Love But Different

Love But Different
pengakuan



(Rahayu pov)


.


.


.


.


Perasaanku semakin tidak menentu setelah Surya tampil. Tatapan mendalam yang ia tunjukkan padaku seakan memberikan pesan padaku. Sebuah pesan yang memintaku untuk menjawab perasaannya.


“Ya Allah ... berikanlah petunjuk kepada hambamu ini,” gumamku dalam hati. Setelah Surya turun panggung, aku bergegas kembali ke mushola. Mungkin hanya disana tempat yang bisa membuat hatiku lebih tenang. Aku berusaha kembali memfokuskan pikiranku untuk menghapal juz 3 yang harus kusetorkan kepada ibuku lusa nanti.


Aku memiliki cara yang unik untuk menghapal Al Quran. Aku memilih mulai menghapal dari belakang atau dari juz 30 karena lebih mudah dihapal.


Sama seperti caraku menyelesaikan soal atau masalah. Aku pasti akan menyelesaikan yang paling mudah terlebih dahulu. Jika aku memulai dari yang lebih susah, mungkin aku akan stress dan malas untuk melanjutkannya.


Berbeda jika aku memulai dari yang paling mudah. Bisa menyelesaikan soal yang mudah akan menambah motivasiku untuk bisa menyelesaikan soal yang yang lebih sulit. Jika setoranku berjalan lancar, aku tinggal menghapal 2 juz lagi agar bisa membuat orang tuaku bangga. Tidak ada hal yang bisa membuatku lebih bahagia saat melihat orang tuaku tersenyum bangga atas keberhasilan anak yang diasuhnya.


Saat ini aku harus fokus menyelesaikan hapalanku daripada memikirkan perasaan tidak jelas yang selalu membuatku gundah. Setelah menghapal beberapa lembar, mataku mulai mengantuk. Kulihat jam dinding yang tergantung di dinding mushola.


“Astagfirullah ... sudah jam setengah dua belas?! Aku haru pulang sekarang!” gumamku panik. Aku terlalu asyik menghapal sampai lupa waktu. Ayahku pasti menungguku dengan cemas di rumah. Aku bergegas memasukkan mukena kedalam tas selempang dan membawa mushaf kecilku keluar mushola.


Aku tidak mendengar suara sayup-sayup kemeriahan Pensi saat aku melintasi koridor. Suasana koridor yang gelap dan sepi membuatku sedikit takut. Aku mempercepat langkah agar bisa sampai ke gerbang lebih cepat. Saat aku melintasi lapanngan tempat Pensi, aku melihat Surya tengah duduk mengobrol dengan temannya. Ia menatapku seolah ingin berbicara denganku.


Aku mengacuhkannya dan mempercepat langkahku menuju gerbang.


“Aduh ... jam segini pasti sudah tidak ada angkot. Jadi aku harus pulang jalan kaki dong, gerutuku saat tiba di gerbang sekolah. Aku melihat siswi lain pulang dijemput oleh orang tuanya atau berboncengan motor dengan temannya.


“Apa aku mencari ojek saja?” tanyaku dalam hati. Tiba-tiba sorot lampu dan klakson motor berbunyi di belakangku. Aku berusaha memperjelas pandanganku kepada pengemudi motor matic itu. Ia berhenti tepat disampingku dan membuka helm full facenya. Aku terkejut saat melihat wajah pengemudi motor itu. Sebuah wajah yang belakangan ini selalu hadir di dalam mimpiku.


“Yu, kamu mau pulang?” tanya Surya. Ia menatapku persis saat seperti saat ia tampil tadi. Aku terdiam beradu pandang dengannya. Aku bisa melihat jelas bola mata hitam yang tersembunyi dibalik matanya yang sipit.


“Yu, rumah kamu dimana?” tanya Surya lagi. Aku mulai tersadar dan berusaha memfokuskan pikiranku.


“I ... iya. Aku mau pulang. Rumahku di Perum Hegar Asih,” jawabku.


“Wah ... kebetulan kita searah. Rumahku di Perum Dian Anyar. Tepat di sebelah perumahanmu.Mau bareng?” tawar Surya sambil menyerahkan helm cadangannya padaku.


Aku memang sangat membutuhkan tumpangan malam ini. Tetapi jika aku berada di dekatnya lebih lama lagi akan membuat perasaan aneh ini muncul kembali.


“Maaf, aku jalan kaki atau naik ojek saja,” tolakku.


“Yu, ini sudah larut. Kamu tidak akan mudah menemukan tukang ojek di sekitar sini. Sangat rawan jika seorang gadis berjalan sendirian saat larut malam seperti ini. Aku khawatir dengan keselamatanmu,” ujar Surya. Ah ... ternyata Surya mencemaskanku. Aku sangat senang mendengarnya.


Rasa maluku meningkat tajam. Mungkin wajahku sudah memerah sekarang. Perkataannya membuatku salah tingkah. Surya masih terus menatapku yang masih terdiam malu.


“Ah ... baiklah. Jika kamu tidak ingin berboncengan denganku, aku akan menuntun motorku dan berjalan denganmu sampai rumah,” ujar Surya sambil mematikan motornya dan turun dari tempat duduk. Aku terkejut mendengarnya. Tangan kananku dengan refleks memegang lengan kirinya.


“Tunggu ... baiklah, aku mau,” gumamku tersenyum.


“Nah ... gitu, dong. Jangan menolak pertolongan dari orang yang ingin membantumu,” senyum Surya. Jantungku berdegub kencang saat melihat senyum manisnya. Entah apa yang membuatnya bisa bertingkah seperti ini. Padahal saat kami berkenalan tadi, ia sama gugupnya denganku. Ia melepaskan jaket kulitnya saat aku memakai helm.


“Ya ampun. Mengapa ia sangat perhatian padaku? Tidak henti-hentinya ia membuatku salah tingkah,” gumamku dalam hati.


“Nanti malah kamu yang masuk angin,” ujarku.


“Tenang saja. aku sudah terbiasa berkendara di malam hari. Saat ini kamu lebih membutuhkannya,” ujar Surya sambil menyampirkan jaketnya ke belakang pundakku.


Aku tidak bisa menolak permintaannya kali ini. Sungguh malam ini aku dibuat tak berkutik di depannya. Tiba-tiba mataku melihat seorang gadis yang tengah menatap tajam ke arah kami. Ternyata itu adalah Nadea, ketua ekskul cherrleader di sekolahku. Ia menatap seakan ingin geram kepada kami.


“Yu, ayo naik. Nanti kita kemalaman,” titah Surya sambil menyalakan motor maticnya. Aku segera memakai jaket dan duduk menyamping di belakang Surya. Ransel hitam yang selalu ia gunakan membatasi tempat duduk kami. Sepanjang perjalanan kami lebih banyak terdiam. Sesekali aku berbicara untuk menunjukkan jalan menuju ke rumahku. Jaket pemberian Surya membantu menjaga suhu tubuhku tetap hangat. Aroma khas Surya yang terpancar dari jaketnya membuatku semakin nyaman memakainya. 20 menit kemudian kami telah sampai di depan rumahku.


“Ini rumahmu, Yu?” tanya Surya. Aku bergegas turun dari motor dan menganggukkan kepalaku.


“Terima kasih banyak, ya,” senyumku. Beberapa detik kami terdiam hanya saling beradu pandang. Suara Mozza, kucing kesayanganku yang menyambutku pulang membuatku tersadar.


“Emh ... maaf. Aku masuk dulu, ya,” ujarku.


“Tunggu, Yu. Aku mau bilang sesuatu kepadamu.” Surya menatapku lekat-lekat membuatku malu.


“Ada apa, Ya?” tanyaku penasaran.


“Embh ... aku ... aku ... aku suka sama kamu, Yu. Aku sudah lama mengagumimu. Mataku tidak bisa berpaling darimu. Bahkan aku sering memotretmu diam-diam. Aku sayang padamu, Yu,” aku Surya.


Aku terkejut mendengar pengakuan Surya. Aku tidak menyangka dia akan menyatakan cintanya padaku. Hatiku sangat bimbang. Perasaan senang, sedih, dan bingung bercampur aduk di dalam hatiku.


“Apa yang harus kukatakan? Bagaimana ini?” gumamku dalam hati. Sejenak kami berdiri mematung di depan rumahku.


“Tapi, Ya ...” gumamku.


“Aku tahu dengan keadaan yang sekarang kita tidak mungkin bersatu. Tetapi izinkan aku menjadi sahabatmu. Teman yang selalu berada di dekatmu dalam keadaan apapun. Teman yang siap merangkulmu saat bersedih dan tertawa bersama saat senang. Izinkan aku melampiaskan rasa sayangku padamu sebagai sahabat. Izinkan aku menjagamu semampuku,” pinta Surya.


Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. pikiranku terasa buntu. Aku bisa menangkap kesungguhan hatinya dari tatapan matanya.


“Yu, aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama ‘kan. Tidak mungkin kamu bisa menggambar dan menulis ini jika kamu tidak merasakan hal yang sama denganku,” gumam Surya sambil mengeluarkan sebuah kertas putih terlipat dari dalam saku bajunya dan memberikannya padaku. Aku sangat terkejut saat membukanya. Ternyata Surya yang menemukan kertas yang kucari.


“Itu adalah milikmu ‘kan. Aku menemukannya di tempat kita terjatuh. Gambar dan kalimat yang ada di kertas itu kamu sendiri yang membuatnya ‘kan,” ujar Surya. Jantungku berdetak semakin cepat, napasku menjadi sesak dan pikiranku buntu.


“T ...tapi, Ya,” gumamku gugup.


“Saat ini aku tidak ingin melanggar batas diantara kita. Aku hanya ingin melindungimu dan membuatmu tersenyum. Aku ingin menjadi sahabatmu, Yu. Aku lebih suka membuatmu tersenyum daripada memaksamu melewati batas diantara kita,” jelas Surya. Perlahan aku mulai mengerti jalan pikiran Surya. Dia ingin cinta kita terus tumbuh tanpa melewati batas. Percintaan beresiko kandas jika muncul perbedaan. Tetapi persahabatan akan bertambah kuat dengan adanya perbedaan. Akhirnya ia Aku tersenyum menatapnya. Surya, aku semakin menyukaimu.


“Ya, aku mau. Aku ingin menjadi sahabatmu,” ujarku tersenyum. Surya terlihat sangat bahagia. Ia terlihat sangat lega setelah mengungkapkan rasa yang selama ini ia pendam.


“Yu, boleh aku minta nomor handphonemu?” aku mengangguk dan memberikan nomor teleponku. Surya meletakkan jari tengah dan telunjuk kanannya ke bibirnya dan menempelkannya di keningku. Aku sangat kaget melihat tingkahnya ini.


“Terima kasih, ya. Malam ini kamu cantik sekali. Aku pamit pulang dulu, ya,” ujar Surya sambil menyalakan motornya dan pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung di depan rumah. Tiba-tiba rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Ternyata aku lupa mengembalikan jaket Surya. Ah ... memang benar kata orang. Jika kita berada di dekat orang yang kita sayang, kita bisa melupakan segalanya.


Aku tersenyum menatap bayangan Surya yang menghilang dibalik tikungan dekat rumahku. Aku berjanji tidak akan pernah melupakan kejadian malam ini. Hari dimana aku berkata jujur tentang perasaanku padanya.


Tamat ......