MY COLORFUL LIFE

MY COLORFUL LIFE
PART 3 - (Keluh kesah terhadap bullying)



Aku selalu menekankan bahwa aku tidak merasa dendam atau sampai-sampai ingin membalaskan semuanya terhadap orang yang sudah melakukan hal buruk kepadaku, namun aku hanya ingin sekedar bercerita untuk siapapun diluar sana jika mempunyai kisah yang sama maka SEMOGA KAMU SELALU MEMPUNYAI SEMANGAT YANG BESAR DAN HATI YANG LUAS & TEGARRRR~


Ditulisanku sebelumnya mungkin aku terkesan mendeskripsikan diri dengan aneh, "Aku lincah tapi pendiam dll".


Disini aku hanya ingin menceritakan perbedaan yang benar-benar aku alami selama mencari jati diri.


Aku punya karakter yang jahil, sensitif, suka bercanda, ketawa, mengobrol.


Namun entah sejak kapan tepatnya, tapi aku merasa bahwa aku mulai menjadi "orang lain", yang penakut,tertutup, suka mengurung diri di kamar adalah saat aku merasa bahwa aku mulai menjadi korban bully, baik secara verbal maupun non verbal.


Saat masuk SMP aku mulai merasa menjadi ABG (Anak Baru Gede), namun ada banyak hal yang membuatku terkejut sehingga aku sedikit merasa berbeda dan menutup diri.


Aku mulai bersemangat berkenalan dan mencoba kenal mulai dari teman wanita sampai lelaki, tapi saat itu karena teman lelakiku mulai melontarkan kata-kata yang memalukan, aku langsung merasa aneh dan merasa tidak akan cocok berteman dengan para lelaki. Sehingga aku memilih untuk menjadi cuek dan dingin.


Setiap aku mencoba obrolan saat kerja kelompok, mereka malah melontarkan kata-kata seperti nama hewan yang dimiripkan seperti bentuk tubuhku. Mengolok-olok bentuk tubuh dan berusaha memisahkan diri dariku.


Kata-kata yang keluar pasti hanya seputar fisik, "Jelek!" "Hitam!" "Dekil!".


Bahkan jika itu sebuah candaan, aku rasa tidak wajar dilontarkan dengan sambil mengajak teman-teman yang lain untuk menertawaiku.


Aku sampai berfikir bahwa misalpun mereka bercanda aku akan menerimanya, jika mereka dekat denganku atau terbiasa bercanda denganku. Anehnya mereka saja menjauhiku, kenapa aku harus berusaha begitu keras untuk menjadi temannya.


Saat itu tidak ada yang benar-benar mengerti keluh kesahku, yang aku anggap teman pun malah menertawaiku, aku dianggap terlalu sensitif dan terbawa suasana, padahal aku hanya bercerita dengannya tanpa berkeluh kesah atau protes saat dihina.


Sebenarnya aku tidak merasa hina dengan hinaan mereka, tapi terkadang hanya malu karena mereka mengatakannya tepat didepan umum dan bukan sekali dua kali mereka mencoba mempermalukan bentuk wajah dan bentuk tubuhku.


Saat itulah aku mulai mempunyai trauma terhadap lelaki dan teman perempuan yang kurang mau mendengarkan curhatan temannya, padahal aku dan dia sudah kenal lama dan merasa dekat. Itu memberiku pelajaran bahwa jangan mudah percaya pada siapapun walau itu orang terdekatku.


Sekarang tidak ada yang perlu aku sesali, aku mencoba mempunyai pemikiran seperti itu. Karena mau benci dan dendam pun tidak ada untungnya, menurutku itu bukan bentuk kedewasaan, itu hanya akan membuatku rugi hidup dengan hati dan fikiran yang penuh kebencian. Aku harus berproses untuk memaafkan orang lain dan memaafkan diri sendiri.


Dengan itu aku bisa belajar jangan meremehkan orang lain dan jangan sembarangan dengan kata-kata yang keluar dari mulut kita. Karena kita tidak tahu kondisi dan keadaan orang lain yang kita ajak bicara, bisa saja itu membuat tersinggung bahkan jika omongan kita bukan bentuk hinaan pun kita harus berhati-hati.