
Di kamarnya, Kevin sedang bersantai sambil rebahan di kasurnya. Ia memikirkan banyak hal yang sulit diungkapkan dengan kata kata saja. Pikirannya campur aduk dan hatinya bimbang. Ia bingung apa sebenarnya yang ia rasakan saat ini. Baru kali ini perasaanya tak bisa dikontrol. Sesuatu seperti sedang bergejolak dalam diri Kevin. Dan ia tak dapat menghentikannya.
"Haiya.aaaah, kenapa denganku ini. Rasanya gak nyaman banget" Keluh Kevin pada dirinya sendiri. Ia mulai tak nyaman dengan gejolak gejolak ini.
"Tok..tok...tok" Terdengar orang mengetuk pintu dengan agak keras. Mereka lalu masuk kedalam kamar Kevin.
"Vin, lo kenapa?" Tanya Edward sambil duduk disamping Kevin.
"Tau tuh, ngelamun aja" Tambah Marvin sambil ia memegang cemilan.
Kevin hanya bisa diam. Karena ia juga sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya sendiri. Namun seketika ia langsung terbangun dari kasurnya dan menuju ke balkon kamarnya. Ia duduk di bangku yang ada disana. Lagi lagi ia termenung. Kedua sahabatnya itu tak punya kekuatan untuk membaca pikiran seseorang apalagi Kevin yang pikirannya susah ditebak. Mereka hanya bisa melihat Kevin dan bertanya tanya apa yang sedang ia lamunkan sedari tadi. Marvin dan Edward saling bertukar pandang, seperti memberikan sebuah kode.
"Ehem...Tuan Muda Kevin apa sebenarnya yang mengganggu pikiran Anda?" Goda Edward sambil bertingkah seperti seorang pengawal yang berhadapan dengan Rajanya.
"Gak tau" Dua kata itu saja yang Kevin keluarkan dalam mulutnya.
"Gue bingung kenapa pikiran gue campur aduk gak jelas, kaya ada sesuatu bergejolak dalam tubuh gue yang gak bisa dikendalikan" Kevin menjelaskan cukup panjang dan mencurahkan semua yang ia rasakan.
Mendadak Marvin memasang ekspresi wajah yang menunjukkan ia mengetahui segalanya. Ia tersenyum tidak jelas dan membuat Kevin dan Edward kebingungan.
"Lo waras?" Tanya Kevin dengan melihat Marvin dari ujung kaki sampai ujung kepalnya. Dari atas ke bawah ia menamatinya.
"Lo jatuh cinta Vin" Marvin mengucapkan kalimat itu tanpa ragu dan menambah lebar senyuman diwajahnya.
Seketika Kevin dan Edward tercengang dengan apa yang dikatakan Marvin barusan. Seperti yang kalian duga, Edward tak paham sama sekali dan menampakkan wajah kebingungan yang semakin bertambah besar. Sedangkan Kevin tampak cuek dan tak menghiraukan perkataan Marvin barusan. Ia terlihat biasa biasa saja bahkan menganggap hal yang dikatakan Marvin itu sebuah angin belaka. Sekejap datang hanya untuk lewat, lalu pergi meninggalkan.
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Marvin masih tersenyum senyum dan berpendirian kuat kalau yang diucapkannya tadi benar adanya. Ia yakin kalau Kevin sedang jatuh hati pada seseorang. Walaupun Kevin sendiri tak yakin akan perasaannya.
Edward, ia hanya bisa mengerutkan alisnya yang menandakan sesuatu hal aneh sedang terjadi. Ia selalu berpikiran logis. Ia tak pernah berpikiran kalau Kevin akan jatuh cinta pada seseorang, karena memang Kevin dari dulu sampai sekarang belum menunjukkan kesungguhannya pada seorang wanita. Setiap ada gadis yang mendekati Kevin, gadis itu langsung pergi menjauh karena usiran dari Kevin. Ia selalu menendang keluar semua wanita yang berusaha memasuki hati kecilnya. Ia belum siap untuk berurusan dengan cinta. Bahkan menurutknya cinta itu tak ada didunia ini.
.
.
.
Bayang bayang Angel selalu nampak jelas dikepala Kevin. Ia terus memikirkannya. Namun hatinya selalu menolak fakta kalau Kevin mulai jatuh cinta pada Angel. Kevin bahkan mulai meragukan dirinya sendiri. Ia benar benar tak bisa menahan semua ini. Yang ia inginkan saat ini hanyalah bertemu dengan Angel dan berbicara dengannya. Tak ada hal lain.
*Kenapa denganku ini sebenarnya* Batin Kevin bertanya tanya pertanyaan yang sama berulang kali. Namun ia masih belum bisa menemukan jawaban yang membuat Kevin puas. *Kalau benar aku sedang jatuh cinta bagaimana?* Ia bertanya pada dirinya sendiri. Ia masih tak percaya semua itu.
"Hm...kau mungkin belum menyadarinya Vin. Dirimu butuh waktu untuk mengungkapkannya." Papar Marvin kepada Kevin.
"Suatu saat nanti pasti akan ketemu jawabannya" Tambah Edward untuk menenangkan pikiran Kevin.
"Ya mungkin hanya gejala stres biasa karena aku kelelahan. Aku tak menganggapnya serius." Lagi lagi mulut dan diri Kevin menolak mengakui perasaannya sendiri.
.
.
.
.
.
Sementara keadaan Angel dirumahnya pun sama seperti Kevin. Ia juga merasakan sesuatu hal dalam dirinya. Ia tak henti henti memikirkan Kevin. Ini juga kali pertamanya ia memiliki perasaan aneh seperti ini. Sama ragunya dengan Kevin, Angel juga menghiraukan perasaan ini.
"Kenapa lagi ni aku" Eluh eluh Angel pada diri sendiri.
"Kevin,,....dia orangnya baik. Ya walau ada ekspresi dingin dan kejamnya yang agak menyebalkan sih. Tapi itu menarik kan.." Angel ngelantur ngomong sendiri.
Ia menepuk nepuk kepalanya dengan kedua tangan untuk menyadarkan pikirannya itu. Ia juga bingung dengan hati dan pikirannya sendiri. Jika dipikir pikir Angel telah jatuh hati pada Kevin itu tidak mungkin. Namun dalam hatinya berasa lain. Hatinya tak sama dengan otaknya. Ia mulai meragukan dirinya sendiri. Ia tetap cuek dan menganghap semua hanya perasaannya saja.
Jadi, kini mereka sama sama bingung pada diri sendiri.