Laplace'S Story In Another World

Laplace'S Story In Another World
Apa yang sebenarnya terjadi.



Hentakan demi hentakan terdengar memenuhi kesunyian di sepanjang tangga. Surai-surai putih tiada henti bergerak seiring langkah sang kaki. Langkah yang mengandung ketegasan di dalamnya. Keseriusan pun turut serta


menghiasi wajah ramah yang dimiliki.


Selang beberapa lama, sosok tersebut sampai ditempat yang dituju. Pintu dua daun di hadapanlah buktinya. Tangan terulur demi menciptakan ketukan pelan beruntun. Berharap si penghuni dapat mendengar dan membukakan pintu untuknya. Namun, harapannya hanya bisa jadi harapan.


Rasa kesal yang tumbuh akhirnya membuat sosok tersebut angkat bicara. “Laplace, kau di dalam.?” tanyanya sembari sesekali mengetuk sang pintu sedikit lebih keras. “Laplace.!!!” panggilnya langtang. Namun angan-angan mendapat jawaban, sahutan, atau semacamnya hanya bisa jadi harapan belaka.


Cukup dengan usaha yang sia-sia membuat tangannya beralih, meraih gagang pintu kemudian membukanya perlahan. Dengan tegas, tubuh itu tergerak untuk menebar pandang ke dalam ruangan yang cukup luas. Demi mendapati tubuh lain yang sedang terkapar di atas empuknya sofa klasik nan mewah. Tepat di bawah satu-satunya jendela di ruangan tersebut.


Si surai putih lebih memilih mendekat dari pada membuang-buang suara. Langkah halus sukses membawanya ke hadapan sosok yang tengah merehatkan tubuh di sepanjang teriknya siang. Wajah letihnya tak terlihat berkat sebuah buku yang bertengger disana. Tanpa ditanya pun sosok itu pasti sedang menikmati kedamaian saat ini.


Tiada respon maupun reaksi, akhirnya dapat meluluhkan tekad si surai putih untuk membangunkannya. Berniat pergi, tetapi sebuah suara menghentikannya.


“Ada apa, Alice.?”


Sosok berparas bak wanita itu pun bergegas untuk membalikkan tubuh, menghadap sosok yang masih setia dalam posisi tidurnya. “Laplace, aku mengira kau sedang tidur.” balasnya.


“Oh, apa aku mengganggu waktu damai mu?” tanya Alice yang merasa tak enak.


Tak berselang lama, sosok bernama Laplace ini menyingkirkan buku penghalang wajah yang selalu dipuja-puja kaum hawa tersebut dan bangkit meninggalkan kedamaiannya. Sepasang iris hitam legam sekelam malam tak berbintang memamerkan pesonanya begitu kelopak mata terbuka.


“Ya, kau sangat mengganggu waktu damaiku.” Balas si lelaki sembari duduk di sofa.


Si surai putih hanya bisa tersenyum pahit, Karena dia sudah terbiasa dengan sifat lelaki di depannya. Dingin, suram, tanpa ekspresi, dan asal bicara melambangkan ciri khas lelaki di depannya. Kalau orang normal yang berbicara seperti itu kepadanya, mungkin ia akan marah. Namun, lelaki di depannya berbeda—dia spesial.


“Jadi, ada apa?” tanyanya sembari mengerjap beberapa kali untuk menyempurnakan penglihatan.


Berkurangnya rasa segan tadi, si surai putih menjelaskan maksud kedatangannya. “Laplace, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar.”


Dia menolak mentah-mentah ajakan tulus dari sang gadis. Namun, yang lebih mengejutkan nya lagi reaksi sang gadis bukannya marah ataupun sedih, melainkan tersenyum.


“Laplace, berdiam diri selama 1 tahun di ruangan ini hanya akan memperburuk kesehatanmu. Sesekali cobalah berkeliling dan bercengkrama dengan orang lain.” Si surai putih mencoba membujuk lelaki itu dengan nada lembut.


“Walaupun aku berkeliling dan mencoba bercengkrama dengan orang lain, itu tidak akan mengubah apapun!!”


“Takdirku.... Masa hidupku yang akan berakhir tidak akan berubah!!!” Dia membalas ketulusan sang gadis dengan ucapan dingin dan kejam.


Namun, dia melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan. Dia tak mau sang gadis mengetahui rahasia yang tidak diketahui siapapun.


“Takdir? Masa hidup?? Laplace, apa maks-


Sebelum sang gadis menyelesaikan ucapannya si pria segera melontarkan kata kejam dengan nada tinggi. “Keluar!!!!”


Sang gadis segera keluar dengan wajah yang sedang menahan tangisnya. Si pria yang melihat itu juga merasa sedih dan putus asa. 'Jika bukan karena takdir sialan ini aku pun enggan melakukan hal ini kepadamu.' pikirnya dalam hati dan mulai melihat ke arah jendela. Memandang jauh ke arah langit cerah.


Tanpa ia sadari rintik air mata mulai mengalir ke wajahnya yang menawan.


 


...----------------...


Malam yang menyelimuti dunia pun datang, menutupi dunia dengan kegelapan cahaya berwarna-warni yang silih berganti seolah berjalan dilangit sontak menghujani atap dunia, tetapi keindahan itu, Aurora, tak dapat sedikit pun menarik perhatian wanita bersurai putih yang seindah rintik salju tersebut. Gadis itu tidak bereaksi sedikitpun, hanya duduk diam memandang jauh ke arah cakrawala.


Gadis tersebut adalah Alice. Ia sedang memikirkan hal yang terjadi tadi siang. Mengapa Laplace berbicara seperti itu? Takdir? apa yang dia bicarakan? Masa hidup? Apa maksud dari semua itu? Ia benar benar tidak mengerti. Semakin ia pikirkan, semakin pula ia bertambah bingung.


“Laplace, apa yang sebenarnya terjadi padamu.” gumamnya dengan penuh kesedihan.