Immortal LIFE

Immortal LIFE
Bab.29



Teriakan histeris Lucian dan Grosdan terdengar memekakkan telinga, untung saja sebuah sosok menahan tubuh Kane sebelum wanita itu menabrak pohon. Sosok itu memangku tubuh Kane dan membawanya ke bawah lalu menurunkannya.


"Hormat, Miss," si wanita vampire yang baru saja menolong Kane menunduk memberi hormat.


"Delena, terima masih." Grosdan mengenali si vampire wanita itu adalah temannya.


Delena menatap tak suka pada Grosdan, lelaki itu menurunkan tingkat penjagaan pada sang cahaya. "Kali ini aku tidak akan melaporkanmu pada ketua, Grosdan. Lain kali jangan gegabah lagi!"


Grosdan mengangguk, lelaki penjaga itu bergerak maju mendekati Miss-nya. "Maaf."


"Gapapa, aku baik-baik saja," Kane tak enak hati merasa kasihan pada vampire penjaganya itu.


"Jangan lembek, Kane! Marahi Grosdan jika dia berbuat salah, kamu adalah paling berharga bagi kami." Lucian mendesis kesal.


"Sudahlah, untung saja tidak ada manusia disini. Kau juga terlalu pemarah, Lucian! Lihat yang kau lakukan padaku!"


"Aku--"


"Kau juga sepertinya mengikutiku, buktinya kamu tiba-tiba ada disini. Meskipun kamu bisa terbang jauh, tapi tidak akan secepat ini."


"Aku--"


"Sudahlah! Aku nggak mau mendengar penjelasanmu Lucian. Ayo pergi ke tempat lain saja, Grosdan." Kane lalu menoleh pada wanita yang menolongnya. "Namamu Delena, untuk tadi terima kasih."


Delena mengangguk, dia lalu pergi tanpa jejak.


Kane mengacuhkan Lucian, dia berjalan menjauh dengan perlahan di atas tanah bersalju.


Grosdan menempel di belakang Kane, ia terus waspada sesekali mata pria itu berotasi ke sekeliling.


Sedangkan Lucian memicingkan matanya lalu terbang ke atas pohon, mengikuti Kane kembali tak ingin keselamatan wanita itu hanya dalam penjagaan Grosdan saja.


Grosdan membawa Miss-nya ke sebuah kastil tua mistis. Saat Kane masuk ke kastil tua tempat para raja terdahulu itu, ia merasakan desiran aneh saat mulai menginjakkan kakinya ke dalam kastil. Aura-aura seketika menyelebunginya berwarna biru api yang hanya dapat dilihat oleh para vampire murni bahkan Kane yang masih belum abadi belum bisa melihat aura biru api menyelubungi tubuhnya.


Grosdan melihatnya, seketika aura dirinya melemah terkalahkan oleh aura wanita yang sedang dijaganya.


Lucian berada di atas langit-langit di dalam Kastil, lelaki itu juga menatap takjub pada aura biru api mistis di sekeliling tubuh pasangan jiwanya.


"Grosdan, kenapa kamu berdiri di ambang pintu? Masuklah." Kane menoleh ke belakangnya karena merasakan ketidak hadiran lelaki penjaganya.


"Saya masuk, Miss."


Tiba-tiba Aura-aura biru api yang menyelubungi Kane bertambah kuat saat Kane mendongak ke atas langit bangunan, menatap penuh kekesalan pada lelaki yang terbang diatas langit-langit. "Pergilah Lucian! Sampai kapan kau ingin mengikutiku!"


Lucian terbelalak karena tiba-tiba tubuhnya melesat terbang keluar dari dalam kastil tanpa ia inginkan. Tubuhnya bergerak sendiri keluar, itu baru pertama kalinya terjadi padanya.


"Apa yang terjadi?!" Lucian sudah berada diluar Kastil, mulutnya menganga tak percaya. "Apa ini karena ucapan Kane yang menyuruhku pergi? Aura di dalam kastil mendorongku pergi?!"


Grosdan mendengar perkataan Lucian di luar kastil, matanya lalu menatap wajah Miss-nya dengan tatapan memuja. "Aku ingin memilikimu, wahai Azula. Putri api biru..." lirihnya.


"Baji ngan! Beraninya kau memimpikan wanitaku! Dia sudah ditakdirkan menjadi pasangan jiwaku!" teriak Lucian dari luar.


"Kau salah Lucian, saat segel sang putri api biru terbuka setiap lelaki bisa memiliki sang putri asalkan memiliki kemampuan untuk berada di sampingnya. Itu juga baik untukmu, Lucian. Saat Putri api biru memilih sendiri pasangannya, kau juga bisa terlepas dari ikatan jiwa abadi dan bisa bersama wanita mana pun termasuk bersama Rose si manusia." Gumam Grosdan meledek.


Diluar sana Lucian menghancurkan batu besar yang tak jauh darinya, amarah kembali menguasainya. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Hanya aku pasangan jiwa Kane, tidak ada lelaki lain termasuk kau!"


Mereka berdua saling beradu mulut tanpa terdengar oleh Kane, wanita itu semakin ke atas bangunan menaiki tangga memutar kastil dari abad pertengahan itu dengan bersemangat.


Kastil Itu adalah tempat para leluhurnya dulu menyalurkan aura-aura mereka, kini aura itu terserap oleh tubuhnya.