
π KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
π HAPPY READING π
Hari ini, sudah memasuki hari kedua mereka berada di Brazil. Setelah kemarin mereka melewati hari dengan perasaan marah dan kecewa.
Seperti hari kemarin tidak pernah terjadi, saat ini Arvan dan Jenni terlihat sedang ingin berenang bersama di pantai.
"Apakah kamu mau menggunakan sunscreennya?" tanya Arvan, sambil menunjukan sebotol sun screen pada istrinya, yang tengah tertidur di bawah payung dengan lemperan karpet yang tipis.
Jenni mengedikan bahunya singkat, namun terlihat membalikan tubuhnya, "letakan di punggungku!" Perintahnya pada Arvan.
"What?" Arvan sangat terkejut ketika mendapatkan Jenni yang begitu berani memerintahnya.
"Kenapa? Kamu tidak mau mengusapkannya di punggungku?" tanya Jenni dengan sinis.
"Baru kamu orang yang berani tegur aku seperti itu," jawab Arvan, merasa Jenni mempunyai sifat yang sangat begitu menarik.
Padahal dia jelas tahu, bahwa suaminya adalah seorang Master Lord, tetapi dirinya malah menganggap semua orang itu sama, tidak ada kasta yang berbeda, dan itu menjadi poin plus untuk Jenni di mata Arvan.
"Dulu -," ucap Arvan terhenti, ketika dengan beraninya Jenni menutup mulut suaminya agar tidak kembali bicara.
Karena dia tahu, jika Arvan pasti akan kembali membandingkan dirinya dengan Mira lagi.
"Sudah cukup, aku tahu, pasti Miramu yang terbaik," ungkap Jenni, dan lalu dia segera berdiri dan membiarkan Arvan terdiam dengan raut wajah bingungnya.
"Padahal aku hanya ingin bilang, jika dulu mamah aku selalu melakukan itu untukku," gumam Arvan pelan, tanpa bisa di dengar oleh Jenni yang saat ini sedang berdiri, menikmati udara hangat di musim panas ini.
Di saat mereka tengah menikmati kegiataan mereka masing - masing, tiba - tiba saja terlihat anak buah Arvan yang masuk dengan menampilkan wajah yang sangat pucat. "Maaf Lord," ucapnya, tidak tahu harus memulai dari mana.
Arvan menoleh sekilas menatap ke arah anak buahnya itu. "ada apa? Katakan saia! Aku tidak suka jika kalian bertele - tele," balas Arvan, yang sontak semakin membuat mereka merasa takut sendiri.
"Emh - Lord, keadaan Nona Lola saat ini sedang kritis, dan kata dokter, detakan jantungnya sudah mulai melemah," ungkap mereka.
Sebenarnya Arvan sudah tahu jika keadaan ini cepat atau lambat akan terjadi, namun dia tidak menduga jika liburanya kali ini harus terganggu oleh keadaan dari sahabat istrinya itu.
"Baiklah, kamu siapkan Jetku sekarang! Aku akan segera pulang," perintah Arvan, sebelum dia memanggil Jenni untuk bergegas pulang.
"Siap Lord," jawab mereka, dan langsung segera pergi untuk menyiapkan kebutuhan dari Lord mereka.
Arvan mulai menghela nafasnya panjang, dia menatap ke arah Jenni yang terlihat sedang menikmati keindahan pantai ini.
"Apakah senyum itu akan tetap terbit ketika kamu mendengar berita ini?" Batin Arvan, merasa tidak ingin memberitahu kepada Jenni terlebih dahulu apa yang saat ini sedang terjadi.
βKamu bicara sama aku?β tanyanya dengan polos.
βJenni, aku sedang tidak ingin bermain - main saat ini, ayo cepat kita pulang,β ucap Arvan mengajak Jenni agar segera pulang.
Dia tidak ingin, ketika nanti mereka terlambat untuk menyelamatkan Lola, Jenni malah akan menyalahkan dirinya.
βKenapa kita cepat sekali pulang? Bukankah kita baru dua hari di sini? sedangkan kamu mengatakan padaku untuk satu minggu, bukankah begitu?β Arvan sudah tidak ingin lagi menjawab pertanyaan Jenni, dia segera mengambilkan jubah mandi Milik istrinya dan lalu menggendong Jenni agar mempercepag jalan mereka.
βArvan, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri,β seru Jenni dengan menahan malu, karena orang - orang sekitar yang memperhatikaanya.
Namun, bukannya menurunkan, Arvan hanya terus menggendongnya hingga sampai di dalam pesawag Jet pribadi mereka.
"Cepat kamu ganti baju! Aku tidak mau semua pilot yang berada di sinu melihat tubuhmu yang seperti itu!" Perintah Arvan dengan tegas pada Jenni.
"Aku tidak mau," balas Jenni, menolak mentah - mentah perintah Arvan yang menurutnya sangat se - enaknya.
"Jenni, bekerja samalah, aku akan memberitahumu alasan mengapa kita pulang, jika sudah sampai di sana," ucap Arvan, kali ini dengan suara yang sedikit lembut.
"Kenapa harus nanti? Kenapa tidak sekarang saja?" Jenni selalu saja membalik kalimat Arvan yang menurutnya terlalu berputar - putar.
Bukannya dia tidak ingin jika memberitahu sekarang alasan mereka pulang dengan terburu - buru. Bahkan keduanya masih dalam menggunakan pakaian renang. Yang dapat Jenni pastikan jika keadaanya saat ini sangat - sangatlah darurat.
"Jen, kamu mau mengganti pakaianmu sendiri, atau aku yang akan menggantikan pakaianmu?" tanya Arvan dengan lembut.
Jenni melipatkan tanganya di dada, lalu menatap Arvan dengan sikap menantangnya.
"Kamu tidak akan berani melakukan itu kepadaku," jawab Jenni, tetap kekeh dalam pendiriaanya sebelum dirinya mendapatkan jawaban.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*