti yang biasa dia dapat dariku. Setelah itu, barulah nampak perasaan lega di wajah Masa.
“Ya udahlah. Aku mau beli makan dulu. Kamu mau nitip?” tawar Masa.
“Samain kayak kamu aja.” Aku menyahut.
“Yakin? Emang kamu mau mau semur jengkol juga?”
“Ck.” Aku berdecak.
“Kalau emang ada semur jengkol, boleh juga. Toh, aku bawa sikat sama pasta gigi di tas kan?” lanjutku.
Masa memutar bola matanya dengan jengah.
“Oke. Aku ambilin semur jengkol beneran, nih.” Kata Masa yang kemudian pergi menuju warung tujuannya.
Siapa juga yang percaya kalau ada semur jengkol di kantin. Aku paham betul kalau tadi Masa hanya bercanda. Well, kalau ada pun tidak masalah untukku. Sebagai orang dewasa yang sudah mencoba berbagai makanan untuk bertahan hidup, jengkol bukanlah suatu halangan.
Tak lama kemudian, Masa kembali dengan sebuah nampan di tangannya. Dari aroma makanan yang datang, jelas sekali kalau tidak ada jengkol di sana.
“Mana jengkolnya?” tanyaku iseng, karena ternyata dia malah membawa nasi goreng.
Masa mendengus, lalu menyahut, “Kamu gak serius kan?”
“Hehehe.” gelakku.
Kini Masa yang justru melamun. Matanya terus tertuju padaku, menatapku dengan tajam.
Gara-gara itu, aku jadi curiga ada sesuatu di wajahku. Aku pun meraba-raba wajahku, kali saja ada hal aneh yang menempel di wajahku.
“Kayaknya ga ada yang aneh.” ujarku.
“Senyum kamu yang aneh.” kata Masa.
“Hah!?”
“Pas diem aja jelek, harusnya pas senyum juga jelek, dong.” Begitu alasannya.
Ah, dasar cowok tsundere. Mau memuji saja, harus meledek dulu.
Ini nih, salah satu kami tidak bisa pacaran dulu. Aku tidak berani mengungkapkan perasaan padanya karena trauma, sedangkan Masa terlalu malu untuk mengaku.
“Aku juga tahu kok, kalau aku jadi cakep kalau senyum. Tapi aku simpen aja, soalnya pasti orang lain bakal klepek-klepek lihatnya.” Candaku.
“Ckckck... sejak kapan sih, karakter kamu jadi narsisistik gini?”
“Aku bukan narsis, tapi jujur.” Sanggahku.
“Oh, ya?” tantang Masa.
Dia lalu mulai menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
“Beneran. Aku juga bisa bilang jujur kalau kamu lebih ganteng dan keren dari Galih.” Ujarku.
‘Hukkk!!’
Karena tersedak, Masa memukul-mukul dadanya. Segera kuambilkan air putih dari galon yang terletak tak jauh dari meja kami. Kuberikan air putih itu agar dia meminumnya.
‘Gluguk gluguk’
Setelah meminumnya, Masa menghentakkan gelas yang dia pakai di atas meja hingga terdengar suara gebrakan yang cukup keras. Beberapa orang melirik kami, untuk mencari tahu penyebab suara tadi.
Sementara itu Masa semakin melotot padaku. Wajahnya begitu merah karena dia habis tersedak. Atau... mungkin karena hal lain?