
π KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
π HAPPY READING π
Dengan menahan seluruh rasa kesalnya,
Arvan membuang pandanganya ke sembarangan arah, lalu dia mencoba mengikuti kemauan Jenni.
"Aku akan menggendongmu," tegas Arvan lagi, lalu berdiri dari posisinya, dan mengambil posisi untuk menggendong Jenni masuk ke dalam.
Namun, secepat kilat Jenni menepisnya, "oke Fine, aku ganti baju sendiri," jawab Jenni Pasrah.
Dia tidak ingin jika Arvan kembali melihat tubuhnya dan memakannya di dalam pesawat ini.
"0ke good," balas Arvan, sembari terus memperhatikan langkah Jenni yang masuk ke dalam kamar yang ada di pesawat itu.
Sesampainya mereka di Mansion, Arvan melihat Robert dan seluruh pelayan serta pengawalnya sudah berada di luar untuk melakukan penghormatan kepadanya.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Arvan, tanpa ingin mau menyebutkan nama terlebih dahulu.
Robert melirik ke arah Jenni yang sedang berdiri menatap ke arahnya, "dia sudah tidak ada mulai lima belas menit yang lalu Lord, Queen," ucap Robert, namun pandanganya tidak lepas dari ekspresi wajah Jenni.
Arvan menghela nafasnya berat, dia tidak tahu bagaimana cara untuk memberitahu Jenni yang sebenarnya.
"Ini ada apa sih? Kenapa semuanya jadi tegang seperti ini?" Jenni yang begitu penasaraan semenjak tadi, kini langsung menanyakaannya pada Arvan, dan masih terlihat senyum itu terbit dari wajah wanita yang sedari tadi hanya diam tanpa tahu harus berbuat apa.
Arvan menatap Jenni lekat, dia melihat senyum tipis itu dari wajah istrinya. Entah nanti dirinya masih bisa melihat senyum itu atau tidak? Yang jelas, firasatnya mulai mengatakan. Bahwa setelah ini, sebuah badai bencana akan mulai datang menghampiri mereka.
Tidak ada jalan pilihab lain, Arvan juga tidak bisa menutupi semua ini, dia harus mengatakaanya sekarang, atau tidak, Jenni akan semakin membencinya.
Di dalam keadaan ini, sesungguhnya Arvan ingin sekali memaki Jenni dan juga Robert, karena di saat masih ada dirinya, mereka dengan tidak tahu malunya malah saling berpandangan seperti itu.
"Jenni, aku tahu kamu adalah wanita yang kuat, kamu baik, kamu berani, tapi aku minta, untuk kali ini kamu jangan lemah sama keadaan, jangan menyerah dan tetaplah menjadi kuat." Jenni semakin tidak memgerti, kemana arah pembicaraan Arvan yang terlalu ambigu menurutnya.
Lalu, Arvan kini beralih memeluk erat tubuh istrinya, selain ingin memberikan kekuatan dan penyemangat untuk istrinya, Arvan sengaja melakukaan ini di depan Robert, agar asistennya itu tahu diri di mana posisinya dia berada.
Jika bukan karena pesan papahnya untuk selalu menjadikan Robert asistennya, mungkin detik ini juga, dia pasti akan membunuh pria itu. Jika dulu dia hanya bisa bersikap baik pada Robert, maka kali ini yang ada hanyalah rasa benci, dan keinginan untuk membunuh pria yang sudah mengabdi padanya selama berpuluh - puluh sudah mengabdi padanya selama berpuluh - puluh tahun lamanya. Karena dengan beraninya dia jatuh cinta kepada istri dari Lordnya sendiri.
Arvan menggelengkan kepalanya pelan, karena fokusnya sempat terkacau karena keberadaan Robert.
"Jenni, Tuhan lebih sayang kepada Lola, Tuhan mau, Lola berada di sisinya, Tuhan mau sahabat kamu itu beristirahat dengan tenang dipangkuan Tuhan."
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*