
Dua bulan lagi kaka laki-laki Sheila yang bernama Wafi akan segera menikah dengan ka Mentari, sebuah perjalanan lika - liku panjang sudah di ketahui oleh kedua keluarga.
keluarga ka Mentari tau semua hal keluarga Mas Wafi, dimana keluarga perempuan ingin sekali dapat mertua yang baik, namun berbeda ekspetasi, jodoh memang Tuhan yang atur. mendapat mertua yang tidak selengkap keluarga Ka Mentari, namun Ka mentari menerima keadaan Mas Wafi, sebuah cinta luar biasa dan menerima masing-masing kekurangan dan kelebihan.
Sheila berbicara dalam hati, apakah nanti gue akan mendapatkan Cowo yang menerima keadaan keluargaku. kedua mata Sheila berkaca-kaca.
Ara "Hey Shel, Maaf nih gue telat ke caffe".
Sheila mengelap air matanya, 'Its okey gapapa ko'
Ara "Shel, lo abis nangis ya. Ayo cerita sama gue lu kenapa?".
Sheila " hmm, engga gak papa. tadi ada debu aja yang masuk ke mata gue, terus perih gituh tapi sekarang engga apa-apa."
Ara "Ouh begitu. Oiya gue denger-denger kaka lu mau nikah ya,, Tapi gue heran kan lamaran nya udah tahun kemarin kenapa baru sekarang Nikahnya ?"
Sheila "hmm iya dua bulan lagi acara nikahnya, panjang ra kalau gue cerita. lu juga tau kan ya karna nyokap sama bokap gue egois, dan gue kemarin abis mendengarkan omongan bude gue. Ada benernya juga sih kalau lebih baik orang tua gue cerai aja secara sah di pengadilan agama, secara udah dari 20 tahun bokap gue gak nafkahin anak dan nyokap gue. terus yang berjuang kerja dari dulu nyokap gue. sekarang gue udah kerja gue yang gantian kerja secara Nyokap gue udah memilih pensiun dari tempat kerjanya. Tapi gue kesel kata nyokap gue, cerai di pengadilan juga butuh uang alhasil nyokap gue cuma pilih pisah rumah."
Ara memeluk Sheila dan bicara "Tenang Shel, lu boleh marah, keluarkan emosi lu, tapi takdir yang lu jalanin Tuhan Tau lu kuat jalanin sampai akhir cerita lo di dunia ini. Gue sebagai anak yang orang tua pisah secara agama aja nyesek bangett. kita memang beda kisah cerita tapi kita sama-sama Broken home, elu ingetkan lu harus semangat jangan mengingat masa lalu lu yang buruk, lu harus maju kedepan"
Sheila " Iya ra, gue paham".
Sheila "Makasih ra lu ingetin gue, oh ya maaf ya gue ajak lu je caffe, gue bete dirumah walaupun gue udah dirumah tapi gue pengen pulang. seakan rumah yang gue sama nyokap gue tinggal dari dulu, hati gue pun ingin sekali pulang tapi entah dimana tujuan itu."
Ara "Sutt, gak boleh begitu, umur lu masih panjang, gue yakin suatu saat lu punya keluarga yang bahagia di rumah yang lu punya nanti".
Sheila "Iya Aamiin, gue juga pengennya begitu, tapi gimana nanti Acara Nikah gue, Orang tua aja gue gak deket paling deketnya sama Nyokap. Sedangkan Kalau nikah perempuan harus ada saksi dari ayahnya. Namun gue seakan gak mau liat bokap gue."
Ara "Gue yakin nanti acara pernikahan lu lancar Sheila, pasti semua keluarga kumpul, lalu pihak lelaki menerima apa adanya, dengan cara elu harus jujur sama pasangan lo nanti."
Sheila "Iya ra itu Pasti. gue gak mau ada satu hal ditutupi walaupun memang itu pahit untuk di ceritakan."
Ara "Gue ada sepatah dua patah buat lo nih"
Sheila "Apa ra ?"
Ara " Senyum adalah cara untuk menyelesaikan banyak masalah, Diam adalah cara untuk menghindarkan berbagai masalah."
Sheila "Bener juga kata lo, gue selama ini udah diam. namun gue berdoa sama Allah yang Maha Esa, Supaya Takdir gue kedepan bisa bahagia, cukup sudah dua puluh tahun kepahitan ini,, Gue pengen Bisa Tersenyum bahagiaa bersama keluarga kecil gue nanti, sama sahabat -sahabat gue, bersama Orang-orang yang sayang sama gue."
Ara " Nah gini dong, ini baru Sheila yang gue kenal."
Ara dan Sheila tersenyum bersama.