
“Masih mau minum lagi?” tanyaku.
Masa terus melotot padaku. Dan bukannya menjawab pertanyaanku, Masa malah bangun dari duduknya. Dia kemudian berkata, “Aku pergi dulu. Kamu lanjut makan aja. Udah dibayar, kok.” Dan setelah itu, pergi meninggalkanku.
Wow!
Aku sampai kagum, saking cepatnya dia pergi. Kecepatannya itu pasti didapat dari kakinya yang sangat panjang itu. Sekali lihat saja sudah bisa dipastikan kalau seluruh tubuhnya yang kurang lebih setinggi 180 cm itu tujuh puluh persennya cuma kaki. Padahal masih kelas 11, tapi sudah sejangkung itu. Aku ingat betul saat pertama kali bertemu dengannya saat masih kelas 10, dia 5 cm lebih pendek dariku yang cuma 160 cm ini.
“Ya udah, makan aja, deh. Lagian sayang udah dibayar. Walaupun ini mimpi.” Pikirku.
Kusendokkan nasi goreng dari piringku, lalu begitu nasi goreng itu masuk ke mulutku, lagi-lagi aku menemukan hal yang mengganjal. Ku pikir, karena ini mimpi, seharusnya aku tidak bisa merasakan apapun, termasuk rasa dari nasi goreng ini. Tetapi, saat ini dengan sangat jelas aku bisa tahu rasa dari nasi goreng ini yang pedas dan manis kecap. Ada aroma bawang merah dan putih yang cukup menyengat juga.
Kalau ini mimpi, bukankah wajarnya aku tidak merasakan makanan yang ku makan di mimpi dengan jelas? Apa saking laparnya aku sampai mimpi makan nasi goreng? Tetapi, tadi kan aku habis makan bersama kolegaku. Aku tidak ingin menebak-nebak sembarangan. Karena itu untuk memastikannya, sekali lagi aku menyendok nasi goreng itu lagi.
“Aw!” pekikku lirih.
Ku lepaskan sendok yang ku pakai, lalu ku buka tanganku lebar-lebar.
“Darah!?” teriakku saking kagetnya. Gara-gara itu, sebagian orang di kantin memperhatikanku.
Aku baru sadar kalau telapak tanganku penuh goresan sampai seperih ini kalau menyentuh sesuatu. Mungkinkah ini karena terjatuh tadi? Kenapa baru terasa sekarang? Dan ini perih sekali.
“Mbak kenapa?” tanya pemilik warung yang nampak khawatir. Dia pasti kaget karena aku berteriak tadi.
“Nggak papa, Bu. Tadi saya jatuh, terus baru sadar kalau telapak tangan saya lecet.” Jawabku.
“Ya ampun, Mbak. Ke UKS aja, ya. Itu pergelangan tangan kiri Mbak juga sampai bengkak, lho.”
Aku menarik napasku saking kagetnya. Padahal tadi cuma kemerahan saja. kenapa sekarang jadi bengkak begini?
“Ini nasinya gimana, dong?”
“Kok mikirin nasi sih, Mbak? Nanti saya bungkuskan, tenang saja. sekarang Mbak ke UKS saja ya. Mau saya antar atau...”
Bibi kantin itu terlihat enggan melepasku. Namun, aku bersikukuh.
“Saya sendiri saja ke sananya, Bi. Terima kasih.”
Aku pun segera berdiri, lalu pergi dari kantin menuju UKS.
Lokasi UKS di sekolahku tidak jauh dari kantin. Hanya perlu melewati satu belokan, sampailah di sana.
“Permisi.” Ucapku begitu masuk ke dalam ruang UKS.
Di ruangan itu terdapat seorang siswa lain yang sedang beristirahat. Sedangkan guru UKS sedang membaca buku yang seharusnya tidak boleh dibaca di sekolah. Bukan porno, tapi komik.
SMA Swasta Garuda tempatku bersekolah ini memang cukup elit di kota asalku. Guru-guru yang mengajar kebanyakan lulusan perguruan tinggi terkenal dan terjamin kualitasnya. Karena itu, tidak heran kalau siswa-siswa di sini juga banyak yang berprestasi di berbagai bidang. Bangunannya sangat modern seperti sekolah-sekolah yang selalu muncul di sinetron dan film. Sarana prasarananya selalu ter-update dan terlengkap. Bahkan UKS pun sampai ada dokternya.
Beliau nampaknya tidak sadar kalau ada yang datang. Aku pun kemudian mengetuk pintu UKS dan kembali menyapa.
‘Tok! Tok!’
“Permisi, Dokter Tiar!” seruku.
Dokter sekolah yang ku panggil Dokter Tiar itu terperanjat dan menyembunyikan komik yang sedang dibacanya.
“Hai. Ada yang bisa dibantu?”
Aku pun memperlihatkan tangan kananku yang terluka.
“Duduk sini bentar!” perintahnya sambil menggeret sebuah kursi ke depan meja kerjanya, lalu pergi untuk membuka kulkas.
“Ini pakai dulu. Saya siapkan perban sama obatnya dulu.” katanya lagi sambil menyerahkan sebuah botol minum air mineral dingin.
“Ini buat saya minum, Dok?” tanyaku bingung.
Dokter sekolah itu mendengus, kemudian menjawab, “Buat kompres. Saya belum bikin es batu.”
Bibirku membulat paham. Lalu sesuai instruksinya, botol minum dingin itu pun ku tempelkan di pergelangan tanganku yang semakin membengkak.
Tak lama kemudian, Dokter Tiar kembali dengan membawa berbagai macam peralatannya. Dia kemudian mulai dengan membersihkan luka di telapak tanganku.
“Iiisshhh!” rintihku perih.
Dengan teliti Dokter Tiar mengobati lukaku dan membungkusnya dengan perban.
“Nah, selesai. Ada lagi yang sakit?” tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku.
“Saya akan kembali ke kelas dulu, Dok.” Ucapku.
Kemudian, aku keluar dari UKS. Namun, baru juga aku sampai di pintu, aku dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang tidak ingin kutemui saat ini.
“Hai, Li.” Sapa Galih.
Kuturunkan pundakku seiring dengan dengusan kasar yang keluar dari hidungku.
“Kamu kenapa di sini?” tanyaku.
“Aku dengar kamu terluka dan ke UKS. Jadi, aku khawatir. Kamu gapapa, kan?” jawabnya.
Galih lalu melihat tanganku yang dibalut perban dan mencoba meraihnya. Tetapi, aku lebih dulu melangkah mundur untuk menghindarinya.
“Apa itu karena jatuh tadi?” tanya Galih sambil terus menatap tanganku yang terluka.
Dari alisnya yang turun, Galih berusaha memperlihatkan kekhawatirannya padaku. Aku yang dulu pasti akan sangat senang dikhawatirkan oleh cowok paling populer di sekolah ini. Sayangnya, aku yang sekarang sudah tahu bahwa saat ini Galih sedang bersandiwara.
“Oh, iya. Aku bawain nasi goreng. Tadi dititipin sama Bi Warni, kok tumben kamu ke sana? Gak ngajak pula.”
Galih seolah tidak peduli dengan reaksiku. Dia adalah cowok dengan rasa percaya diri yang tinggi, jadi mungkin dia merasa bahwa penolakanku tadi tidak serius.
“Ternyata kamu lari tadi itu karena lapar? Harusnya bilang, dong. Aku bakal temenin kamu di kanti, kok.” lanjutnya.
Ku rebut bungkusan nasi goreng yang dia bawa dengan tangan kiriku.
“Kamu jangan deket-deket lagi sama aku. Kasihan kan Mira. Bukannya kalian pacaran?” sindirku.
Galih nampak kaget. Dia mungkin tidak menyangka kalau aku sudah tahu kebenaran yang dia tutupi dariku.
“Kamu... gimana kamu tahu kalau aku dan Mira...”
Tentu saja aku tahu. Dulu setelah aku menjadi bahan taruhan, Galih dan Mira langsung memperlihatkan terang-terangan bahwa mereka pacaran di depan umum. Bahkan ini bukan rahasia lagi di kalangan guru waktu itu. Hanya saja, karena Galih dan Mira adalah salah satu murid teladan di sekolah, tidak ada guru yang dengan tegas melarang hubungan mereka.
Karena ini, Mira yang tadinya suka sekali menindasku jadi merasa menang. Dan akhirnya terjadi pertengkaran di antara kami. Kalau dipikir-pikir waktu itu aku bodoh sekali, bertengkar cuma gara-gara cowok.
“Karena aku pernah lihat kalian mesra-meraan.” Jawabku jujur. Namun, tentu saja aku tidak akan bilang kalau aku melihat mereka bertahun-tahun yang lalu.
“Li, percaya sama aku. Itu gak seperti yang kamu kira.”
Rupanya Galih masih ingin berdalih. Dia bahkan menarik kedua tanganku dan menangkupnya di dadanya.
“Ak!!” pekikku lirih.
“Please. Aku cuma ada rasa sama kamu, Li.” Katanya lagi.
Salah satu sudut bibirku terangkat. Dalam bayanganku, dulu Galih tidak semenjijikan ini. Tetapi dilihat sekarang, malah membuatku mual. Padahal sudah jelas-jelas aku kesakitan karena dia genggam seerat ini, tapi dia malah tidak peduli. Bagaimana bisa aku percaya bahwa dia benar-benar suka padaku.
“Lepasin!” seruku sambil berusaha melepas genggaman Galih.
“Nggak! Kamu harus dengerin aku!” Galih masih memaksa.
“Galih, lepasin!”
“Nggak! Sampai kamu mau tahu alasanku! AAKKKK!!”
Kali ini Galih yang kesakitan. Rambut tebalnya dijambak kebelakang oleh Masa yang tiba-tiba datang entah dari mana.
“Calli bilang gak mau kan? Lepasin, gak?!” seru Masa.
“Akkk!!” jerit Galih.
Karena ingin melepas jambakan Masa dari rambutnya, akhirnya Galih melepaskan genggamannya dari tanganku. Setelah itu, barulah Masa melepaskan jambakannya juga.
“Kamu gak diapa-apain kan, Li?” tanya Masa.
“Nggak, sih. Cuma tanganku yang lagi keseleo malah diremet sama dia.” Jawabku sambil menunjuk ke arah Galih yang sedang membetulkan rambutnya yang kini acak-acakan.
Masa yang tidak bisa menahan amarah langsung menarik kerah kemeja OSIS Galih dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Masa, udah gak usah!” leraiku.
“Ga usah gimana? Dia udah nyakitin kamu, Li!”
Berkat bentakan Masa, mulai banyak siswa lain yang berkumpul di sekeliling kami.
“Masa, kita di sekolah. Jangan berantem, lah!” ujarku.
“Iya, sih. Ngapain berantem di UKS? Kayak gak ada tempat lain aja. Kasihan si Rafi lagi istirahat di dalem.” Tambah suara perempuan dari arah belakangku.
Aku kemudian menengok dan melihat Dokter Tiar yang sudah berkacak pinggang sambil memperhatikan kami.