
Dapa dan Adel melanjutkan perjalanan mereka di dalam gua misterius itu. Mereka tahu bahwa mereka telah melewati ujian pertama dengan sukses, tetapi mereka juga menyadari bahwa ujian kedua mungkin lebih sulit.
Mereka tiba di sebuah ruangan yang gelap, dindingnya dipenuhi dengan lapisan-lapisan es yang mengkilap. Temperatur udara turun tajam saat mereka melangkah masuk ke dalamnya. Di tengah ruangan itu, mereka melihat sesuatu yang menakjubkan - Takhta Terakhir yang dipahat dari es yang bersinar-sinar.
Namun, es ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan. Dapa dan Adel merasa bahwa ini adalah bagian dari ujian mereka. Mereka harus menghadapi es yang dingin dan tajam ini untuk mencapai Takhta Terakhir.
"Kita harus memikirkan cara untuk melanjutkan," kata Dapa, menggigil karena suhu yang sangat rendah.
Adel mengamati es di sekitar mereka dan berkata, "Mungkin kita harus mencairkan es ini untuk membuka jalan menuju takhta."
Mereka mulai mencari-cari cara untuk mencairkan es. Mereka mencoba menggunakan obor mereka, tetapi panasnya tidak cukup untuk mencairkan es yang keras ini. Akhirnya, mereka menyadari bahwa mereka harus menggunakan elemen air.
Dapa meraih ember yang mereka bawa bersama mereka dan mulai mengumpulkan air dari stalaktit yang menjuntai di langit-langit gua. Mereka mencurahkan air tersebut ke es, dan perlahan tapi pasti, es itu mulai mencair.
Saat es mulai mencair, mereka melihat bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Ada tombol berwarna biru yang muncul di permukaan es. Dapa dan Adel saling berpandangan, lalu Dapa dengan berani menekan tombol tersebut.
Seketika, seluruh ruangan bergetar, dan es yang tersisa di sekitar mereka meledak menjadi potongan-potongan kecil. Mereka telah berhasil melewati ujian kedua dan membuka jalan menuju Takhta Terakhir.
Takhta itu tampak lebih indah dari yang mereka bayangkan. Terbuat dari batu permata yang berkilauan, itu tampak begitu megah dan kuat. Namun, ada sesuatu yang lebih penting daripada penampilannya yang memukau. Ada tulisan kuno yang terukir di permukaannya.
Dapa membaca dengan seksama, "Takhta Terakhir adalah pemberi kekuatan dan kebijaksanaan. Hanya mereka yang mampu memimpin dengan bijaksana yang akan berhasil menguasainya."
Suara misterius itu kembali berkata, "Kalian telah melewati ujian kedua. Sekarang kalian harus membuktikan bahwa kalian mampu memimpin dengan bijaksana. Dapa, Adel, kalian harus memutuskan siapa di antara kalian yang akan duduk di Takhta Terakhir."
Dapa dan Adel merasa terpukul oleh permintaan ini. Mereka telah menjadi teman sejak kecil dan selalu berpetualang bersama. Namun, sekarang mereka harus membuat keputusan yang sulit.
Mereka duduk bersama-sama dan memikirkan tugas mereka sebagai pemimpin. Dapa berbicara terlebih dahulu, "Adel, aku percaya bahwa kau adalah orang yang lebih bijaksana dan penuh empati. Kau memiliki kemampuan untuk memahami perasaan orang lain dan membuat keputusan yang adil. Aku ingin kau yang memimpin."
Adel tersenyum dengan tulus, "Terima kasih, Dapa. Aku akan berjanji untuk menggunakan Takhta Terakhir ini dengan bijaksana dan untuk kebaikan desa kita."
Dapa mengangguk, "Aku tahu kau akan melakukannya. Aku akan selalu ada untuk mendukungmu."
Dengan keputusan mereka sudah diambil, Takhta Terakhir mengeluarkan cahaya biru yang lembut, mengelilingi Adel dengan kekuatan yang baru. Ia merasa energi yang mengalir di dalam dirinya, memberinya kebijaksanaan dan kekuatan untuk memimpin dengan bijak.
Suara misterius itu berkata, "Kalian telah melewati ujian ketiga. Sekarang, kalian harus membawa Takhta Terakhir kembali ke desa Eldoria dan menggunakan kebijaksanaan kalian untuk kebaikan semua orang."
Dapa dan Adel tahu bahwa mereka telah berhasil melewati ujian-ujian ini dengan sukses. Mereka merasa lebih siap daripada sebelumnya untuk membawa Takhta Terakhir kembali ke desa Eldoria dan untuk mengatasi semua rintangan yang akan mereka hadapi di masa depan.
Mereka meninggalkan gua dengan hati yang penuh tekad dan berjalan kembali menuju desa Eldoria, tangan Adel memegang erat tangan Dapa, menunjukkan bahwa mereka akan selalu bersama dalam perjalanan mereka untuk mengembalikan keberuntungan ke desa mereka dan untuk menjawab semua pertanyaan tentang asal-usul mereka yang telah menghantui mereka selama ini.
Bab kelima dari "Last King" berakhir di sini, dengan Dapa dan Adel yang siap untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan dan tanggung jawab sebagai pemimpin desa Eldoria.