Love But Different

Love But Different
ketika rasa ini datang



(pov rahayu)


.


.


.


.


.


Suara adzan shubuh membangunkanku dari mimpi singkatku. Aku bergegas bangkit dari sajadah. Lagi-lagi aku tertidur saat membaca mushaf setelah solat tahajud. Aku bergegas mengambil air wudhu dan solat shubuh di kamar. Suara gemericik air sisa hujan semalam dan suara jangkrik yang masih terdengar membantuku khusyuk dalam mengerjakan solat.


Setelah solat aku merasa hatiku menjadi sedikit tentram. Setidaknya gejolak tidak jelas yang belakangan ini sering datang di dalam hati sudah mereda. Setelah solat aku kembali melanjutkan membaca mushaf dan menyiapkan diri berangkat sekolah. Jarum jam menunjukkan pukul 06:45 saat aku tiba di sekolah.


“Assalamualaikum, Rahayu. Selamat pagi,” sapa Selva, teman sekelasku.


“Waalaikumsalam, Selva,” senyumku.


“Rahayu sudah mengerjakan PR Biologi hari ini? Aku kesulitan mengerjakannya. Ada beberapa bagian yang tidak kumengerti.”


“Sudah kok. Memang bagian mana yang Selva tidak mengerti? Nanti akan kubantu cara mudah memahaminya.”


“Wah ... serius? Ok nanti akan kuperlihatkan soalnya saat di kelas. Aku mau ke kantin dulu ya. Aku belum sarapan. Sampai jumpa di kelas ya, cantik,” gumam Selva sambil melangkah pergi menuju kantin. Aku sebenarnya bukan murid yang pintar. Tetapi temanku bilang kalau aku adalah murid yang rajin. Nilaiku hanya menonjol di mata pelajaran agama dan Biologi.


Sementara pelajaran lainnya masih standar walaupun nilainya diatas rata-rata. Aku masih harus berjuang jika masih ingin masuk fakultas kedokteran. Aku mengintari pandanganku melihat ramainya siswa yang baru sampai di sekolah. Tiba-tiba mataku terfokus pada siswa beransel hitam yang berjalan tepat di depanku. Dialah yang membuat hatiku tidak karuan belakangan ini. Jantungku berdegub cepat saat berada disekitarnya.


Dia adalah Surya, siswa paling populer di sekolah ini. Ketampanan dan keramahannya membuat banyak siswi yang mengaguminya. Jantungku kembali berdegub cepat dan mungkin wajahku bersemu merah. Aku mempercepat langkahku dengan wajah tertunduk tanpa melihat wajahnya. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku harus segera menjauh darinya agar jantungku bisa berdetak normal kembali.


“Rahayu, kebetulan kamu sudah datang. Aku ingin berbicara denganmu,” ujar Naomi, sang ketua kelas saat aku baru masuk kelas.


“Ada apa?” tanyaku penasaran.


“Begini, 2 minggu lagi ‘kan sekolah kita ada acara pentas seni. Nah, aku sudah berdiskusi dengan wali kelas merekomendasikanmu sebagai wakil kelas kita nanti,” ujar Naomi.


“Hah?! Aku? Aku harus menampilkan apa? Aku tidak bisa bernyanyi apalagi menari. Sebaiknya yang lain saja yang ikut,”


“Aku ingin kamu tampil membaca beberapa ayat Al-Quran nanti. Aku tahu kamu sangat pintar membaca Al-Quran. Bahkan dari kudengar temanku di Rohis, suaramu sangat bagus saat membaca Al-Quran. Jadi tolong wakili kelas ini, ya.”


Aku berpikir sejenak mendengar tawaran Naomi. Teman-teman di kelasku tidak ada yang bisa bernyanyi dan bermain musik. Satu-satunya harapan mereka hanya aku. Aku terdiam berpikir sejenak.


“Baiklah. Aku setuju,” senyumku.


“Wah ... terima kasih ya. Nanti kamu sendiri saja yang menentukan ayatnya,” gumam Naomi tersenyum sambil melangkah pergi meninggalkanku.


Entah apa yang dicarinya. Aku berusaha mengacuhkannya dan memfokuskan pikiranku pada buku yang tengah kubaca. Aku berusaha menjaga pandanganku agar tidak bertemu dengan matanya. Aku memang belum mengenal betul bagaimana sifatnya dan mulai kapan rasa ini mulai tumbuh. Rasa yang membuatku selalu teringat tentangnya dan hatiku selalu berdesir saat mengingatnya. Ya ... Allah, tolong bantu hambamu ini untuk mengatasi perasaan aneh ini.


Jarum jam menunjukkan pukul 14:00 saat bel pulang berbunyi. Seperti biasa aku selalu mampir ke mushola sekolah untuk membaca dan mengingat hapalan Al-Quran. Suasana sepi di sekitar mushola membuatku bisa membaca Al-Quran dengan tenang. Jujur saja sebenarnya aku sangat malu ketika membaca Al-Quran dengan suara lantang di depan umum. Oleh karena itu aku sempat ragu untuk menerima tawaran Naomi.


Tidak terasa sudah satu jam aku berada di mushola. Aku bergegas memasukkan mushafku dan bersiap untuk pulang. Saat aku melintasi lapangan sekolah, kulihat Surya sedang bermain basket di lapangan bersama temannya. Beberapa gadis cantik yang populer di sekolah tampak berjejer di pinggir lapangan. Mereka pasti ingin melihat Surya bermain basket. Surya memang pantas menjadi siswa idola sekolah. Aku baru ingat kebetulan hari ini aku membawa pensil dan selembar kertas A4 kosong.


Entah mengapa tiba-tiba aku sangat ingin menggambar. Selain membaca, aku juga mempunyai hobby mengambar. Aku duduk menyandarkan tubuhku di bawah pohon akasia dekat lapangan. Tanganku mulai bergerak menggoreskan pensil di atas kertas. Sebenarnya aku ingin menggambar suasana di lapangan. Tetapi entah mengapa mataku selalu tertuju padanya. Pemilik mata berwarna coklat itu terlihat bersemangat siang itu.


Tanpa aku sadari ternyata tanganku malah bergerak untuk menggambar dirinya. Memang harus akui aku menyukainya dan mungkin mencintainya. Aku jadi teringat perkataan temanku, “Cinta adalah sebuah kesalahan pada sirkuit saraf manusia.” Mungkin ini yang menyebabkan keanehan pada diriku. Sudah setengah jam aku duduk dibawah pohon menggambar dan memandanginya dari kejauhan. Aku teringat perintah ibuku agar pulang cepat dan membantu ibuku mengajar ngaji anak tetangga. Aku bergegas memasukkan alat tulis dan melipat hasil gambarku untuk disisipkan kedalam mushaf.


“Kak Ayu, tolong ajari aku menulis tulisan arab dong,” pinta gadis kecil imut yang duduk di dekatku.


“Oh ... Kakak contohkan dulu, ya. Kamu perhatikan caranya,” senyumku sambil mengambil buku dan pensil yang diberikan anak itu.


“Wah ... bagus sekali tulisan Kakak. Aku sudah mengerti caranya. Aku akan berusaha membuat tulisan arab sebagus Kakak,” ujarnya saat ia melihat tulisan arabku.


Aku tersenyum gemas melihat ekspresi gadis kecil manis berkerudung merah ini. Ibuku membuka kursus mengaji untuk anak tetangga di sekitar rumahku. Kami mulai mengajar dari bada ashar sampai menjelang maghrib. Kami tidak hanya mengajar cara membaca Al-Quran yang benar, tetapi juga hapalan surat, menulis surat Al-Quran, dan beberapa pelajaran agama islam lainnya.


“Cie ... Rani ternyata suka, ya sama Putra. Cie ...” aku mendengar suara ribut-ribut di barisan belakang saat aku tengah mengajar ngaji. Aku menghentikan aktivitasku dan berjalan mendekati barisan belakang.


“Eh ... ada apa ini? Kok malah ribut? ‘Kan Kakak sudah menyuruh kalian menghapal surat Al Insyiroh. Kok kalian malah ribut?” tanyaku.


“Ini, Kak. Hafidz mengejekku saat aku sedang menghapal,” ujar gadis tembem berkerudung putih yang bernama Rani.


“Ih ... bohong dia, Kak. Memang benar, kok. Rani suka sama Putra, anak pak RT. Kalau kakak tidak percaya coba baca surat ini,” gumam Hafidz sambil memberikan sebuah kertas lusuh kepadaku. Aku hampir tertawa saat membacanya. Ternyata ini adalah surat cinta yang ditulis Rani untuk Putra. Tulisan Rani yang acak-acakan dan sangat polos membuatku tersenyum saat membacanya. Rani hanya tertunduk malu saat aku membaca suratnya.


“Cie ... Rani suka Putra. Rani suka Putra,” ejek Hafidz yang disambut gelak tawa teman-temannya. Beruntung Putra tidak masuk hari ini karena sakit. Kalau tidak, mungkin keadaan ruangan ini akan semakin gaduh.


“Sudah ... sudah. Hafidz, kamu mencuri surat ini dari Rani, ya?” tanyaku. Hafidz hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.


“Hafidz, mengambil barang milik orang lain tanpa izin itu dosa, loh. Nanti kamu akan dimasukkan kedalam neraka dan tanganmu dipotong pakai gergaji,” ujarku. Hafidz hanya tertunduk mendengarkan nasihatku.


“Maaf, Kak. Aku tidak akan mengulanginya lagi,” aku tersenyum mendengar penyesalan Hafidz.


“Rani, Kakak tidak melarang kamu menyukai lawan jenismu. Itu adalah sesuatu yang normal. Tapi yang harus kamu ingat dalam islam pacaran itu dilarang. Berpacaran sama saja dengan berzinah. Jika kamu jatuh cinta pada Putra, cintai dia dengan cara yang benar, ya. Jangan sampai kalian berdua berdosa karena perasaan ini,” ujarku. Rani tersenyum menatapku. Ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


“Nah, sekarang Kakak ingin kalian berdua berbaikan, ya. Jangan sampai ada yang memberitahukan ini kepada Putra, ya. Biarkan Rani menyukai Putra dengan caranya sendiri,” senyumku sambil kembali melanjutkan aktivitas mengajarku. Terkadang aku iri kepada muridku yang berpikiran polos dan jujur. Mereka sangat jujur dengan perasaan diri sendiri. Aku ingin seperti mereka. Mengungkapkan perasaan yang selama ini bergejolak dihatiku tanpa memikirkan resikonya.


“Ya Allah. Jika dia memang jodohku, maka tolong dekatkanlah. Jika dia bukan jodohku, maka tolong bantu hambamu ini mengatasi gejolak perasaan di hati ini. Semoga yang kualami saat ini hanya sesaat dan menghilang seiring waktu. Karena kami memang sangat sulit untuk disatukan,” gumamku dalam hati.


Bersambung.....