
setelah sampai dirumah, terlihatlah orang orang yang sedang berada diruang tengah rumah, yakni Adinata ayah dama, embun ibu dama, dan anti saudara dama.terdengarlah suara maraton ayah dama
"Dari mana kamu? ha??"teriak ayah Dama
Dama hanya menghela napas berat
"nggak perlu tau!" jawab Dama
jawaban Dama semakin membuat darah adinata semakin mendidih.
" Apa yang kamu lakukan disekolah tadi siang ha?"
" Bisa nggak sih kamu itu satu hari saja tidak membuat keributan?" bentak adinata
dengan santainya Dama menjawab
"aku tidak pernah mencari keributan! orang orang lah yang mencari keributan"
"tapi apa harus kamu meladeni mereka?"tanya adinata
"masalah sepele kamu besar besarkan!"
mendengar itu dama semakin muak. dama tertawa besar dengan air matanya yang mengalir.
" hahahahaha, masalah sepele? itulah masalah nya ayah orang orang selalu menganggap masalah yang menimpaku selalu masalah sepele." jawab Dama dengan senyum kecut
"ayah tau tidak, kalau mereka berkata aku hanya anak yang tidak dianggap, jujur itu membuat hatiku sakittt setiap mendengarnya, but kalian tidak akan peduli jika orang berkata seperti itu kepadaku kan?" tanya Dama dengan senyuman.
"emang itu kenyataannyakan"jawab embun ibu Dama
"kamu itu hanya anak yang tidak dianggap, yang hanya pembawa sial bagi kehidupan orang orang terdekatmu" ujar embun.
"kamu sangat berbeda dengan anti, kamu selalu membawa kabar buruk, sedangkan anti selalu membawa kabar baik."
Dama menatap ibunya dan juga saudaranya
" ya kami sangat berbeda, anti terlahir dengan bahagia sedangkan aku terlahir dengan menyedihkan" jawab Dama dengan menahan tangis.
"lalu aku harus bagaimana? berhenti sekolah atau keluar dari rumah? biar membuat kalian tidak sial lagi?'' tanya Dama
semua diam membisu
''oke, diam kalian membuktikan aku tidak berarti dirumah ini" ujar Dama
dengan hati yang pilu Dama bergegas menuju kamar. setelah sampai di kamar Dama menangis sejadi-jadinya ia tidak bisa membendung kesedihannya
"kenapa? kenapa aku dilahirkan jika hanya menjadi benalu mereka? bahkan ibukku sendiri tidak menginginkan ku"
Dama melamun lalu bergerak mencari koper miliknya lalu memasukkan semua baju dilemari ke kopernya. setelah selesai dama pun keluar, ia berpikir keputusannya sudah bulat biar lah semuanya berakhir seperti ini. toh tidak akan ada yang peduli dia ada dirumah atau tidak.
"Yakin kamu ingin keluar dari rumah ini?" tanya anti dengan sinis.
''of course" jawab Dama dengan santai seolah olah dia tidak menyimpan luka.
''berpikirlah dama sebelum membuat keputusan, jangan gegabah seperti ini!! jika kau keluar dari rumah ini kau akan tinggal dimana? pinggir jalan? bawah jembatan'' ujar anti
''bukan urusanmu mau aku tinggal dimanapun, berbahagialah dengan ayah ibu bahagiakan mereka....''dama diam sejenak lalu tertawa
''hahahah aku lupa you kan memang kebahagiaan ayah dan ibu ckckckkx''
lalu damapun berlalu pergi tanpa berpamitan dengan kedua orang tuanya
dama berpikir toh jikalaupun ia berpamitan dengan mereka, mereka tidak akan peduli.
Dama keluar dari rumah dengan langit yang malam membendungi dirinya.
ia naik angkutan umum lalu berhenti kepinggir jalan
dia berpikir ''kemana aku harus pergi agrhhhh, gini amat jadi anak buangan ck''
di kediaman Adinata
adinata dan embun tidak tau jika Dama benar benar meninggalkan rumah. hanya anti saja yang mengetahui jika Dama sudah pergi.