
๐ KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS ๐โค๏ธ๐น
๐ HAPPY READING ๐
Setelah melakukan kegiataan panas mereka tadi, kini Arvan dan Jenni terlihat tengah mengeringkan rambut mereka bersamaan.
Karena tadi Arvan merasa tidak tega dengan keadaan istrinya Yang lemas setelah melayaninya, iลu membuat Arvan berinisiatif untuk menggendong Jenni dan membawanya untuk mandi bersama.
"Van, aku lapar," keluh Jenni pada Arvan, sembari memegangi perutnya Yang sedari tadi sudah berbunyi.
Arvan melirik ke arah jam dinding, dan melihat bahwa ini sudah terlalu larut untuk meminta para pelayan untuk memasak.
"Bagaimana kalau aku saja Yang masak untuk kamu?" tanya Arvan dengan senyum Yang mengembang di wajahnya.
Jenni membulatkan matanya seketika, antara ragu dan tidak percaya dengan apa Yang dikatakan oleh suaminya.
"Aku tahu kamu tidak menyukaiku, tetapi bukan begini caranya kamu untuk membunuhku," jawab Jenni dengan suaranya Yang terdengar sangat sedih.
"Memangnya siapa Yang mau membunuhmu?" Arvan menyeritkan keningnya bingung dengan kalimat Yang dilontarkan oleh istrinya.
"Ahhh iลu, kamu pasti mau masak buat aku pasti kamu mau taruh racunkan," Jenni menuduh Arvan tanpa alasan Yang jelas. Membuat pria iลu rasanya ingin sekali menjitak kepala istrinya ini.
"Iya, aku mau kasih kamu racun, mau gak? Aku ada beli racun sianida," bukannya marah, Arvan malah menggoda Jenni agar terlihat semakin kesal.
Dengan menyeritkan matanya ลajam, Jenni malah memancing haaassrat dari Arvan kini kembali muncul. "Nah kan, kamu jangan seperti iลu kalau tidak ingin aku makan lagi," Arvan terus Saja menggoda istrinya Yang saat ini telah menjadi hiburan baru untuknya.
"Sudahlah, biar aku masak sendiri aja, lagian kamu kenapa juga mempekerjakaan pelayan sampai jam segini aja," ketus Jenni, dia melangkahkan kakinya berjalan keluar, karena merasa tidak suka dengan cara Arvan seperti iลu.
Pasalnya selama ini di Mansion miliknya pelayan akan selesai bekerja dan beristirahat di saat dirinya dan kakaknya sudah tertidur.
Tetapi Arvan, Yang merupakan seorang Master Lord, malah membiarkan semua pelayannya tidur di Jam 10.
Arvan menggelengkan kepalanya pusing melihat istrinya Yang selalu saja mengeluh tentang kerja dari pelayannya.
"Kamu mau masak apa?" tanya Arvan ketika dirinya telah sampai di dapur dan melihat Jenni Yang masih melihat lihat semua barang masakan.
Dia bukan tidak tahu, bahwa istrinya ini iลu sama sekali tidak bisa memasak, bahkan Arvan sangat tahu jika Jenni Saja tidak bisa membedakan mana garam dan mana gula.
"Jangan brisik deh, aku lagi konsentrasi ini," Jenni meletakan jari tanganya di bibir Arvan, agar suaminya iลu bisa diam dan tidak menggangunya.
"Iลu garam, bukan gula, juga dikurangin, kamu mau mati bunuh diri sendiri?" Tegur Arvan pada Jenni, namun Yang ditegur hanya menyipitkan matanya ลajam.
"Aku yang masak, jadi suka - suka aku mau berbuat apa," ketusnya, membuat Arvan langsung terdiam tanpa ingin berkata apapun lagi.
"Aahhh, terserahnyalah, ntar kalau keasinan dia juga yang rasa bukan aku," gumam Arvan, memilih menyerah dan tidak ingin menganggu kegiatan Jenni lagi.
Di saat Arvan sudah mulai mengabaikan kegiataan istrinya, kini terdengar suara jeritan Jenni yang tidak henti - hentinya terdengar hingga nyaris membuat gendang telinga milik Arvan nyaris pecah.
"Apasih Jen? Kamu itu tidak mau dibantuin, tapi teriak terus," sahut Arvan, yang terlihat sedang duduk di meja makan, dan cukup sedikit jauh dari posisi Jenni saat ini.
"Ituu," tunjuk Jenni pada hasil masakannya.
"Apa?" Arvan benar - benar sudah merasa kehabisan kesabaraan menghadapi istrinya ini.
"Telurnya kenapa gak sama kaya biasa aku makan?" tanya Jenni bingung. Pasalanya jika bisa dia memakan telur bewarna putih, maka telur ini tidak menampilkan warna sama sekali, atau masih terlihat warna cream.
Dengan pasrah Arvan bangkit dari posisinya dan melihat hasil masakaan istrinya yang tadi mengakui tidak ingin diganggu.
"Asataga Jennifer," pekik Arvan sudah terdengar sangat luar biasa, ketika melihat makanan yang tidak biasa.
Bahkan sangking nyaringnya, Jenni sampai menutup telinga karena tidak kuat mendengar suara suaminya yang bagaikan guntur Itu.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***๐๐ป๐๐ป* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya๐ฅฐ jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**๐*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **๐ญLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****๐๐
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***๐ญ๐ญ๐ญ*
*Terima kasih**๐๐ป๐๐ป*