
Aku merasa seperti aku telah menerima semacam berkah yang menghancurkan bumi, tetapi aku tidak menemukan perubahan khusus dalam tubuh ku dan sebelum aku menyadarinya, kami kembali meminum teh.
[Yah, itu tidak seperti itu akan meningkatkan kemampuan fisikmu atau semacamnya. ]
Shiro, yang kembali memiliki ekspresi kosong di wajahnya lagi, juga duduk di hadapanku.
Namun, biarpun aku bertanya padanya berkah macam apa yang telah dia berikan padaku, Gadis ini mungkin hanya akan berkata “Aku tidak tahu?” ……
“Akankah ini menghentikanku dari segala macam penyakit atau semacamnya?"
[Ya. ] Balas nya dengan singkat.
Fumu, begitu …… Kurasa aku mulai mengerti sedikit tentangnya.
“…… Shiro "
[Apa ... ?]
“Kenapa kamu masih saja terus memakan roti itu? paldahal rasanya tidak enak."
[Ya, rasanya sangat tidak enak sehingga aku merasa ini bisa dianggap sebagai salah satu hal terburuk yang pernah terjadi padaku. ]
“Lalu, kenapa kamu tidak mengambil sesuatu untuk dimakan? Misalnya, sesuatu yang menurut mu enak..."
[.........]
'Tidak ada jawaban kah....'
Daripada itu, aku pikir setelah berkah itu tadi, aku mulai mendapatkan sedikit ketenangan mental tentang apa yang ingin aku katakan sendiri.
Tidak seperti terakhir kali ketika aku baru bertemu dengannya, Shiro menatapku dengan baik, dan berkat itu, aku mengerti bahwa dia memiliki emosi dan kurasa beban yang menguras jiwaku sejak tadi sudah hilang.
Setelah itu, aku harus melihat dia lebih dekat untuk memahaminya tapi …… Aku bahkan bisa melihat sedikit perubahan pada ekspresi wajahnya.
Sambil melihat wajahku, Shiro membuat satu set kue baru muncul di atas meja.
Sekilas, mereka terlihat seperti kue biasa, tapi juga sangat lezat.
Ada sesuatu tentang penampilan cookie ini yang membuatnya tampak luhur karena suatu alasan.
“Ngomong-ngomong, apakah kamu mempunyai teman dekat?"
[Ya, aku punya satu dan kami sering minum teh bersama. ]
[Dia adalah orang yang ceria dan banyak bicara. Bahkan sebelum aku bisa mengatakan sepatah kata pun, dia akan selesai mengatakan tiga kata. ]
“Ahaha. "
Hmmm. Kombinasi Shiro dan temannya Ini kombinasi yang cukup aneh karena mereka berbeda dalam kepribadian.
Setidaknya, Gadis ini memiliki teman dan tidak kesepian.... Karena saat aku membaca komik di dunia ku sebelumnya, Orang orang kuat seperti shiro cenderung tidak memiliki teman dan selalu kesepian.
Ummm. Entah bagaimana, aku mulai memahami perubahan emosi Shiro dan mulai memahami percakapan kami.
Sejak aku berada disini. Kurasa aku merasakan perubahan pada emosi ku, entah mengapa suasana di tempat ini sangat nyaman dan damai ...
Baik atau buruk, Shiro menerima kata-kataku saat aku mengucapkannya dan menjawab dengan lugas dan jujur —– dan itu mungkin sangat sulit untuk dipahami, ekspresinya juga berubah.
Ketika sampai pada hal itu, percakapan yang ku lakukan dengan Shiro menjadi lebih menyenangkan, dan kami mengobrol dengan sangat alami, waktu telah berlalu bahkan sebelum saya menyadarinya.
[Seperti nya anda sudah selesai menerima berkatnya.]
“ Apakah sudah waktunya?"
[Iya . 583 hari telah berlalu sejak Anda tiba di sini. ]
Ketika aku mendengar Shiro tiba-tiba mengatakan itu, sepertinya satu setengah tahun telah berlalu sebelum aku menyadarinya.
Pada saat yang sama, sebuah pintu muncul di sebelah Shiro. Itu mungkin pintu yang akan membawaku menuju dunia baru.
Percakapan dengan gadis ini menyenangkan. Aku merasakan emosi yang belum pernah kurasakan seumur hidupku dan bahkan jika aku enggan, aku memutuskan untuk berdiri dari tempat duduk.
[…… Kamu orang yang tidak biasa, bukan? Biasanya tidak ada orang yang menggambarkan percakapan dengan saya sebagai sesuatu yang menyenangkan. ]
“Begitukah?"
Menanggapi Shiro yang mengatakan itu sementara sudut mulutnya sedikit terangkat, aku hanya memiringkan kepalaku.
Aku memang merasa seperti aku tidak bisa melanjutkan percakapan kami di awal, tetapi saat kami berbicara, aku tidak memiliki perasaan itu lagi.
[Bisa dibilang bahwa kemampuan beradaptasimu bahkan bisa menjadi bakatmu. ]
“Ahahaha, itu tidak mungkin..." Balas ku sembari tertawa canggung.
Nah, Shiro adalah orang seperti ini. Itu juga alasan kenapa aku merasakan rasa kenikmatan yang berbeda dari berbicara dengannya dibandingkan saat aku berbicara dengan yang lain ……
[Jika tidak apa-apa denganmu, bisakah aku mengundangmu untuk minum teh denganku lagi?]
“Ya, tentu saja."
[Kedengarannya ini akan menyenangkan. ]
Aku berpikir kalau pesta teh akan menjadi sesuatu yang mulia, elegan dan bergaya, dan itu tidak akan cocok untukku tapi…… Ketika aku mencobanya, aku menemukan bahwa mengobrol dengan orang lain sambil menikmati secangkir teh itu menyenangkan, dan kurasa aku mengerti sedikit bagaimana perasaan seseorang saat mereka bercengkrama atau semacamnya.
Saat aku memikirkan hal ini, Shiro mengarahkan telapak tangannya ke arah ku dan membuat benda yang menyerupai toples kecil muncul di atasnya.
[Kamu dapat memiliki ini. ]
“Apa ini?"
[Teh...Daun teh kering...] balas nya dengan singkat.
“Apakah tidak apa apa?"
[Ya. ]
Mengambil toples yang diulurkan kepadaku, ada beberapa daun teh kering di dalamnya …… Ah, mungkinkah ini teh hitam yang sangat enak? Sejujurnya ini membuatku bahagia.
“Terima kasih banyak ."
[Tidak, saya juga menikmati waktu kita berdua. ]
Mengatakan itu dengan suaranya yang tidak memiliki nada seperti biasanya, sementara sudut mulutnya sedikit terangkat, Shiro mengayunkan jarinya.
Saat aku beranjak pergi, Tiba tiba shiro memanggil ku.
Namun, nadanya tidak seperti sebelumnya....Kali ini nadanya begitu lirih dan penuh kesedihan.
[Hey, bisakah aku bertanya sebentar...] Ucapnya dengan lirih.
Aku pun langsung menghentikan langkah ku dan berbalik ke arahnya.
Tanpa alasan yang jelas, wajahnya sedikit murung.
“Ya, jadi apa yang kau ingin tanyakan?"
[Aku sudah ada disini begitu lama....Aku bahkan tidak tau jam berapa ini—Tempat ini indah sekali, tapi aku terus berfikir kalau ini sunyi sekali....Ini sunyi senyap.]
[Apa kau bisa memberitahu kenapa aku merasa seperti ini?] Katanya sambil menatapku dengan matanya yang sayu.
“Hmm...
'Bukannya itu hanya kesepian. Tapi, sepertinya dia tidak tau akan hal itu ... ' Pikirku.
Dirinya sama seperti diriku yang dulu ... Begitu polos bahkan sampai tidak mengerti arti dari kesepian ...
"Sebelum itu aku ingin bertanya."
“Kau... Selalu menjadi satu-satunya orang di tempat ini?"
Gadis itu memandang jauh ke arah kelamnya malam tak berbintang sebelum menjawab. [Tempat ini.... Belum ada yang masuk sebelumnya. Tidak ada yang bisa...]
[Hanya ada satu orang yang bisa.... Dan orang itu adalah kau.] Lengkungan tipis terukir manis di wajah dingin nya.
'Selalu hidup sendiri di taman yang indah ini.'
'Istirahat abadi adalah hidupnya.'
'Seperti dongeng saja.'
'Sayangnya, aku tidak bisa lama disini.'
'Bahkan kalau aku mengerti persoalan nya, Aku tidak akan pernah bisa membantu nya...'
“Perasaan yang kau alami ini... adalah kesepian." Jawabku sembari saling tatap dengan nya.
“Kau merasa sendiri karena kau selalu sendiri dan tidak ada orang yang memahami mu."
“Tidak ada hal baru dalam hidupmu, hanya ada pertimbangan."
“Semakin kau memikirkan nya, semakin sakit rasanya. Banyak orang yang memiliki masalah seperti ini."
[Pertimbangan... Adalah sumber dari rasa sakit.]
[Mereka tidak pernah mengerti aku karena mereka takut padaku.] Balasnya dengan wajah sedikit murung.
“Tapi, kupikir aku bisa memahami mu." Ucapku yang bertujuan untuk menghilangkan wajah murungnya.
[Aku tau..]
“Bagaimana kalau kau menjadi temanku?"
[Teman?] Mata sayu nya sedikit terangkat dan menunjukkan sedikit keterkejutan.
“Iya, teman."
“Walaupun disini indah, tapi pemandangan nya tetap sama. kau akan bosan cepat atau lambat."
“Bukankah kau sudah mempunyai satu teman? Mereka berbagi cerita sepele sehari-hari bersama. Lebih menyenangkan dari pada sendiri."
“Itulah arti dari teman...”
*Slappp*
*Slappp*
“Syal ini... Anggap lah sebagai hadiah yang diberikan oleh teman pada saat pertama kali bertemu.”
Dirinya termenung sembari menatap syal pemberianku dan kemudian tersenyum tulus.
[Sudah lama sekali sejak orang membawakan ku hadiah. dan tidak ada orang yang ingin berbicara dengan ku.] Jawabnya sembari memeluk syal pemberianku.
[Terima kasih...] Lanjut nya dengan memasang senyum tulus dan penuh kasih sayang yang bahkan membuat orang yang tidak mempunyai emosi sepertiku terpesona.
*Bdummpp*
“Ahemmm....Yah, walaupun agak keberatan, aku harus pergi..."
Namun, disaat aku ingin membuka pintu.... Tiba tiba shiro memelukku dari belakang dan membisikkan sesuatu.
[Kita akan bertemu lagi... Dan saat itu—Kamu akan menjadi milikku sepenuhnya...] Ucapnya sembari membuat ekspresi yang baru aku lihat dari wajahnya..
“Ap.....
Sebelum aku membalas ucapannya, tiba tiba tubuh ku berjalan sendiri dan akhirnya melewati pintu.
Setelah melihat Laplace berjalan melewati pintu dan pintu itu menghilang, Sharo Vanaru dengan tenang berdiri di taman yang luas nan indah.
[Jadi itu sebabnya dia menyukainya ya. Dia memang mirip denganmu dalam beberapa hal, Kuro ... Bukan dari segi kepribadian, tapi dalam secercah jiwanya ……]
Dia sedikit bergumam, ujung bibirnya sedikit terangkat.
[Kurasa sesekali mengalihkan pandanganku ke satu kehidupan itu menyenangkan. ]
Saat dia menggumamkan kata-kata itu, angin bertiup dan bunga-bunga di taman bergoyang seolah-olah mereka sedang menari.
Langit tak berawan sangat jernih, dan daratan luas tetap tenang seiring berjalannya waktu.
Seolah-olah hatinya terpantul di langit...
Menunjukan bahwa dia benar-benar bersenang-senang...
Siapakah orang yang di sebut Sang dewi???