
Di WhatsApp...
Setelah sampai rumah aku langsung menuju kamar dan mengambil hp ku sambil berbaring untuk mengirim pesan pada Sisil lewat WhatsApp,
Kalian lihat kan? yah.. Aku masih tidak mengerti ada apa dengan dirinya karena selama ini dia baru pertama kali dingin seperti itu.. Perasaanku waktu itu sih hanya positive thinking aja meskipun ada rasa mengganjal dihati...
Keesokan harinya adalah UN kita yang kedua dengan mata pelajaran Matematika. Aku suka pelajaran ini tapi, tidak dengan Sisil.. Dia juga kadang menggerutu jika soalnya sangat susah dan tidak bisa ia jawab. Kalo sudah begitu ya.. Aku contekin aja jawabanku biar dia nggak stres hehe..
Sisil datang lebih pagi dariku, namun jam masih menunjukkan pukul 06.20 yang artinya aku bisa belajar lagi dalam waktu 10 menit. Sisil tidak menyapa dan aku juga tidak menyapanya karena kupikir dia masih butuh waktu menenangkan masalahnya.
Kriing Kriiingg...
Bel masuk berbunyi saatnya menunggu guru pengawas datang. Seperti biasanya yaitu pembukaan diisi dengan berdoa dan salam baru kami semua diberikan lembar soal dan jawaban,
Waktu untuk UN Matematika kali ini adalah 120 menit yang artinya ada waktu 2 jam untuk mengisi 50 soal. Kubagi waktuku sesingkat mungkin supaya lebih cepat dan tak kehabisan waktu. Kulihat.. Sisil seperti biasanya yaitu menggerutu sendiri..
Yup! tak terasa waktu saat itu tinggal 5 menit dan akupun telah menyelesaikan semua soal dan telah kuteliti ulang.
Kriiing Kriiing...
Guru Pengawas : Ayo anak-anak silahkan dikumpulkan. Kalian ada waktu 20 menit beristirahat gunakan waktu kalian sebaik mungkin karena setelah itu ada bimbel IPA!
Murid-murid : Baik bu!
Saat semua sudah mengumpulkan, hanya Sisil Yang tertinggal. Kalian tahu? Dia menangis karena tidak bisa mengerjakan soal nomor 45-50 Yang memaparkan hitungan bangun datar.
Me : Sisil? Kamu kenapa nangis.. Jawab sebisa kamu saja ya jangan dipaksakan..
Sisil : (Berbicara lirih) Din.. Bantu aku dong contekin jawabannya apaan keburu gurunya liat!
Me : Tapi maaf aku nggak bisa Sil.. UN kali ini harus 100% murni hasil kerja keras kita sendiri.. Aku akan menunggumu diluar ya!
Sisil : Pelit banget sih cih!!
"Maafkan aku Sil.. Sebenernya mau bantu tapi kan nggak boleh" batinku saat itu. Aku tetap mengawasinya dari jendela tapi..
Sisil : Maaf bu, baiklah..
Guru Pengawas : Coba contohlah cara belajar Dinda! Dia selalu ranking satu dan nilainya bagus. Saya harap kamu bisa berubah.
Sisil : Iya bu saya berusaha..
"Dasar gini aja nggak mau bantu mana dibandingin sama guru pengawas lagi!!!" (menggerutu)
Aku melihat gerakan bibirnya dan seperti itulah kata yang ia lontarkan padaku. Akupun marah dan sangat kesal lalu aku pergi kekantin bersama teman yang lain..
Menikmati bekal dan membeli beberapa jajan yang lainnya, aku melihat Sisil sudah keluar dan rupanya dia membeli bakso dikantin nomer 03. Saat itu aku berpikir kenapa dia tidak membawa bekalnya? tapi yasudahlah terserah padanya lagipula aku sedang kesal!.
Yesi : Kamu tumben nggak sama Sisil Nda?
Me : Aku sedang kesal padanya!
Sarah : Kesal kenapa? ceritalah pada kami saja.
Skip selesai cerita~
Me : Seperti itu Yes, Sar.. Aku tidak mengerti dengannya padahal selama ini aku telah berbaik hati padanya..
Yesi & Sarah : Hah? Wah parah tuh! yaudah kamu jadi teman kita saja nggak usah peduliin sisil lagi gimana?
Me : Baiklah terimakasih..
Daripada aku sendirian mending berteman sama mereka meskipun sikap mereka rada nyeleneh sih...
.
.
Vote author jika kalian mendukung untuk karya novel selanjutnya! Silahkan pada mampir kak! kritik dan saran atas feedback bisa ditampung ♥
Instagram : @ree.stories
-Ree Panpan-