Laplace'S Story In Another World

Laplace'S Story In Another World
Mengapa engkau melakukan hal ini.



Namaku adalah Alice. Sejak kecil aku selalu sendiri bahkan ayah dan ibuku hanya menyayangi adikku yang lebih pintar dariku.


Suatu hari, aku bertemu dengan seorang Individu berwujud Layaknya manusia laki-laki berfisik seperti pria berusia 15 tahunan yang sedang duduk tenang di atas sebuah Kursi Kayu Yang terletak begitu saja di depan sebuah rumah. Memandang bosan pada kucing kecil yang sedang bermain dengan ekornya sendiri.


Lelaki itu memiliki rambut hitam yang sekelam malam tak berbintang, kulit seputih salju abadi, dan iris yang sama hitamnya dengan rambut indahnya.


Dia kemudian mulai melihatku dengan tatapan tak bernyawa, seperti tidak ada jiwa di dalamnya. Tapi saat aku mencoba bicara dengannya ternyata ia dijauhi oleh teman-temannya karena ia hampir tidak memiliki ekspresi.


Aku yang mendengar hal itu berniat mengajari cara mengekspresikan emosi. Tetapi ia selalu gagal dan saat aku menyuruhnya tersenyum yang kulihat adalah senyum iblis.


Sejak saat itu tanpa sadar aku dan dia mulai berteman, , ia bilang kalau ia ingin hidup mandiri, aku yang mendengarnya mengatakan kalau aku juga akan hidup sendiri sepertinya


Setelah itu ia mulai bekerja dan aku hanya bisa membantunya, suatu hari karena urusan keluarga aku harus pergi keluar kota karena keluargaku mau pindah rumah.


Sebenarnya aku tidak ingin pindah rumah itulah yang kukatakan padanya saat itu, dia hanya diam dan memandang ke langit kemudian pergi meninggalkanku sendirian.


Kupikir kalau aku sudah ditinggalkan oleh salah satu temanku tetapi ternyata aku salah, setelah 10 hari ia kemudian datang ketaman biasanya kita bermain.


Aku yang melihat hal itu ingin mengatakan perpisahan, tetapi ia menghentikanku dan bilang kalau aku bisa tinggal bersamanya.


Aku yang mendengarnya terkejut, karena kupikir salah satu temanku meninggalkanku tetapi ternyata tidak.


Kami pun mulai tinggal bersama dan menjadi sahabat setelah itu, tetapi anehnya aku merasa selalu senang berada didekatnya, bahkan aku kadang merasa gugup saat berbicara dengannya.


Flashback end


POV Alice end


Entah sudah berapa lama aku menjalani hidup ini


Semuanya, terasa hambar.


Untuk Apa aku menjalani kutukan bernama kehidupan? Lebih baik mati dengan tenang. Tidak perlu lagi merasakan sakit; merasakan derita; bisa menutup mata; istirahat untuk selamanya.


Pagi menjelang... Mentari terus menapaki langit hingga sampai di horizon satunya... Sesosok pemuda bersurai hitam mulai terbangun dari mimpi indahnya. Kelopak mata terbuka menunjukkan bola mata yang senada dengan rambutnya.


“Sudah pagi kah.” Bisiknya


Perlahan sosok itu bangkit dari tempat tidur nya dan bergerak menuju kamar mandi.


“Selamat pagi.” sapa seorang gadis bersurai putih dengan ceria


Laplace hanya mengangguk dengan wajah dingin dan terus berjalan ke kamar mandi.


Gadis bersurai putih itupun menggembungkan pipinya karena sapaan paginya hanya di angguki dingin oleh Laplace.


 


“ Alice, aku mau jalan jalan sebentar.” Ucapku sembari jalan menuju pintu.


“Tidak boleh!!! Diluar sedang turun salju—dengan keadaan mu saat ini, bagaimana kalau kau sakit?” Alice melarangku dengan keras.


“Aku tak perduli dengan laranganmu.” balasku dengan singkat.


“Hmmphh... Baiklah tapi aku akan ikut” Sang gadis segera pergi ke kamar untuk bersiap siap.


Tak selang beberapa detik sang gadis mulai keluar dengan pakaian lengkap musim salju.


Saat ini kami berdua sedang berjalan-jalan di sekitar. Suasana jalanan saat ini begitu sepi dan kelam—mungkin karena saat ini sedang bersalju.


Sesekali kami bercengkrama dengan membahas masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.... Walaupun aku tau tak akan ada masa depan untuk diriku.


POV Alice


Hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidup ku, bagaimana tidak—orang yang spesial bagiku tiba tiba mengajakku jalan-jalan 'walaupun aku yang memaksa ikut sih—Tehe:p' dan akhir akhir ini ia mulai bisa mengekspresikan emosinya seperti tersenyum, sedih, dll.


Saat ini kita sedang berada di taman. Menikmati suasana di sekitar— Begitu nyaman dan mendamaikan. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara sesuatu terjatuh di rerimbunan salju.


*Brugh*


Aku panik dan langsung menoleh ke arah suara itu, yang kulihat membuatku tambah panik, aku melihat Laplace sedang berbaring dengan muka pucatnya dan ada darah di mulutnya.


Aku langsung membopongnya ke bangku taman yang letaknya tidak jauh dari sini dan berniat menanyakan apa yang terjadi tetapi.


“Maaf.”


Hanya kata itu yang keluar darinya dan kemudian mulai menutup matanya, aku panik dan memeriksa denyut nadinya dan nafasnya, dan hasilnya membuatku menangis sejadi jadinya.


Orang yang paling kusayang, orang yang paling mengerti diriku sudah pergi meninggalkanku dalam dalam kesendirian.


Segera, akupun membawa mayatnya menuju kediaman kami berdua.


 


Mentari kian hilang kala senja datang. Awan hitam kini datang menutup kilauan cahaya terang.


Di ujung ruang terlihat bayang wanita tertunduk muram.


Sendu serta padam adalah hal biasa baginya kala malam datang


Isak tangis bukan lagi dalam khayal namun nyata adanya


Betapa kejam sambutan malam, meruntuhkan sayap-sayap yang terbang kala siang


Mengikis sebongkah gelak tawa, serta melukis goresan hitam pekat dalam raga


Jangankan berlari, melangkah perlahan pun ia tak sanggup


Ikatan tali kala malam sungguh menyesakkan dadanya


Ia bernafas dengan sisa sisa kekuatan yang ia miliki


Kali ini ia benci senja, ia sesak dengan rembulan


Hatinya bertekad kuat untuk beranjak pergi


Kembali bersama keindahan aurora yang ia rindukan


Malam itu, semua tetangga mendengar suara jeritan memilukan dari salah satu rumah untuk pertama kalinya.


“Laplace, mengapa engkau melakukan hal ini.!?!?!?” Teriaknya dengan penuh kesedihan dan keputusasaan.