
"Ayo, ayo masuk dulu." Papa mengarahkan tamunya untuk duduk di sofa ruang tamu. Angel dan Lucas hanya mengikuti Papanya masing-masing.
"Jadi, gimana Jeffry. Rencana kita." Om Hendry terlihat memberi kode kepada Papa dengan menyenggol lengannya pelan.
"Ahh, tenang aja aman itu." Papa terlihat santai.
"Oh jadi mau?" Mata Om Hendery melebar dan terlihat antusias.
"Katanya jalanin aja dulu."
"Oh bagus, bagus."
"Angel, ajak Lucas jalan-jalan di keliling rumah. Papa sama Om Hendery ada hal yang mau di bahas." Perintah papa menoleh ke arah Angel.
Ia mengiyakan perkataan Papa patuh.
Angel dan Lucas berjalan beriringan menuju kolam renang di rumahnya. Mereka duduk di kursi malas yang tepat berada di pinggir kolam.
Terlihat canggung, tetapi akhirnya Lucas membuka pembicaraan.
"Eh.. Angel kelas berapa sekarang?" Tanya Lucas yang terlihat kaku.
"Kelas 11." Angel memainkan ponselnya sambil duduk santai tanpa memperdulikan pertanyaan Lucas.
"Heh! Kamu cuek ya sama temen sebaya. Tadi pas di ruang tamu kelihatannya ramah banget." Lucas menyunggingkan senyum miringnya.
"Terserah akulah. Kok sewot sih."
"Ya ampun. Kesan pertama kamu gak terduga. Kamu setuju sama perjodohan rencana Papa kita?" Lucas masih menatap Angel dari samping.
"Untuk Papa apa yang enggak sih. Aku setuju sama perjodohan ini bukan karena kamu juga. Kita juga gak saling kenal, jadi jangan sok akrab." Angel menurunkan ponselnya, sedikit terlihat frustasi. Dan memperingatkan Lucas karena ia cukup cerewet.
"Kalau aku sih awalnya juga gak mau, terus Papa kasih tau tentang kamu dan foto kamu. Jadi mau deh. Karena kamu cantik." Lukas terkekeh bercanda. Ia berusaha mencairkan suasana, tetapi Angel malah yang tidak peduli.
"Ck. Aku gak mudah termakan kata-kata manis." Angel melirik kearah Lucas sebentar dengan wajah tak senang.
"Aku harap kita bisa mengenal satu sama lain dengan akrab ya." Ucap Lucas ramah berharap mendapat sambutan dari Angel.
"Hmm."
Tetapi, itulah yang terjadi Angel masih terlihat cuek dan dingin dengan Lucas.
Lucas mendapati perilaku Angel kepadanya hanya tersenyum. Lucas belum sepenuhnya tau tentang Angel, jadi tidak berani memprovokasi Angel.
"Angel!" Suara panggilan dari Papa di ruang sebelah.
"Ya Pa!" Angel menyahuti panggilan Papa.
"Ajak Lucas ke ruang makan. Kita makan siang sama-sama."
"Iyaa, Pa."
Angel berdiri dari kursinya dan beranjak pergi ke ruang makan tanpa mengajak Lucas.
Lucas hanya mengikuti dari belakang dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Ayo, ayo kita makan dulu." Ajak Papa dengan ramah dan menawarkan berbagai makanan di meja kepada tamunya.
Papa, Angel, Om Hendry dan Lucas makan bersama. Terlihat kedua orang teman mengobrol ringan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Angel dan Lucas hanya terdiam. Angel lebih fokus ke makanannya, sedangkan Lucas lebih memperhatikan Papa dan Om Hendry berbicara.
Lucas ingin mengajak Angel berbicara, tetapi Angel terlihat tidak peduli dengan Lucas.
Setelah makan siang, mereka duduk bersama di ruang keluarga sambil memakan beberapa hidangan yang telah disuguhkan oleh tuan rumah di depan tv.
Tetapi tidak lama berbincang-bincang, ternyata Om Hendery harus segera pulang karena masih banyak keperluan yang harus diurus.
Om Hendery dan Lucas pamit kepada Papa dan Angel. Mereka mengantarkan tamu mereka sampai di teras rumah hingga mobil mereka kendarai menghilang dari pandangan.
"Jadi, gimana menurut kamu si Lucas itu?" Papa menyenggol Angel genit.
"Lucas?" Angel hanya menoleh kearah Papa.
"Iya. Gimana?"
"Baguusss." Angel hanya manggut-manggut.
"Hah? Kok bagus. Emang kamu kira Lucas itu apa? Barang?"
"Ya enggak lah Pa. Yaaa maksudnya bagus aja orangnya." Angel berbalik arah menuju ruang keluarga, Papa terlihat mengikuti dari belakang.
"Cuma satu sekolah doang, Pa. Belum tentu satu kelas."
"Hayoh, kamu mulai tertarik ya sama Lucas." Ledek papa yang tidak ada henti-hentinya.
Angel memegang pelipisnya bingung.
"Ya ampun Papa. Baru juga kenal."
"Dari mata kan bisa jatuh ke hati. Papa mau siap-siap kerja." Papa berjalan ke kamarnya
"Loh kok kerja? Kata Papa libur. Ihhh gak seruuu." Angel memutar kepalanya ke arah Papa.
"Papa cuma mau ngurus kerja sama Papa sama Om Hendery doang. Kalau udah selesai ya pulang."
"Ohhhh gitu."
"Yaudah kamu di rumah aja ya, Papa mau siap-siap dulu."
"Hmmm."
Angel naik ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya.
"Ya ampun bosen. Udah Papa gak boleh keluar rumah." Gumamnya sambil membenamkan wajahnya ke bantal.
Angel merebahkan diri di kasurnya. Rasanya sangat nyaman. Tidak butuh waktu lama Angel memejamkan matanya karena kantuk yang sudah menyelimuti dirinya.
Suara ketukan pintu kamar mengusik tidurnya. Ketukan itu terdengar cepat, seakan ingin memberitahukan sesuatu.
"Nona! Nona! Nona ada di dalem gak?" Seru Bibi dari luar sambil terus mengetuk pintu kamarnya.
Angel terbangun kaget yang membuat kepalanya sedikit pusing.
"Hmmm iya bi ada apa?" Suara Angel terdengar serak karena baru bangun tidur.
"Loh hari ini Nona gak les?"
Les?
Karena nyawa yang belum terkumpul separuhnya, Angel berpikir sejenak otaknya sedang loading.....
"Ah! Iyaa! Aduh udah jam berapa ini. Iya Bi, Angel mau pergi les." Ia bangun dari kasurnya dengan kasar.
"Cepet loh Nona. Telat nanti."
"Iya bi."
Angel buru-buru ke kamar mandi untuk mencuci muka dan memakai pakaian apa saja yang penting rapi.
Angel berlari menuju ke bawah untuk meminta Pak Sam mengantarkannya.
Saat ia berlari menuju ke kelas, tidak sengaja ia menabrak seseorang hingga terjatuh.
Bruk!
"Aww!" Rintih orang yang terjatuh bersamanya.
Mereka berdua jatuh terduduk dan itu adalah ulah Angel awalnya
"Aduh. Sorry sorry aku gak sengaja." Angel langsung berdiri dan mengulurkan tangan kepada remaja laki-laki yang terjatuh akibat dirinya.
Remaja laki-laki itu menyambut uluran tangan Angel.
"Maaf ya yang tadi. Aku pergi dulu." Angel meninggalkan remaja laki-laki itu dan buru-buru menuju ke kelasnya. Bahkan ia tidak sempat memperhatikan bentuk wajah lelaki itu.
Napasnya tidak beraturan setelah sampai di depan kelas les. Ia berhenti sebentar mengatur napasnya sebelum memasuki kelas.
"Baru pertama kali masuk les. Udah terlambat aja. Ihhh dasar Angel." Ia terus mengumpat dirinya sendiri.
Ia mengetuk pintu kelas dan membuka pintunya.
"Permisi, Miss. Nama saya Angel. Maaf saya terlambat."
"Lain kali jangan terlambat, ya. Karena kamu pertama kali masuk les jadi saya maafkan. Silakan duduk di tempat yang kosong."
"Terima kasih, Miss."
Angel duduk di kursi yang kosong dan segera memperhatikan materi les yang sedang berlangsung.