
~Kepercayaan itu mahal, hanya segelintir orang yang mampu memberi kesempatan kedua~
"Njel, ke kantin yuk bareng-bareng. Hari ini aku yang traktir."
"Enggak deh. Aku lagi mager. Aku kebetulan bawa bekal sendiri."
"Njel, udah kerjain tugas Pak Dion belum. Kalau belum aku udah selesai loh."
"Haha. Tenang aja aku juga udah selesai kok."
"Kamu suka baca buku kan. Kemarin aku baru beli novel. Novel ini best seller loh. Ini aku pinjemin."
"Oh novel ini. Kemarin aku udah baca. Sampai tiga kali lagi."
Itu adalah pertanyaan sedikit dari mereka yang mencari perhatian Angel. Melihat mereka satu persatu pergi dari hadapannya membuat Angel bernafas lega.
"Aww. Sumpah sakit banget pipi aku. Senyum dipaksa ternyata capek juga. Mungkin karena aku jarang senyum kali ya." Gumam Angel sambil mengusap-usap pipinya supaya berkurang rasa sakitnya.
Entah apa yang terjadi Angel sangat ingin menutup matanya. Kantuk tiba-tiba mendatanginya sekaligus rasa pusing.
Silau sekali.
Perlahan Angel membuka matanya. Matanya menyipit melihat sekeliling bukan kelas tapi gudang. Tiba-tiba mata Angel terbelanga melihat sekeliling sekali lagi untuk memastikan dan benar ini ada lah gudang.
"Angel sayang udah bangun."
Ternyata suara Tiffany sambil berjongkok dihadapannya. Melihat Tiffany yang melakukan ini semua membuat Angel terbakar emosi. Ternyata Tiffany sudah mulai gila.
"Jangan marah-marah dong. Kita cuma mau berteman kok." Sambungnya lagi.
"Kalau mau berteman kenapa harus begini." Jawab Angel dengan nada sedikit meninggi.
"Kamu kan udah berubah. Mana mungkin mau berteman sama kita lagi. Apalagi perlakuan kami kemarin. Tapi kami cuma mau minta maaf kok." Katanya santai sambil bersender di dinding gudang.
"Kalau aku gak mau?"
"Yah gampang. Kamu gak bakal bisa keluar gudang dengan mudah."
Anget tersenyum geli melihat mereka begitu mementingkan pandangan orang sebagai anak-anak sosialita. Nyatanya cuma "pencuri" uang orang tua.
"Otak kalian pada di dengkul semua, ya? Apa udah dasarnya B. E. G. O. Kalian pikir aku takut." Ujar Angel sambil berdiri.
"Oh nantangin."
Teman Tiffany ingin melayangkan tamparan ke wajah Angel.
Tetapi, sebelum mendarat di pipinya, Angel sudah memegang tangannya dan memutar ke pinggang hingga ia berteriak kesakitan.
Belum sampai di situ, teman-temannya yang lain juga berencana ingin mencelakai Angel secara beruntun. Dan kabar buruknya semua serangan mereka sudah ditangkis terlebih dahulu oleh Angel.
"Ternyata ayah menyuruhku belajar bela diri gak sia-sia." Gumam Angel dalam hati.
Teman-teman Tiffany sudah merintih kesakitan. Tinggal Tiffany yang mundur beberapa langkah menjauhi Angel. Angel melihatnya mati kutu melirik geli.
"Kalian semua itu cuma otak udang. Gak usah belagak angkuh deh. Jijik tau gak!"
Angel berjalan keluar gudang meninggalkan mereka yang berpikir terlalu picik dan itu balasan bagi mereka.
Ia berjalan menuju kelas dengan kepala yang masih terasa pusing akibat sisa bius.
Beberapa pasang mata melirik ke arahnya, tetapi ia masih mengambil sikap awal yaitu 'bodo amat'. Segera ia duduk ke kursinya sambil memijat pelipisnya.
"Kok bisa aku diperdaya sama Tiffany, padahal dari tadi aku gak ada makan apa-apa." Pikirnya sambil mengambil botol air di laci.
Ia tersadar bahwa air dari sekolah inilah yang masuk ke dalam tubuh terakhir kali. Angel berpikir bahwa air ini pasti sudah di beri obat bius. Segera ia melemparkan botol air itu ke tempat sampah tanpa beranjak dari tempat duduknya.
"Seniat itu kah? Emang udah gesrek tuh otak. Pake obat bius pula. Sinting!"
Gara-gara obat bius itu Angel jadi tidak fokus mengikuti pelajaran. Untungnya pada saat itu adalah pelajaran terakhir. Jadi, ia tidak perlu terlalu keras pada dirinya untuk menelan semua pelajaran yang diterangkan oleh guru.
Bel sekolah berbunyi panjang, menandakan bahwa sekolah telah usai dan kembali ke rumah masing-masing.
"Njel, pulang bareng yuk!" Ajak Chan di depan halte sambil membawa motornya.
Karena malas meladeni dengan Chan dengan keadaan halte yang ramai dan ia merasa sedikit pusing. Pada akhirnya Angel menolak ajakan Chan dengan lembut.
"Eh enggak deh, Chan. Bentar lagi jemputan aku dateng. Makasih tawarannya." Balas Angel dengan senyuman palsu.
"Oh yaudah deh. Aku duluan ya. Bye!"
Mendengar sapaan terakhir Chan, Angel membalas melambaikan tangan dengan enggan. Raut muka Angel seketika berubah, karena sebenarnya ia sangat malas melihat muka Chan dan juga kesal dengan tingkah laku Chan yang seakan orang paling romantis di sekolah.
Karena larut dengan kekesalannya, tidak sadar bahwa mobil jemputannya sudah berada di depannya. Angel akhirnya tersadar sekaligus kaget setelah supirnya itu mengklakson mobilnya. Dan segera ia masuk ke mobil untuk meninggalkan sekolah yang menyedihkan itu.
"Ih, Pak Sam jahat banget. Angel sampe kaget di klakson kayak gitu." Kata Angel yang berpura-pura seakan sedang marah
"He-he-he maaf Nona. Habisnya Nona ngelamun gitu sambil di tekuk mukanya. Jadi, biar gak lama-lama Pak Sam klakson aja biar cepet. Ngelamun apa sih Nona serius banget tadi?" Papar Pak Sam menjelaskan.
"Tadi Angel ulangan Pak. Karena soalnya susah Angel ngelamun bener gak ya jawaban yang Angel buat. Hahaha." Ujar Angel berbohong sambil tertawa.
Pak Sam hanya membalasnya dengan tawa ringan.
"Pak, ke minimarket bentar ya. Angel mau beli makanan."
"Oh oke."
Rara turun dari mobil dan menuju ke minimarket di pinggir jalan. Tujuannya untuk membeli beberapa makanan ringan karena dari tadi ia merasa lapar karena belum makan apapun di sekolah.
Ia mengambil makanan ringan, es krim, minuman dan dimasukan ke dalam keranjang belanja. Setelah dirasa cukup ia langsung menuju kasir untuk membayar.
Terlihat beberapa antrian saat di kasir, ternyata didepan Angel ada seorang anak yang masih menggunakan seragam lengkap SMP yang membayar barang belanjaannya
"Maaf dek uangnya kurang nih." Kasir yang tadi menghitung uangĀ menoleh kearah remaja SMP yang telah memberikan uangnya itu.
"Oh gitu ya mas, yaudah kurangin aja belanjaannya. Aku gak ada uang lebih."
Adik itu terlihat kebingungan dan terlihat sedikit malu karena uangnya kurang saat membayar belanjaannya.
Melihat kejadian di depannya, Angel merasa tidak sabaran dan memutuskan membayar uang yang kurang
"Berapa kurangnya, mas saya bayarin." Sahut Angel dari belakang.
"Gak usah kak. Ini bukan barang penting kok cuma jajanan doang. Biarin aja di kurangin." Adik perempuan menoleh ke arahnya dan menolak dengan lembut niat Angel tadi.
"Udah selow aja. Berapa kurangnya nanti saya yang bayar." Angel bersikeras kepada Adik perempuan itu lalu menoleh kepada kasir.
"Kurang tiga belas ribu dek."
"Nih mas. Uangnya. Ini barang belanjaan saya sekalian diitung." Angel memberikan satu lembar uang merah seratus ribu kepada kasih.
"Makasih ya kak. Maaf aku lagi buru-buru jadi aku pergi dulu ya." Pamit Adik perempuan itu dan berjalan mundur menuju pintu keluar.
"Iya." Balas Angel singkat.
Adik perempuan itu tersenyum sambil melambaikan tangan meninggalkannya
Angel membalas lambaikan tangan adik tersebut sedikit ogah.
"Terlalu polos." Pikirnya dan kembali fokus ke belanjaannya.
Rara membayar barang belanjaannya setelah selesai di hitung oleh kasir dan segera menuju ke mobil.
"Nih, Pak Sam Angel beliin kopi."
Angel menyodorkan sebotol kopi dingin kepada supirnya setelah ia masuk mobil.
"Oh makasih Nona. Jadi, langsung pulang nih."
"Iya dong."
Perubahan sikap Angel memang jauh berbeda. Terlihat ia hanya peduli dengan orang yang sudah dekat dengan sejak lama seperti orang rumah, tetapi anti simpati dengan orang luar apalagi orang yang belum ia kenal sama sekali.