Immortal LIFE

Immortal LIFE
Bab.27



Kane terlelap di ujung fajar, saat matahari sudah berada di atas kepala wanita itu baru terbangun.


"Miss Estera," suara seorang perempuan.


"Uhm..." Kane membuka matanya perlahan.


"Siapa kamu?" tanyanya.


"Saya diutus Mister Lucian, saya akan menjadi pelayan pribadi Anda. Nama saya Abel."


Seketika mata Kane terbuka lebar, dia memicingkan matanya. "Kau diutus Lucian untuk memata-mataiku?!"


Abel menggeleng, "Tidak."


Kane teringat pengawal pribadinya yang diutus para Tetua, lalu berniat memanggilnya.


"Grosdan! Kau ada diluar?"


Wussshhh.


Vampire itu sudah berada di hadapan Kane. "Ya, Miss. Ada yang bisa aku bantu?"


"Singkirkan pelayan ini, aku tidak ingin seorang pun datang kesini atas suruhan Lucian."


"Baik, Miss." Grosdan mulai menyeret pelayan perempuan itu. "Ayo pergi dari sini!"


"Miss, tolong aku... Mister Lucian akan menjadikanku vampire jika tidak berhasil mengurus Anda. Aku masih ingin menjadi manusia, aku mohon Miss..." pelayan itu memelas dengan wajah menyedihkan.


"Astaga! Lucian! Brengsek kau! Sudahlah, lepaskan dia!"


Grosdan segera melepas cekalannya.


"Kau pergilah, Grosdan."


Grosdan menunduk pamit, dia pergi seperti datang tadi seringan angin.


"Siapkan bak mandiku, ah... pukul berapa sekarang?"


"Hm, pantas saja semakin panas. Siapkan air mandi dan pakaianku untuk hari ini. Aku akan pergi keluar."


"Baik, Miss," Abel berlari ke bathroom, segera menyiapkan air mandi dengan wewangian khas Romania.


Setelah selesai pelayan wanita itu keluar, "Silahkan, Miss. Saya akan menyiapkan pakaian Anda, ingin memakai apa hari ini?"


Si pelayan membuka pintu lemari, disana tergantung banyak pakaian dan gaun dari berbagai merk. Kane seketika menggeleng pasrah, para vampire orang-orang kaya.


"Aku ingin memakai celana jeans panjang dengan atasan pendek, syal, lalu sepatu boot tinggi selutut warna hitam. Semua harus hitam kecuali baju atasan pilihkan rajut warna putih."


"Baik, Miss."


Kane tak menunggu lama, dia masuk ke kamar mandi setelah membuka seluruh pakaiannya ia menenggelamkan dirinya ke dalam bathtub. Aroma terapi dan wewangian seketika menyegarkan pikirannya membuatnya seakan sedang melayang. Dia menutup kedua matanya menikmati kemewahannya sekarang.


Lucian menatapnya dari ambang pintu, dia datang lewat jendela sudah seperti seorang pencuri. Tapi harus bagaimana lagi, dia rindu setengah mati pada kekasihnya.


Diluar Grosdan marah-marah, ia memaki Lucian yang sedang berada di dalam kamar. Apalagi dia tak berani masuk untuk menyeret lelaki itu karena dia tau Miss-nya sedang berendam di bathroom.


Tentu saja Lucian yang berada di dalam kamar mandi mendengar rutukan Grosdan diluar pintu kamar tapi dia adalah vampire yang tak pernah mendengar perkataan memerintah siapapun padanya. Hanya ucapan para Tetua yang masih ia hormati dan ia turuti. Jika saja Grosdan bukan utusan para Tetua sudah dipastikan lelaki itu sudah musnah di tangannya.


Mata Kane terbuka, dia menoleh ke ambang pintu merasa ada sepasang mata memperhatikannya tapi ia tak bisa melihat siapapun disana. Dia menggeleng lalu melanjutkan kembali mandi berendam nya.


Setelah merasa cukup Kane berdiri lalu keluar dari bathtub, membungkus tubuh basahnya dengan bathrobe. Melangkahkan kakinya masuk kembali ke kamar berjalan menuju pelayan wanitanya yang sedang memegang pakaian untuk dipakainya.


"Namamu tadi siapa?" tanya Kane seraya membuka bathrobe dan mulai memakai pakaiannya satu-persatu yang disodorkan si pelayan.


"Abel, Miss."


"Abel, apa tadi ada yang masuk? Aku merasa ada seseorang yang memperhatikan ku saat berendam."


"Saya sejak tadi disini, Miss. Tidak ada siapapun yang masuk," jawab Abel dengan tegas. Pelayan itu tidak tahu jika Lucian sudah menghipnotisnya jadi saat ditanyai oleh Kane seolah pelayan itu berkata dengan jujur.


"Hm, oke."


Kane melihat kejujuran di mata Abel, dia melanjutkan kembali memakai pakaiannya.