My Moonlight

My Moonlight
Lubang Kelinci



‘Plak!’


Kutampar kedua pipiku secara bersamaan agar aku bisa lebih sadar.


Tidak perlu bawa perasaan sampai berlarut-larut. Seorang atasan dibenci oleh bawahannya itu hal yang wajar. Apa lagi aku sering juga memarahi dua orang itu dengan berbagai alasan. Jadi, wajar saja kalau mereka menyimpan sentimen ke padaku.


“Hyuuuh...” helaku begitu keluar dari toilet.


‘Duk.’


Karena suara benturan ringan itu aku pun menengok ke arah sumber suara. Di sana, Dewi dan Clarissa yang kupikir sudah pergi cukup jauh rupanya masih ada di sana. Wajah mereka tidak bisa menyembunyikan keterkejutan yang mereka rasakan. Mereka pasti tidak tahu bahwa sedari tadi aku berada di bilik toilet dan mendengarkan pembicaraan mereka.


Seolah membeku, mereka sama sekali tidak membuka mulut. Bahkan badan mereka tidak bergerak satu inchi pun.


Sebetulnya aku juga tidak jauh berbeda dibandingkan dengan mereka. Bedanya adalah mereka tidak tahu atau tidak bisa berkata apapun, sedangkan aku hanya malas. Mungkin beda urusannya kalau kami masih di kantor. Kalau sekarang sih, dari pada membuang tenaga aku lebih ingin segera bersantai di rumah.


Karena itu, aku pun memutuskan untuk diam saja dan melanjutkan langkahku ke luar. Saat sudah agak jauh dari mereka, ku dengar sayup-sayup suara mereka yang sepertinya panik.


Dari pada mengurusi hal itu, aku terus saja berjalan. Urusan dengan mereka bisa dilakukan besok. Toh, besok juga masih bisa bertemu. Kalau mereka cuti mendadak karena takut juga tidak bisa.


Saat ini aku sudah berada di depan lobi mall setinggi tujuh lantai ini. Aku buka aplikasi taksi online dari ponselku untuk mencari tumpangan. Sengaja baru kubuka sekarang, karena ojek dan taxi online di daerah ini cukup  anggap dengan permintaan pelanggan. Mereka pasti akan segera datang tanpa memakan waktu lama.


Terbukti saat ini taksi yang kupesan sudah ada di depanku. Padahal belum ada lima menit sejak aku memesannya.


“Mbak Calliope, betul?” tanya sang pengemudi.


“Betul, Pak.” Sahutku sembari membuka pintu belakang mobil.


“Tujuannya sesuai titik ya, Mbak?” sang pengemudi memastikan.


“Iya, Pak. Tolong agak cepat, ya.” Pintaku.


“Siap, Mbak.” Jawabnya.


Apartemen yang kutinggali saat ini berjarak agak jauh dari kantor maupun mall ini. Karena itu, aku meminta untuk mempercepat laju mobil supaya aku bisa segera menyentuh kasur.


Memang jaraknya lumayan menyita waktu. Bukannya aku tidak ingin pindah, tetapi rumah sakit tempat Ibuku sering rawat jalan berada tepat di sebelah apartemen itu. Jadi, aku pun memutuskan untuk tetap di sana sementara waktu.


Saat aku sudah fokus melamun, tiba-tiba telefonku berdering. Kuambil, lalu kulihat siapa yang menelfonku jam segini. Setelah aku tahu siapa, aku pun mengangkatnya.


“Halo, Calli.” Sapa Ibuku dari seberang sana.


“Iya, Bu.” Sahutku.


“Kamu kok belum pulang, nak?” tanyanya.


“Iya, Bu. Maaf Calli lupa bilang. Tadi ada acara perpisahan sama anak kantor yang hari ini resign.” Jelasku.


“Oh, gitu. Ya sudah, kalau gitu lanjutin aja gapapa.” Katanya dengan nada yang sepertinya cukup senang.


“Hehe... Nggak, Bu. Ini Calli sudah di perjalanan pulang.”


“Yaah...” kegembiraan Ibuku mendadakan sirna.


“Hati-hati deh, di jalan.” Lanjutnya dengan cuek dan tanpa babibu langsung memutuskan panggilannya.


Aku hanya bisa mendengus pasrah karenanya.


Ini bukan pertama kalinya Ibuku seperti itu. Kalau tidak salah, sejak vonisan penyakitnya setahun lalu Ibuku selalu mendadak senang karena aku pergi dengan orang-orang sebayaku, terutama pria, lalu langsung berubah kecewa begitu tahu bahwa tujuanku pergi tidak seperti harapannya. Seperti tadi pun, pasti Ibuku berharap bahwa salah satu dari orang yang bersamaku tadi bisa menjadi jodohku di kemudian hari.


Huh... jangankan berjodoh, menjadi teman pun ku pikir mustahil. Tanggapan mereka tentangku saja cukup buruk.


Selang dua puluh menit kemudian, aku sampai di gerbang apartemen. Aku pun segera turun dari mobil.


“Terima kasih, Pak.” Ucapku yang kemudian dibalas dengan, “Sama-sama.” oleh pengemudi taksi online itu.


Meskipun hanya sedikit, patung Merlion itu sudah bisa membangkitkan keinginan kecilku untuk pergi ke Singapura. Memang selama 30 tahun umurku aku sudah pernah berkali-kali terbang ke luar negeri untuk urusan bisnis, tetapi jujur saja aku belum pernah sekalipun pergi ke Singapura.


“Ambil cuti aja kali, ya.” Gumamku sambil memperhatikan patung itu.


Badanku mungkin tidak lelah, tapi bohong sekali kalau aku bilang hatiku juga tidak lelah. Bagaimanapun aku adalah manusia biasa yang bisa merasa sakit hati. Omongan buruk tentangku bisa selalu kuacuhkan, tetapi bukan berarti aku tidak mengingatnya.


Aku putuskan untuk memotret patung air mancur itu dengan ponselku. Entah kenapa aku ingin melakukannya. Walau sepertinya besok akan aku hapus juga.


“Gelap banget ternyata.” Ucapku.


Sambil berjalan aku memperhatikan foto yang baru saja kuambil. Kubetulkan saturasinya agar mendapatkan kecerahan yang kuinginkan, namun sayangnya percuma saja.


Beberapa langkah kuambil, hingga aku pun berdiri di angle depan patung itu. kuarahkan kembali kamera ponselku ke arah patung itu.


“Ok. Ini kayaknya lebih bagus.” ujarku.


Setelah itu, barulah aku melanjutkan perjalananku ke dalam gedung sambil mengedit foto yang baru saja kuambil. Begitu selesai, aku memasukkannya kembali ke dalam saku blazer yang kugunakan.


Namun, sesuatu yang sama sekali tidak ku duga terjadi. Saking fokusnya aku mengedit foto, aku tidak memperhatikan langkahku dengan benar.


“AAAAAAAAAAAAAKKKK!!” pekikku saat tiba-tiba aku terjatuh ke dalam lubang got yang terbuka.


Semua terjadi begitu cepat dan aku terus meluncur ke bawah sampai akhirnya aku menyentuh tanah.


“Ouch!”


Ternyata aku masih hidup. Hanya pantat dan pergelangan kakiku yang terasa sedikit sakit. Tapi, bukankah ini aneh? Aku jatuh ke dalam lubang got, bukan jatuh terjengkang. Bukankah normalnya bagian badan yang lainnya juga akan sakit atau pegal?


Yang aneh bukan hanya badanku, tetapi juga lingkungan sekitarku. Padahal ini malam hari dan seharusnya aku berada di dalam saluran air bawah tanah, tetapi di sekitarku nampak begitu terang. Dan rerumputan yang kupijak saat ini juga menambah daftar keanehan itu.


Kupijat-pijat mataku, karena bisa saja indera penglihatku yang salah. Tetapi, berkali-kali kupijat pun tetap saja


hasilnya.


“Seragam?” gumamku begitu aku menyadari bahwa aku mengenakan seragam SMA, bukannya baju kerja yang tadi kupakai.


Jangan-jangan aku pingsan, karena sepertinya aku sedang berada di dalam mimpi. Dan mimpi yang sedang aku lihat berlatar saat aku masih di SMA.


Aku membuka mata seraya berdiri dan membetulkan seragamku. Ku bersihan juga rok dan tangan yang terkena tanah dan sedikit basah.


“Kamu gak apa-apa?” seseorang bertanya.


Dari suaranya, aku menebak bahwa dia seorang anak laki-laki yang baru menginjak usia puber. Dan aku mengenal suara ini.


Lalu aku mengangkat wajahku. Saat itu lah aku menyadari bahwa aku memang mengenalnya.


“Daripada cuma bertanya, bantuin berdiri, lah.” ketusku.


Anak laki-laki bernama Galih itu terlihat sedikit tersentak. Memang saat muda dulu, aku tidak pernah berkata dengan nada seketus itu padanya. Jadi, dia pasti terkejut. Meskipun ini hanya mimpi, jujur saja aku merasa puas.


“Ng... tentang pernyataan cintaku tadi, apa kamu akan menjawabnya?” tanya Galih yang ternyata cukup cepat mengalihkan pikirannya.


Huh...


Dari berjuta kenanganku bersamanya, kenapa harus kenangan ini yang muncul di mimpiku? Entah bagaimana aku harus mengungkapkan rasa kecewaku ini.


Galih terlihat begitu gugup, tetapi rasa percaya diri tersirat dari sorot matanya. Ini sama kejadiannya seperti saat aku masih berumur 17 tahun. Galih begitu meyakinkan saat berkata bahwa dia menyukaiku dan ingin berpacaran denganku. Dan bodohnya saat itu aku berkata iya padanya.


Tetapi kali ini, kejadiannya akan berbeda. Di mimpi ini akan kulakukan hal yang seharusnya kulakukan saat itu.


“Maaf, aku gak bisa.” Tegasku.


Tanpa peduli bagaimana reaksinya, aku segera membalikkan badan dan berlari sekuat tenaga.