Love But Different

Love But Different
perasaan kita



(Rahayu pov)


Ah ... akhirnya aku berhasil menjalankan tugasku hari ini dengan lancar. Beberapa siswi perempuan dari kelasku menyalamiku setelah aku turun panggung. Beberapa diantara mereka bertanya padaku mengapa memilih surat yang tidak memiliki sangkut paut apapun dengan acara ini.


“Cuma iseng aja kok. Kebetulan lagi pengen banget baca ayat ini,” jawabku tersenyum. Aku melirik arloji sudah menunjukkan pukul 19:00.


“Sudah masuk waktu isya rupanya” gumamku dalam hati.


“Hei guys ... ada yang mau ikut shalat isya? Sudah masuk waktunya, nih” tanyaku.


“Hembh ... kamu duluan aja, Yu. Acaranya lagi ramai, nih. Nanti aku menyusul,” gumam Naomi yang disambut anggukkan beberapa teman sekelasnya. Akhirnya aku sendirian berjalan menuju mushala sekolah.


Sepanjang jalan aku terus teringat raut wajah Surya. Aku tidak mengerti mengapa ia menangis. Pikiranku serasa buntu karena tidak menemukan alasan yang logis. Satu-satunya alasan yang masuk akal bagiku adalah kita mungkin merasakan hal yang sama.


“Tapi bagaimana jika dia juga menyukaiku? Aku harus bagaimana? Ah ... tidak-tidak. Itu tidak mungkin. Aku bahkan belum pernah berbicara padanya. Jadi mana mungkin ia jatuh cinta padaku. Rahayu ... kamu harus ingat tujuanmu membaca ayat ini adalah untuk menyadarkan hatimu. Kamu tidak boleh membiarkan rasa ini tumbuh lebih dalam lagi,” gumamku dalam hati.


Ah ... mengapa pikiranku jadi kacau begini setelah melihat ekspresi Surya? Mungkin saja matanya kelilipan ,kan? Iya, dia pasti kelilipan sehingga matanya berkaca-kaca. Pikiranku yang sedang kalut membuatku tidak membuatku kurang fokus saat berjalan. Tiba-tiba ...


“Bruk ...” tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang baru saja keluar dari toilet laki-laki. Aku terjatuh dan mushaf kecilku terlempar ke arah orang yang kutabrak.


“Maaf, aku tidak sengaja,” ujarku. Mataku tiba-tiba terfokus pada cahaya yang menerangi lorong yang sedikit gelap. Mungkin itu adalah handphone miliknya yang terlempar saat aku menabraknya. Tanganku bergegas mendekati benda itu berusaha mengembalikan benda itu sebagai permintaan maafku. Namun tiba-tiba napasku seolah berhenti saat melihat gambar wallpaper handphone itu.


“Bukankah itu fotoku ketika aku membaca buku di bangku koridor depan kelas?,” gumamku dalam hati.


“Iya, tidak apa-apa. Kamu sendiri?” tanya siswa itu. Aku semakin terkejut saat mendengar suara khas yang selama ini terngiang di kepalaku. Suara yang selama ini membuat jantungku berdebar kencang saat mendengarnya. Lelaki berbaju merah yang berkaca-kaca saat penampilanku tadi kini tepat berada di depan mataku.


Artinya handphone ini adalah miliknya. “Ah ... apa artinya ini? mengapa ia memotretku diam-diam? Apakah ... apakah ... jangan-jangan ...” terkaku dalam hati. Biasanya aku selalu menundukkan pandanganku saat bertemu dengannya untuk menyembunyikan rasa maluku. Tetapi kali ini aku tidak bisa menyembunyikannya. Mungkin saat ini pipiku tengah merona menahan rasa maluku. Terlebih saat aku tahu ternyata ia memotretku diam-diam dan menjadikan fotoku sebagai wallpaper handphonenya.


Gawat ... saat ini matanya menatap tajam kearahku. Jantungku berdegub cepat saat kulihat sorot matanya. Sepertinya ia terkejut saat melihatku. Wajahnya yang putih pun berubah cepat menjadi merah.


“Ada apa ini? Apakah dia juga merasakan apa yang kurasa? Ah ... aku tidak kuat lagi. Aku harus segera pergi dari sini,” gumamku dalam hati.


“M ... maaf. Aku buru-buru. Permisi,” ujarku sambil berdiri dan mengambil mushaf kecilku.


“Tunggu!!” gumamnya sambil menarik lengan kiriku. Aku terkejut pertama kalinya seorang laki-laki menarik tanganku selain ayahku. Ia menatapku lekat-lekat seolah berusaha masuk kedalam hatiku melalui mataku. Beberapa saat pandangan kami bertemu sebelum akhirnya aku tersadar jika tanganku dipegang lawan jenisku. Segera aku menarik tanganku dari genggamannya.


“M ... maaf. A ... ada apa lagi?” tanyaku tergagap. Ah ... mengapa aku jadi grogi begini? Apa dia tahu selama ini aku menyukainya? Apa yang ia inginkan dariku?


“Maaf, kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanya dia sambil menjulurkan tangan kanannya. Aku tersenyum malu mendengar pertanyaannya. Ternyata bayanganku terlalu jauh.


“Maaf, nama kamu siapa?” tanyaku.


“Aku Surya dari kelas 11 IPS 2. Senang berkenalan denganmu,” senyumnya sambil menirukan gaya bersalamanku. Ah ... sungguh senyumnya membuatku luluh. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Bisa-bisa aku jadi Salting.


“Maaf, aku mau sholat Isya dulu. Aku duluan, ya. Semoga penampilanmu nanti lancar,” ujarku sambil bergegas meninggalkannya. Ah ... sungguh sebuah momen yang tidak akan pernah aku lupakan.


Ternyata cinta dalam diam mempunyai sensasi tersendiri jika kita menikmatinya. Dinginnya air wudhu malam itu membasahi wajahku seakan menenagkan hati dan pikiranku yang tidak karuan sedari tadi. Aku bergegas memakai mukena yang selalu kubawa dan segera menunaikan shalat isya. Sepinya suasana di sekitar mushala dan suara hiruk pikuk keramaian Pensi membantuku khusyuk dalam menjalankan ibadah kali ini. Saat aku membuka mushaf untuk mengingat kembali hapalanku, aku terkejut melihat sebuah benda berharga yang kuselipkan di mushaf hilang.


Sebuah kertas HVS berisi gambar Surya dan kutipan sebuah lagu yang kulipat rapih di dalam mushaf telah hilang.


“Gawat ... jangan-jangan terjatuh saat aku bertabrakan dengan Surya tadi,” gumamku dalam hati. aku bergegas menanggalkan mukenaku dan setengah berlari menuju tempatku terjatuh tadi.


“Jangan sampai ia menemukannya. Jangan sampai ... gawat ini,” ujarku. Ketika aku sampai disana, aku tidak menemukan kertas itu. Aku berusaha mencari di sekitar tempat itu, tetapi aku tidak melihatnya.


“Ah ... mungkin saja tertinggal di kamar,” gumamku berusaha meyakinkan diriku agar tidak panik.


“Sekarang kita sambut penampilan band dari kelas 11 IPS 2,” suara sayup-sayup MC terdengar olehku.


“11 IPS 2 ‘kan kelasnya Surya. Ah ... aku penasaran dengan penampilannya,” ujarku sambil bergegas menuju panggung. Setibanya disana kulihat Surya dan teman-temannya sudah bersiap diatas panggung. Ternyata ia menjadi vokalinya. Aku semakin tidak sabar menanti penampilannya.


Tampak hampir semua siswi cantik dan populer di sekolah memenuhi barisan di depan panggung sambil meneriaki Surya. Ia memang sangat populer di kalangan siswi di sekolahku. Kulihat Surya mengedarkan pandangannya di sekitar penonton seperti mencari sesuatu. Tiba-tiba ia menatap sambil tersenyum ke arahku.


“Ada apa ini? Mengapa ia tersenyum padaku?” tanyaku dalam hati. Beberapa saat kemudian suara melodi lagu mulai mengalun membuat penonton bersorak sambil bertepuk tangan.


Entah mengapa sepanjang penampilannya, Surya tidak mengalihkan pandangannya ke arahku. Ia menatapku sangat dalam sambil menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh Afgan itu. Sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu padaku melalui suara merdunya.


Setelah ia selesai menyanyikan lagu pertama, ia berkata kepada semua penonton,”Guys ... penahkah kalian jatuh cinta sama orang yang kagumin dan susah buat di deketin? Seakan-akan kalian hanya bisa mengagumi dan memandang dia dari jauh dan berharap suatu hari ia sadar kamu tengah mencintainya dalam diam. Lagu terakhir yang akan kami bawakan khusus buat kalian yang sedang mengalami masa itu.


.


.


.


.


Bersambung