
Kerajaan Ensai sudah lama dikuasai oleh Raja yang kejam. Tak segan-segan ia membunuh pengawalnya sendiri. Bahkan rakyat dipekerjakan secara paksa tanpa dibayar. Para rakyat sangat gelisah dengan raja yang semena-mena itu. Bahkan kerajaan dari negeri lain pernah berperang melawannya agar mengambil alih kerajaan. Namun, mereka kalah karena Raja Kerajaan Ensai sangatlah kuat. Saat itu para rakyat sudah pasrah, dan berpikir sudah tidak ada harapan bagi mereka agar bebas dari kekejaman Raja Ensai.
(5 tahun kemudian)
Lahirlah seorang anak yang diberi nama Hiro Ensai. Ia putra dari Raja Ensai sekaligus penerus nya. Meski putra resmi Raja Ensai, ia tidak diperlakukan selayaknya anak. Ia selalu di siksa, di perlakukan seperti pembantu. Meski Hiro sering diperlakukan secara kasar, ia tidak pernah mengeluh. Bahkan, ia masih menyayangi ayahnya yang kejam. Para pelayan kerajaan khawatir, bagaimana jika Hiro dibunuh oleh ayahnya sendiri. Hiro kecil sangatlah kesepian, ia tidak punya teman, bahkan tidak di sekolahkan. Ia pernah meminta untuk masuk sekolah kepada ayahnya, Namun ayahnya malah berkata,
"Kau gila meminta seperti itu kepadaku? Kau memang anakku, tapi bukan berarti kau kuperlakukan dengan manja!"
Meskipun Hiro tidak sekolah, ia diajari oleh para pelayan. Alhasil Hiro tumbuh menjadi anak yang pandai. Selama diajarkan para pelayan ia diberi tahu jika pemerintahan yang dilakukan ayahnya selama ini salah. Dan memohon kepada Hiro agar tidak mengikuti jejak ayahnya.
...****************...
Pagi hari ketika Hiro bangun dari tidur nya, ia sangat terkejut melihat isi kerajaan penuh dengan darah. Ia berlari dan segera mencari tahu apa yang terjadi. Tibalah ia bertemu ayahnya,
"Ayah, apa yang terjadi?" Tanya Hiro sambil menangis
"Cih, aku hanya membersihkan para sampah itu, memangnya kenapa? kau mau mati juga?" Jawabnya dengan kejam
Hiro sangat tertusuk mengetahui para pelayan yang selama ini berada di sampingnya dan selalu ada ketika ia susah maupun senang dibantai habis oleh ayahnya sendiri. Ia benar benar terpukul akan kejadian itu hingga menjadi anak yang pendiam. Para pelayan baru sangat kebingungan bagaimana caranya membuat Hiro bahagia lagi. Mereka selalu bertanya kepada Hiro,
"Pangeran, anda mau apa? Kok selalu murung?" Tanya pelayan
Para nelayan sangat kaget mendengar apa yang diucapkan Hiro. Namun, mereka bisa memaklumi karena Raja Ensai memang sangat kejam.
...****************...
Tibalah ketika hiro menginjak usia 10 tahun. Ia diajari cara menggunakan pedang oleh salah satu ksatria kerajaan. Dia dilatih agar menjadi menjadi orang yang kuat dan mampu menjadi raja penerus ayahnya.
"Hey, untuk apa sih aku diajari mainan seperti ini?" Tanya Hiro dengan bosan
"Pangeran, anda perlu berlatih agar menjadi ahli pedang." Jawab kstaria itu.
Hiro sangat malas dengan latihan seperti itu. Namun, bukan berarti ia tidak ahli. Meski ia malas ia tetaplah anak yang kuat dan jago menggunakan pedang. Bahkan sesekali ia diajarkan memanah.
Suatu ketika, saat Hiro berjalan jalan keliling kerajaan, ia melihat sesorang dengan pakaian yang sangat mewah. Mungkin harganya milyaran. Hiro mencari tahu siapa orang itu. Rupanya dia adalah perdana menteri yang dipilih langsung oleh Raja Ensai. Hiro tidak kagum dengan orang itu, ia malah membencinya. Karena Hiro pernah melihat orang itu memalak rakyat. Dalam asumsinya ia selalu berpikir bahwa siapapun bangsawan yang diutus oleh ayahnya adalah orang jahat, pasti jahat.
----------------------->>>> Bersambung
Thanks for reading ^_^