
Kalian boleh saja merasa bahwa judul diatas sangat berlebihan, tapi aku akan menceritakan kisahku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua orang pasti pernah jatuh cinta dan pastinya ada seseorang yang benar-benar membuka hati kita untuk pertama kalinya. Maka muncullah istilah "Cinta Pertama".
Kalau aku ingat-ingat lagi kisah cinta pertamaku itu aneh dan lucu.
Mungkin bagi kalian akan terdengar biasa saja atau bahkan membosankan.
Tapi aku merasa kisah ini sangat spesial.
Saat itu aku bertemu diusia 15, dan tentunya saat aku masih murid SMA.
Mungkin sebelumnya aku juga merasakan tertarik terhadap lawan jenis, tapi kalau dengan "Dia" ini memang berbeda, sampai-sampai aku berani bilang bahwa dia adalah cinta pertamaku.
Menurutku istilah itu ku artikan sebagai seseoranh yang membuka hatiku bukan hanya karena tampilan fisiknya, tapi dari segala perilaku yang menarik perhatianku sehingga aku setiap saat memikirkannya, dan terfikirkan begitu saja.
Dulu aku merasa seperti "AKU INGIN DEKAT DENGAN DIA"
Namun saat diusia yang memasuki 22 tahun aku jadi merasa itu hal yang lucu, masa-masa muda yang masih menggebu dalam segala hal, terkadang memaksa diri sendiri untuk selalu "terlalu" terlihat menonjol agar dia bisa tertarik.
Nyatanya sekarang aku berfikir kalau yang aku lakukan dulu terlalu kekanak-kanakan walau aku juga memaklumi diri sendiri.
Aku tidak sampai terfikirkan bagaimana cinta itu sesungguhnya. Mungkin aku menyukainya dan menginginkannya, tapi dia juga punya orang yang disukai pastinya, apalagi aku adalah orang baru dilingkungannya dan bahkan kami tidak dekat. Aku selalu membuang kesempatan untuk berbicara kepada dia.
Ternyata dia tidak seperti itu, bahkan ada disatu situasi dia tiba-tiba membelaku dengan tegasnya saat aku diejek temanku. Untuk anak usia 15 tahun yang pernah mengalami bullying saat itu aku merasa akhirnya aku merasakan punya teman laki-laki, walaupun juga kami tidak dekat, entah kenapa aku berfikiran seperti itu. Semua ini terlepas dari rasa sukaku terhadap dia.
Itu adalah awal cerita yang membuatku merasa tertarik dengan dia.
Dia tidak genit, tidak juga sombong dengan pilih-pilih teman yang akan diajak bicara.
Itu cukup untuk membuatku menganggap bahwa kami bisa menjadi teman.
Namun sayangnya karena rasa sukaku jadi semakin besar aku jadi semakin kaku saat berhadapan dengan dia, alhasil aku jadi pendiam dan sangat cuek. Entah dia akan menganggapku sombong atau aneh.
Itu yang selalu kufikirkan sampai sekarang.
Aku masih selalu ragu untuk berhadapan dengan lelaki, aku takut mereka salah paham, atau mereka akan menghinaku secara tiba-tiba seperti laki-laki lain yang sering kutemui.
Itu yang aku sesali dan membuatku ragu sampai sekarang.
Aku masih berproses untuk menjadi lebih santai dengan siapa saja, aku terlalu takut untuk berekspresi, dan aku benci situasi ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ada kalanya sikap dia ini sangat membingungkan menurutku, terkadang dia dingin, kadang dia ramah dengan memulai obrolan santai. Tapi satu hal yang pasti yang aku tahu dari proses mengamati tingkah laku dia ini adalah dia menjadi lebih cuek saat ada banyak orang terutama teman-temannya, jika tidak terlalu banyak orang dia akan mengajakku berbicara terlebih dahulu, entah apa maksud dari perbuatan dia ini. Aku selalu bingung saat berhadapan dengannya.
Pernah juga tiba-tiba dia meminjam sandalku, padahal ukuran kaki dia jelas berbeda dengan ukuran kakiku, alhasil sandalku jadi sedikit melebar sehabis dipakainya :D terkadang juga dia sangat lucu. Aneh memang. Aku dan dia memang sangat aneh. Aku akui itu.