
Percakapan dengan Shiro—Dewi dengan wajah cantik, proporsi tubuh sempurna, suara indah dan spesifikasi yang bahkan bisa membuat Dewi Kecantikan lari dari superioritasnya, tetapi juga memiliki faktor yang sangat merepotkan karena dia tanpa ekspresi , tanpa emosi, dan orang bebal alami—berlanjut.
“………………. "
[………………. ]
“Ngomong-ngomong!Apa efek dari berkah mu?"
[…… Aku tidak tahu?]
“Kamu tidak tahu !?"
Jika aku membiarkan Dewi ini mengendalikan percakapan, aku takut pikiranku akan hancur …… Aku ingin tahu apakah ada yang salah dengan mata dan telingaku? Hanya saja, entah kenapa, kurasa aku mendengar Dewi ini berkata “Entahlah?” sambil memiringkan kepalanya dengan wajah tanpa ekspresi seolah dia tidak tahu efek dari berkatnya sendiri …… Dia hanya bercanda, kan?
[Tidak, hanya saja ini pertama kalinya aku memberikan restuku kepada siapa pun, jadi aku tidak akan tahu akan seperti apa efek berkah ku. ]
“…… Ini pertama kalinya kamu memberikan berkah?"
[Ya. Aku pada dasarnya tidak pernah pergi ke Alam Manusia. ]
[Gantian.... Sekarang aku yang bertanya.]
[Manusia, apa mereka mengharapkan suatu kekuatan besar?.]
"Hah? ... "
Aku mengira dewi ini akan memulai percakapan yang absurd, tapi yang dia katakan padaku adalah sebuah pertanyaan.
Masih belum ada perubahan dalam suaranya, dan ekspresinya masih belum berubah sama sekali…… Tapi untuk beberapa alasan, dia sepertinya dengan tulus bertanya-tanya tentang itu, tidak seperti sebelumnya.
“……………….
Mungkin itu sebabnya aku tidak bisa menjawabnya dengan cepat. Apakah manusia merindukan kekuatan besar atau tidak …… Itu mungkin pertanyaan yang bisa ditanyakan dia sebagai Dewa yang terlahir dengan kekuatan besar.
Bagaimana saya harus menjawabnya? Tidak, gadis ini bisa membaca pikiranku, jadi tidak ada gunanya mencoba berbohong. Kalau begitu, aku harus mengatakan apa yang kupikirkan ……
“Kurasa begitu.... Manusia mengharapkan sesuatu yang 'Spesial'."
“Bahkan diriku sendiri."
[Kalau begitu... Aku akan memberikannya padamu.]
“Hah..?"
[Aku jarang berbicara pada manusia dengan cara ini.... Cara ini hanyalah Takdir.]
[Aku bisa memberikan mu semua yang kau mau.]
[Apapun itu, tidak masalah.]
[Aku bisa memberikannya padamu.]
[Tapi, kamu harus memakai nya untuk kepentingan umat manusia...
Singkat nya kamu akan menjadi pahlawan.]
Seolah-olah itu adalah sesuatu yang secara alami dapat dia lakukan, Dewi memberitahuku begitu.
Bahwa dia bisa memberikan apapun yang aku inginkan— Bahwa aku bisa berubah menjadi apapun yang kuinginkan...
Apa pun yang kuinginkan bisa menjadi kenyataan—Jika aku memintanya, aku bisa menjadi “spesial”.
Hati ku sangat bergetar....
Apa yang tidak bisa saya dapatkan bahkan setelah berjuang dan menderita, Dewa di depan saya mengatakan bahwa dia akan mengabulkannya.
Tidak ada alasan bagiku untuk menolak.
Seharusnya tidak ada alasan tapi, aku heran kenapa? Kenapa harus melindungi makhluk fana itu? Ada sesuatu yang menahan ku untuk tidak berbicara jauh di dalam hati.
Memejamkan mata, aku mengetuk relung pikiran ku bahwa aku akhirnya mulai merasa lebih dekat akhir-akhir ini.
Apa yang kuinginkan …… Apa yang sebenarnya kuinginkan …… Dalam diam bertanya pada diriku sendiri, aku perlahan membuka mataku untuk melihat ke mata Dewi yang melihat semuanya, dan mengucapkan jawaban yang kudapat.
“Pahlawan kah.... seperti nya aku menolak, Terima kasih."
[Mengapa?]
“Karena makhluk makhluk fana itu tidak pantas dilindungi, mereka adalah makhluk yang penuh dengan keserakahan dan keegoisan." Jawab ku dengan dingin.
"Lihatlah kenyataan, tidak ada sesuatu yang berjalan sesuai rencana di dunia ini".
“Semakin lama kau hidup, semakin kau menyadari bahwa hanya ada rasa sakit, penderitaan dan kegagalan di dunia ini."
“Di dunia ini dimanapun ada cahaya, disitu pula ada bayangan."
“Selama masih ada pemenang, maka orang yang dikalahkan juga ada."
“Keegoisan seseorang yang menginginkan perdamaianlah yang menyebabkan terjadinya perang, dan kebencian terlahir untuk melindungi cinta"
“Mereka semua saling berhubungan dan membuat hubungan yang tidak bisa dipisahkan."
“Mereka semua bergerak di atas emosi!! Hari ini mereka duduk bercengkrama, hari lainnya mereka memalsukan senyum dan membuat siasat gelap."
“Hanya ketakutan yang membuat mereka mengerti. Untuk itu, aku akan menjadi sumber ketakutan mereka— Aku akan memaksakan semua nya patuh. Dunia dimana semuanya hidup dengan ketundukan— Akan ku ciptakan dunia seperti itu ...