Mental illnes

Mental illnes
MI [8]



"eh takut ngeboncengin kamu itu keliatan sama cewek aku" kata resky dengan pandangan fokus ke depan


"ohh gitu ya" balas Lia pelan


Dia tak menyangka kakak tingkat ny itu sudah memiliki Pasangan, bagaikan laut yang diterpa badai, perasaan nya sangat sakit dia tak kuasa menahan tangis setelah sampai di rumah, dia sadar bahwa selama ini dia berusaha mendekati pacar orang lain. Dia terlalu berharap bahwa semua hal akan berjalan baik-baik saja, namun siapa sangka hal yang ia harapkan itu membuat nya sadar bahwa itu terlalu berlebihan.


"aku menyukai nya dengan begitu mudah, tapi ntah mengapa melupakan nya begitu susah, yah perasaan yang aku pendam selama 5 tahun ini berakhir sia-sia" batin lia


mencintai seseorang yang begitu elok dilihat memang sulit, begitu banyak seseorang yang memiliki pandangan seperti nya, laki-laki tampan yang memiliki mata sipit itu sudah berterus-terang bahwa dia memiliki pacar, tanda lampu merah untuk lia bahwa dia harus berhenti mengejar nya, seakan perkataannya itu mengatakan bahwa semua perlakuan lia membuat nya risih dan semakin ingin menjauh.


"capek energi aku tiba-tiba habis gitu aja" ujar lia melihat dirinya di cermin


"gimana ya aku melewati ini semua? bisa ga ya? Aku terlalu lelah untuk ini semua" lanjut lia lagi


yah lia melewati harinya berusaha menghindar dari laki-laki tersebut, dia berusaha menjaga jarak agar tidak menganggu nya lagi, bagaimana tidak seseorang yang berterus-terang bahwa dia tidak ingin diganggu mengatakan nya secara langsung.


beberapa hari setelah hal tersebut terjadi, dia sudah fokus untuk menemukan dirinya sendiri, dia tidak terlalu mementingkan tentang apa yang terjadi kemarin, beruntung nya dia bertemu dengan teman-teman yang selalu ada di samping nya, mendukung nya dengan baik dan berusaha agar lia tidak memikirkan hal tersebut.


Persahabatan yang begitu erat membuat semua orang tampak iri dengan apa yang mereka lakukan, namun mereka tetap menjaga prinsip bahwa mereka harus selalu bersama dalam kondisi apapun, pertemanan yang indah ini begitu nyaman hangat untuk anak seumuran mereka, selalu mendukung dalam kondisi apapun, berada di saat senang ataupun susah.


..."gapapa semua itu butuh waktu" -sherlly...


..."iya sabar aja, masih banyak seseorang yang bakal terima kau kok" -iyona...


..."rasanya mau aku tonjok muka cowok itu" -bry...


..."udahlah yang salah aku juga, terlalu berharap" -lia...


..."yaudah fokus ke diri aja masing-masing sekarang " -sherlly...


hari-hari berlalu Lia sudah mulai terbiasa akan kehadiran kakak tingkat nya itu, dia sudah fokus membiasakan diri dan tidak terlalu memikirkan apapun yang menyakiti nya dahulu.


Hari kelulusan kakak tingkat nya itu datang, dia menjadi panitia akan acara itu, sesekali dia menatap wajah laki-laki itu dengan penyesalan, penyesalan akan menyukai seseorang milik orang lain, dia larut dalam perasaan bersalah.


dia tau bahwa laki-laki yang dia sukai itu incaran banyak perempuan di angkatan nya, dan ia sadar bahwa sudah waktunya untuk meninggalkan perasaan nya itu di hari kelulusan kakak tingkat itu, dia yakin bahwa sudah selesai lah perasaan ini untuk laki-laki itu, cukup sebatas kakak dan adik kelas saja tidak harus lebih, cukup menjadi teman di SD saja tidak harus lebih, cukup mengenal saja tidak perlu mengharapkan lebih, perasaan yang begitu besar ini perlahan pudar dan membuat nya percaya bahwa dia akan menjadi orang asing Dimata laki-laki itu.