I'm Not an Angel

I'm Not an Angel
Bab 11 Dimana Mama?



"Sabar napa. Kehabisan nafas nih gue. Itu Angel sama Tiffany kelai di kelasnya."


"Hah?" Lucas langsung berlari menuju ke kelas Angel memastikan keadaannya saat ini.


"Yaelah. Ditinggalin." Teman Lucas kesal melihat Lucas berlari meninggalkannya.


Saat sampai di kelas Angel, Lucas langsung masuk tanpa basa-basi dan melihat Angel menampar Tiffany dengan wajah tersenyum.


"Pipi lo kok bisa merah gitu. Sumpah tangan gue tadi gatel pengen nampar. Jadi sorry tangan gue gak bisa di kendaliin." Angel tersenyum sinis melihat Tiffany memalingkan wajahnya karena tamparannya tadi.


Tiffany mengusap-usap pipinya yang terasa panas karena tamparan tadi. Sudah sedari tadi dia emosi, menjadi semakin marah.


Tiba-tiba Tiffany ingin menampar balik pipi Angel, sayangnya tangannya di tahan oleh Angel terlebih dulu.


Lucas berjalan menuju Angel dan menarik tangannya yang sempat menahan tangan Tiffany.


"Cukup, Njel."


Melihat Angel yang fokus dengan Lucas dan tidak ada lagi yang menahannya. Itu kesempatan Tiffany menampar Angel.


Plak!


Tangan Tiffany mendarat di pipi Angel.


"Makasih Lucas." Tiffany melirik Lucas dengan senyuman.


Lucas terlihat terkejut. Segera ia melepaskan tangan Angel darinya. Tamparan Tiffany sangat mulus karena bantuan Lucas.


Angel mengibaskan rambutnya yang sempat tersingkap gara-gara tamparan keras tadi, rasanya ia tidak terima dengan kekerasan yanv ia alami saat itu. Ia berjalan perlahan menuju Tiffany dan mulai menarik rambutnya.


"Ahhh...." Terdengar teriakan dari Tiffany yang kesakitan.


Lucas melihat kejadian itu segera melerai keduanya.


"Njel udah. Jangan kayak gitu." Lucas berusaha melepaskan genggaman tangan Angel dari rambut Tiffany.


Angel melepaskan genggamannya karena Lucas.


"Kalian juga, orang kelai malah diem aja." Maki Lucas kepada orang-orang yang melihat perkelahian itu. Orang-orang itu terlihat saling bertatapan dengan wajah sedikit bersalah.


Tiffany merasa sakit pada tubuh dan kepalanya karena jambakan itu sempat membuatnya jatuh ke lantai. Ia pura-pura terjatuh lemas dan meneteskan air mata buanyanya di depan Lucas.


"Liat tuh temen kamu Lucas, apa yang aku bilang tuh gak boong dia emang kasar." Tiffany masih saja memanaskan suasana dengan air mata dan terkulai lemas.


Lucas terlihat frustasi dengan menggaruk kepalanya kasar dan panik melihat Tiffany sampai seperti itu. Ia segera menyuruh teman-teman Tiffany membawanya ke ruang UKS.


"Cepet bawa Tiffany ke UKS. Dan inget jangan sampe guru-guru tau kejadian ini. Paham." Tegas Lucas kepada orang-orang yang melihat perkelahian antar Angel dan Tiffany.


Dengan cepat mereka berbondong-bondong mengantarkan Tiffany ke ruang UKS. Tiffany memang paling disegani di sekolah bukan karena baik tetapi pengaruhnya disekolah cukup membantu orang-orang yang punya masalah disekolah dalam tanda kutip bukan hal baik.


Tinggallah Lucas dan Angel di kelasnya. Angel terlihat menunduk marah, dibalik itu wajahnya yang memerah dan juga air mata yang sangat ia tahan agar tidak terjatuh.


"Kok malah kelai sih. Tuh lihat pipinya jadi merah. Sakit gak?" Lucas memegang wajah Angel untuk melihat bekas tamparan dari Tiffany.


Angel menepis tangan Lucas dari wajahnya.


"Apa pedulinya kamu sama aku." Jawab Angel ketus dan memalingkan muka.


"Kamu tuh cewek. Emosinya juga harus dikendaliin dong. Kalau ketauan guru, makin ribet urusannya nanti." Lucas menasehati Angel walaupun ia tau Angel tetap bebal.


"Yaaa ini tuh salah kamu. Kalau bukan kamu biang masalah gak bakalan jadi gini urusannya." Angel justru membalikan masalah ini kepada Lucas.


"Udah deh. Mendingan kamu pergi. Kalau kamu di sini masalah aku makin nambah." Angel mengusir Lucas dan berjalan menuju kursinya.


Saat Angel berjalan ke kursinya, rasa pusingnya tiba-tiba menghampirinya. Langkah Angel menjadi tidak seimbang, namun untungnya Lucas sempat menopang Angel.


"Kamu gak papa, mendingan ke UKS yuk."


"ENGGAK!"


Angel segera melepaskan rangkulan Lucas yang menopangnya tadi. Dan duduk di kursinya menghadap dinding tanpa berbicara sepatah kata pun lagi.


Lucas menatap Angel dengan tatapan sedih dan akhirnya menuruti kata Angel keluar dari kelasnya. Lucas berpikir Angel butuh waktu sendiri karena suasana hatinya sudah rusak.


Tanpa disadari air mata bening mulai mengalir di pipinya. Mata yang berkaca-kaca tadi tidak sanggup lagi ia tahan. Angel menghela nafas berat karena selalu saja ada yang tidak ingin ia bahagia. Dadanya terasa sesak karena harus berhadapan dengan masalah yang sama sekali tidak ia inginkan, bahkan berusaha untuk menghindari masalah tersebut.


Angel berjalan cepat menuju kamarnya, ia kembali menjadi pendiam karena Tiffany disekolah tadi.


Didalam mobil pun ia sangat murung dan tidak banyak berbicara dengan Pak Sam.


Selimut yang sudah terlipat rapi ia tarik untuk menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepala.


Di balik selimut ia menangis sejadi-jadinya, menangis merasa tidak terima dengan nasib yang selalu diperlakukan seperti musuh, punya perilaku buruk didepan orang lain serta selalu ditindas walaupun sudah berusaha menghindar dan melawan.


Angel menutup kedua mata dengan lengan tangannya dan tidak membuat air mata itu berhenti sekedar istirahat melainkan semakin bercucuran deras.


"Aku benci sama kalian, aku benciiii!" Didalam suara isak tangis terdengar sepotong kalimat penuh dendam yang berasal dari hati terdalam.


Dalam tangisannya Angel semakin menyusuri waktu menggali lebih dalam masa lalu yang bersangkutan dengan perasaannya saat ini.


Semakin ia mengenang masa lalunya, semakin kuat dan deras berlian benih itu mengalir.


Walaupun pikirannya mendorongnya untuk terus kuat, namun hatinya menolak dengan begitu tegas. Perasaannya tidak dapat dibohongi.


Karena lelah menangis dan menyesali peristiwa di masa lalu, Angel tertidur dengan bunga mimpi yang meneduhkan pikirannya.


Tiba-tiba ia terbangun di ruangan tanpa batas berwarna putih cerah.


Ia melihat sekeling bingung.


"Aku dimana?" Gumamnya sambil mengucek mata.


Pandangan matanya berhenti di satu titik, seseorang wanita berambut hitam pendek dengan gaun putih cantik menghampirinya. Namun, wajahnya terlihat samar di mata Angel.


"Mama!" Angel mengucapkan panggilan 'Mama' spontan tanpa sadar.


Wanita itu duduk disamping Angel dengan tatapan lembut sambil mengelus rambutnya.


"Angel. Kenapa kamu sedih?"


Angel menatap beberapa saat wanita tersebut dan mengukir senyuman di bibirnya. Ia memeluk wanita itu erat untuk melepaskan kerinduannya.


"Enggak kok, Ma. Angel gak kenapa-napa. Mama gak usah khawatir." Angel menghapus sisa-sisa air di matanya dan menunjukkan senyum terindahkan kepada wanita tersebut.


Wanita berambut pendek tersebut melepaskan pelukannya Angel dan memegang pipi kanan Angel lembut.


"Seberapa kuat sih kamu menahan rasa sakit itu. Kenapa harus bohong menumpukkan rasa sakit di hati kamu. Itu terlalu sulit, sayang." Wajah wanita itu tidak henti-hentinya tersenyum dan meletakkan tari telunjuknya di dada Angel sambil mengetuknya beberapa kali dengan pelan.


Wajah dengan senyuman indah itu tiba-tiba berubah murung seakan melepaskan topeng wajahnya untuk menyembuhkan segala kesusahan.