Love is Real

Love is Real
FRIENDS



Hari yang manis, semanis rasa teh hijau segar yang sedang diminum Kevin pagi ini. Wajah tampan yang memesona nya sungguh membuat semua orang terpaku untuk tetap melihat dan memandang dengan mata terbuka lebar-lebar. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun dari tidur lelap dimalam ini. Ia langsung menuju ke taman favoritnya. Iya, itu taman pribadi Adijaya. Ia merasakan keindahan alam yang begitu hebat Tuhan menciptakan. Menata semua dengan sedemikian rupa. Sunguh luar biasa. Tak ada satupun yang berani mengganggu ketenangannya.


"Tuan Muda, nyonya besar telah menunggu Anda di meja makan" ucap salah satu pelayan.


"Hm.." hanya kata itu yang diucapkan Kevin. Tanda dirinya mengerti akan maksut si pelayan.


Di meja makan Omma, Nyonya Risa dan Tuan Angga telah lama menunggu kedatangan Kevin dimeja makan. Dia memang sedikit sulit untuk diperintah. Jadi semua harus sesuai akan kehendak dirinya sendiri.


Tuan Angga nampak telah rapi dengan setelan jas berwarna merahnya. Ia akan pergi ke kantor hari ini. Begitu gagah dan berwibawa.


Nyonya Risa terlihat anggun dan cantik. Senyumnya semanis madu. Wajahnya teduh dan sejuk dipandang.


Dan Omma Sura. Dia begitu bahagia hari ini. Jarang jarang hal seperti ini terjadi. Entah apa yang membuatnya senang. Wajahnya terlihat berseri-seri. Seakan muda 50 tahun kembali.


"Kevin cucuku sayang, mari sini kita sarapan bersama" ajak Omma Sura dengan lembut ketika melihat Kevin datang. Kata kata indah itu menunjukkan ada maksut tersembunyi.


*Hm...apa lagi yang diinginkannya* gusar dalam hati Kevin. Ia sudah hafal betul akan tabiat neneknya itu.


Kevin mulai duduk dengan tenang menyantap makanan paginya. Omma Sura terus menatap kearah Kevin seakan ingin mengatakan sesuatu dan tak bisa ditahan lagi. Namun ia tak kunjung membicarakan keinginannya itu sampai sarapan pun berakhir. Tuan Angga pergi kekantor, Nyonya Risa menuju kekamarnya. Tinggal Kevin dan Omma yang ada dimeja makan. Karena sudah tak tahan, Omma Sura lalu mengutarakan keinginannya pada Kevin.


"Kevin....Omma kemarin bertemu dengan Keluarga Sektar. Tuan Sektar memiliki seorang putri yang sangat cantik dan anggun." pujian panjang lebar yang diucapkan Omma Sura yang tak berpengaruh sama sekali terhadap Kevin.


"Omma hari ini aku ada kelas di kampus, jadi aku akan berangkat sekarang. Tolong katakan pada Mama." alihkan pembicaraan dan kemudian pergi.


"Kevin sudah berapa kali Omma mencarikanmu pasangan tapi kau tetap saja menolaknya!" tegas dan marahnya meluap lagi.


"Kau.." geram Omma Sura tapi ia tetap menahannya.


"Cukup, aku pergi dulu" menghindari untuk yang kesekian kalinya.


Memang Omma Sura ngotot sekali ingin mencarikan pasangan untuk cucu semata wayangnya itu. Tak henti-henti ia mencoba menjodohkannya dengan banyak wanita dari keluarga terhormat. Namun memang seperti yang kita tahu bahwa Kevin pasti akan selalu menolaknya. Dia tak pernah percaya akan suatu hubungan Cinta antara sepasang kekasih. Menurutnya cinta itu palsu dan tak nyata. Tak ada yang dapat mengubah prinsipnya itu. Tak seorang pun!


.


.


.


Dikampusnya, Kevin terkenal sebagai primadona banyak kaum. Mereka semua tergila gila pada Kevin. Segala keputusan yang ia ambil pasti terlaksana. Jujur saja, keputusan yang ia ambil sampai saat ini menjadi keputusan yang paling tepat. Tak ada yang meragukan kecerdasan dan keahliannya.


"Itu Tuan Muda Kevin dia sangat tampan hari ini" bisik salah seorang penggemar Kevin.


Tak menghiraukan sama sekali. Hanya berjalan dengan tenang. Namun kedua sahabatnya yakni Marvin dan Edward lah yang tak bisa tenang. Mereka selalu tebar pesona kesana kemari untuk menarik hati para gadis kampus. Terutama Marvin.


Dengan tampang playboy nya ia bisa meraup hati wanita dengan sangat mudah. Semua kata-kata yang terucap sangat manis terdengar ditelinga wanita tapi terdengar pahit ditelinga pria. Marvin memang ganjen rajanya ganjen. Dia pinter kalau bikin jebakan cinta. Pertama dekat setalah bosan dia minggat. Memang bodoh.


Edward lebih waras dibanding Marvin. Ia pria yang lembut dan perhatian. Tapi kalau sekali bertindak kasar, jangan ditanya risikonya ok. Dia pinter kalau masalah taktik mata mata. Dia jago mencari informasi. Kevin selalu mengandalkannya untuk menimba informasi yang ia butuhkan.