
(pov surya)
.
.
.
.
Matahari tampak sudah berada di ufuk barat. Sinarnya yang beberapa jam yang lalu berwarna kuning cerah sudah berubah menjadi kemerahan. Sinarnya menambah keindahan panggung yang akan dipakai malam ini untuk Pensi. Beberapa anggota OSIS yang menjadi panitia acara tampak sibuk menata dekorasi panggung. Lapangan yang biasanya kupakai untuk bermain futsal dan basket sudah tertutup panggung dan dekorasinya.
“Surya, kudengar kamu bakal nyanyi ya malam ini?” tanya Nadea, ketua ekskul cheersleader yang terkenal dengan kecantikannya.
“Ya. Anak-anak kelas menyuruhku menjadi vokalis nanti,” jawabku.
“Semangat, ya. Aku akan berada di barisan paling depan saat kamu tampil nanti. Aku tidak sabar melihat orang yang kukagumi tampil,” ujar Nadea. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Nadea sudah menyukaiku sejak kelas 1. Bahkan ia sudah pernah mengajakku berpacaran.
Tetapi aku tidak bisa berpacaran dengan orang lain selama hati dan pandangan ini masih tertuju padanya, sang gadis beransel biru.
“Bro, ayo bantu aku mempersiapkan alat musik untuk tampil nanti,” titah Dhani yang berteriak dari kejauhan.
“Ok siap!” ujarku.
“Aku bersiap dulu, ya. Sampai nanti,” gumamku pada Nadea.
“Tunggu,” Nadea memegang tangan kananku saat aku ingin beranjak.
“Ada apa?”
“Tentang pertanyaan yang pernah aku ajukan saat kita masih kelas 1. Jika kamu berubah pikiran, aku selalu ada disini menunggumu untuk menjawab “Ya”,” ujar Nadea tertunduk. Aku terkejut mendengar perkataan Nadea. Ternyata ia masih menyimpan perasaan yang pernah aku acuhkan. Nadea memang lebih cantik dibanding Rahayu. Ia juga selalu menduduki peringkat 10 besar di kelas IPA. Kepribadiannya juga sangat baik. Namun ketika hati ini sudah memilih, tidak mudah untuk merubahnya. Sekalipun pilihan yang diambil adalah pillihan yang salah.
“Ya, sampai saat itu tiba tetaplah menjadi teman baikku, ya,” senyumku. Nadea mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengeluarkan sebuah kalung perak berhias salib dan langsung diberikan kepadaku.
“Semoga dengan memakai ini tuhan Yesus akan selalu melindungimu,” ujar Nadea. Aku tersenyum dan mengambil kalung salib itu dari tangan Nadea.
“Terima kasih, ya. Semoga tuhan memberkatimu,”
“Semoga tuhan memberkati penampilanmu malam nanti,” ujar Nadea sambil melangkah pergi meninggalkanku.
.
.
.
.
(pov rahayu)
Jarum jam sudah bergerak pukul 18:30 saat aku tiba di sekolah. Di saat siswi lain memakai gaun atau berpakaian terbuka, aku hanya mengenakan kerudung satin coklat dan baju muslim terusan yang juga berwarna coklat.
Mungkin orang-orang yang melihatku akan menduga jika aku akan datang ke acara pengajian bukan pentas seni sekolah. Malam itu aku hanya membawa tas selempang kecil dan sebuah mushaf yang menjadi teman berlatihku sebelum tampil. Aku juga sudah menentukan ayat yang akan kubaca nanti. Meskipun hanya satu ayat, isi ayat tersebut bisa menjawab semua kegundahan hatiku selama ini.
“Eh ... Rahayu. Ukhti katanya nanti tampil sebagai perwakilan kelas 11 IPA 1, ya?” tanya Yunita, teman satu departemenku di ROHIS. Aku hanya tersenyum mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Mohon doanya, ya. Semoga semuanya lancar,” ujarku. Gadis berjilbab ungu dan berkacamata itu tersenyum manis kearahku.
“Jangan khawatir. Insyaallah aku doakan acara malam ini lancar. Aku yakin kamu bisa. Kamu ‘kan anggota ROHIS yang bacaan Al Qurannya paling tartil,” gumam Yunita.
“Ah ... bisa saja kamu. Aku juga masih belajar ‘kok. Sama seperti kalian,” ujarku. Aku melihat tampak seorang siswa tampan naik keatas panggung sambil memegang microfone.
“Selamat malam untuk seluruh siswa SMAN 2 Purwakarta yang hadir di malam yang indah ini. Perhatian untuk seluruh peserta Pensi dari masing-masing kelas untuk segera bersiap karena acara akan dimulai 15 menit lagi,” ujarnya.
“Semangat, ya,” ujar Yunita sambil melangkah pergi. Beberapa menit kemudian acara pentas seni dibuka. Dimulai dari sambutan panitia, komite sekolah dan kepala sekoah. Jantungku berdegub kencang menanti giliranku tampil. Ini adalah pertama kalinya aku membaca Al Quran di depan banyak orang.
“Baik, penampilan pertama ada pembacaan ayat suci Al Quran dari perwakilan kelas 1 IPA 1. Saudari Rahayu Siti Rahmayanti dipersilahkan naik keatas panggung,” ujar MC acara. Aku terkejut mendengarnya. Ternyata aku tampil pertama. Aku lupa perkataan Naomi yang menyuruhku bersiap lebih awal karena aku tampil pertama. Perlahan aku menaiki panggung dengan kaki gemetar.
Aku langsung mengintari pandangan saat berdiri di atas panggung. Seluruh murid di kelasku meneriakkan namaku di barisan depan dan tengah. Mereka menyorakiku agar tampil bagus. Namun teriakan mereka justru membuatku semakin grogi. Tiba-tiba mataku terfokus pada laki-laki berbaju merah melihatku dari barisan belakang. Ia tersenyum kearahku seolah berkata “kamu pasti bisa” padaku. Sungguh senyum manisnya membuatku sedikit tenang.
“Bismillahirohmanirrohim,” gumamku pelan. Perlahan aku duduk di tempat yang sudah disediakan panitia. Disana juga sudah tersedia meja dan sebuah Al Quran besar. Seluruh penonton terdiam menungguku membaca ayat suci Al Quran. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mulai membaca ta’awudz.
وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلاَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللهُ يَدْعُوا إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ {221}
Artinya:
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinNya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah : 221).
“Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu” ujarku mengakhiri penampilanku. Seluruh penonton terdiam sesaat setelah aku mengakhiri pembacaan Al Quran. Namun mataku terfokus pada lelaki berbaju merah yang menatapku dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang membuatnya menangis. Tetapi aku puas sudah mengeluarkan isi hatiku kepada Surya, laki-laki berbaju merah. Apakah perasaanku sudah sampai kepadanya sehingga ia menangis? Sungguh aku berharap semoga itu yang membuatnya menangis. Kuharap ia tahu perasaanku walaupun rasa ini tidak boleh berkembang lebih besar lagi.
“Ya Allah, tolong hambamu yang lemah ini. Tolong bantu hambamu ini untuk membunuh perasaan ini. Sebenarnya aku ingin membiarkannya terus tumbuh menambah keindahan cinta dalam diam ini. Tetapi hamba sangat takut dengan laranganmu. Tolong bantu hambamu yang lemah ini, Ya Allah,” gumamku dalam hati. Tanpa kusadari ternyata air mataku mulai membasahi pipi kananku. Riuh tepuk tangan penonton menyadarkanku dari lamunanku. Aku bergegas turun dari panggung sambil mengelap air mataku. Suara retakan di dalam hati semakin jelas kudengar. Apakah dia merasakan hal yang sama denganku?
.
.
.
.
.
Bersambung....