High School Love On

High School Love On
Sang Ratu Merah



Nexus dipagi hari \-khususnya hari ini\- sangatlah ramai, siswi kelas sepuluh yang notabene lebih banyak dari kakak kelasnya ternyata lebih ramai dari kelihatannya. Dipagi hari yang seharusnya tenang kini ramai dengan celotehan siswi kelas satu yang masih kagum dengan nuansa Nexus yang mereka pikir mengagumkan.



"Dasar cewek norak" Ucap Faiz yang kemudian mendengus kesal sambil melihat segerombolan siswi kelas satu yang sedang berfoto didepan gerbang sekolah.



Dari rooftop gedung serbaguna tempat ia berdiri, ia bisa melihat seluruh area sekolah. Tempat paling damai yang bisa ia temui di Nexus, demi menghindar dari keramaian yang merepotkan.



Faiz melempar tas coklat miliknya kesudut, merapat kepagar pembatas, kemudian berbaring disana, menyandarkan kepalanya diatas tas coklatnya.



Ia menghela nafas panjang, berusaha meraih ketenangan ditengah keramaian yang dibuat siswi\-siswi norak kelas satu.



Sebuah dering panjang tanda dimulainya pelajaran pertama hari ini terdengar, membuat dirinya tersenyum kecil menyadari Nexus akan kembali tenang. Ia memejamkan matanya bersamaan dengan semilir angin yang berhembus membawanya terlelap dalam mimpi.



\*\*\*\*\*



"Baiklah.. mungkin cukup sekian pelajaran kita kali ini.. ada pertanyaan?" tanya Rey pada anak didiknya yang mulai merapihkan meja mereka. Tak ada respon, Rey sudah mulai terbiasa dengan hal ini, ia tersenyum.



"Oke.. kayaknya gak ada pertanyaan.." ucapnya lagi sambil melepas kacamatanya lalu melatakkannya kedalam saku kemeja birunya. Ia menutup layar laptopnya kemudian kembali menatap anak didiknya.



"Oh iya.. kalian sudah belajar selama dua bulan lebih sepertinya.., lalu sehubungan dengan kurikulum baru yang dikeluarkan permerintah, saya mau kalian belajar lebih giat lagi.. karena sudah pasti ujian tahun ini akan lebih sulit dari tahun lalu, jadi semua pelajaran \-mungkin\- makin sulit.." ucap Rey menjelaskan perihal sistem pengajaran baru. Dan lagi\-lagi tak ada respon yang berarti. Terkadang ada rasa kesal yang menggantung dalam hatinya, namun seorang guru haruslah sabar, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengarahkan anak didiknya yang sangat minim respon itu.



"Yahh.. pokoknya kalian harus belajar lebih rajin lagi.." katanya lagi sambil memijat keningnya pelan. Ia membawa laptopnya ditangan kanan, kemudian hendak berjalan keluar sebelum pada akhirnya ia teringat sesuatu.



"Hampir lupa.. siap\-siap buat ketemu bu Sabrina di Pekalongan.." ucapnya sambil tersenyum, kemudian kembali berjalan pergi.



Tak lama setelah guru muda itu keluar, Karin dan Bella, siswi kelas 12 IPA\-5 menghambur masuk sambil berteriak nyaring, memecah ketenangan. Faadhi menatap tajam kedua gadis itu dimeja belakang.



"Bebb..!!!"



Alghif menoleh kearah mereka, tersenyum senang melihat keduanya yang kini berjalan kearahnya. Sebagian siswi menoleh kearah mereka, hanya untuk memastikan siapa yang datang. Kedua gadis itu, Karin dan Bella, kini asyik tertawa bersama Alghif yang terlihat senang dengan kehadiran dua temannya itu. Seketika 12 IPA\-A ramai dengan kikikan tawa ketiganya, tanpa mempedulikan penghuni kelas yang \-sepertinya\- terganggu. Fath yang pertama kali berdiri dari kursinya, ia \-tanpa bicara\- segera melangkah keluar dari kelas. Faadhi juga mengikuti bersama Walldy yang ditariknya dari tempatnya duduk, lalu berjalan keluar kelas sesaat setelah Fath.



Alghif dan kedua temannya melirik ketiga laki\-laki yang baru saja pergi meninggalkan kelas dengan pandangan ingin tau. Mereka berdua kembali menoleh kearah Alghif hampir bersamaan.



"Itu Fath kan ghif?" tanya keduanya bersamaan, mata mereka berbinar saat menyebut nama Fath. Alghif tersenyum menghina, kedua temannya ini memang sama seperti siswi lainnya, mengidolakan sang kapten basket itu.



"Iya.. emang kenapa?



Mendengar jawaban Alghif, keduanya segera menyerangnya dengan berbagai pertanyaan. Alghif menghela nafas.



"Iya.. lu berdua kenapa sih? Gak bisa ngeliat cowok ganteng sedikit.. kemaren satpam mall mau lu embat, Cuma gara\-gara dia ganteng" ucap Alghif sambil melipat kedua tangannya didada, ia menatap kedua temannya itu dengan tajam. Sebenarnya bukan hal umum lagi, Karin dan Bella memang tipe cewek yang suka jelalatan jika bertemu laki\-laki yang menurut mereka ganteng. Dan selera mereka masih sangat rendah, pikir Alghif sinis.



"Plis deh ghif.. Fath itu beda.." Karin mengangkat suaranya, semua penghuni kelas bisa mendengar suaranya yang nyaring melebihi sirine pemadam kebakaran itu. Bella yang berdiri disampingnya mengangguk antusias.



"Betul ghif.. Fath itu beda dari satpam mall kemaren.." tambah Bella dengan antusias yang tinggi. Ia memilin rambutnya.



Greeekk..



Kursi disebelah Alghif didorong pemiliknya, membuatnya melirik sebentar kearah kursi itu. Gadis berkacamata yang duduk disebelahnya berdiri, merapihkan bukunya, lalu pergi meninggalkan kelas tanpa bicara apapun. Karin dan Bella menatap gadis itu dengan sinis.



"Kelas lu isinya.. orang\-orang bawah semua ghif.." ucap Karin sambil terus menatap gadis berkacamata itu yang kemudian menghilang dari pandangannya. Ia menatap sekeliling kelas yang belum sepenuhnya kosong.



"Gimana ceritanya elu bisa masuk ke kelas ini.."



Alghif menghela nafas. Ia sebetulnya juga heran dengan penempatan dirinya dikelas ini. Dirinya yang sangat berpengaruh di Nexus harusnya tak disatukan dengan para 'pecundang' seperti mereka. Apa kepala sekolah mereka membuat kesalahan, karena menempatkannya di kelas yang 'enggak banget' ini.



"Udah ah.. males mikirin yang gak penting.. " ucap Alghif sambil bangkit dari tempat duduknya, malas mengomentari kenyataan bahwa dirinya ditempatkan dikelas ini, malas melihat penghuni kelas ini, bahkan wali kelasnya. Ia meraih handphone merah miliknya dari dalam tas, kemudian berpaling menatap kedua temannya.



"Ayo kekantin.." ajaknya pada keduanya. Tanpa menunggu jawaban, Alghif segera melangkah menuju pintu diikuti keduanya. Ia dengan sengaja menabrak gadis pirang yang tengah menghapus papan tulis hingga terjatuh. Karin dan Bella tertawa menghina, sedangkan Alghif hanya tersenyum sinis.



"Apa kabar lu.. pirang?" tanyanya tanpa ada niat bertanya sama sekali. Ia segera pergi meninggalkan kelas diikuti kedua temannya itu.



"Alf.. elu gak apa\-apa?" Lyfa segera bangkit dari tempatnya duduk, lalu sedetik kemudian sudah ada disamping gadis pirang itu, membantunya berdiri. Alf menggeleng lemah, ia tersenyum kearah temannya.



"Gak apa\-apa" jawabnya.



\*\*\*\*\*



"Yaa.. Selamat siang teman\-teman semua..bertemu lagi dengan Syafa disini yang akan nemenin temen\-temen semuanya buat 1 jam kedepan.."



Suara nyaring gadis itu menggema diseluruh sekolah, disetiap koridor hingga kelas. Pukul 10 pagi, adalah jadwal Nexus FM mengudara. Saluran radio milik sekolah itu tersambung dengan speaker yang tersebar di wilayah sekolah, menemani jam istirahat para siswa.



Nexus FM merupakan salah satu media penyaluran bakat yang disediakan sekolah, yang tak hanya berguna untuk hiburan semata melainkan juga berfungsi sebagai media pengumuman serta berita yang bersifat edukasi. Bersama Syafa, sang penyiar, Nexus FM selalu muncul dengan gaya masa kini khas para remaja tanpa meninggalkan sisi edukasi.



"Oke..buat salam pembuka, Syafa puterin lagu yang lagi hits saat ini.. semoga kalian semua suka"



Beberapa saat kemudian suara sang penyiar digantikan oleh alunan melodi indah milik seorang penyanyi yang tengah naik daun dikalangan remaja.



.



.



.



.



"Ahh.. Gue suka lagu ini.." Lyfa tersenyum senang mendengar lagu yang ia sukai diputar. Alf tersenyum melihat temannya itu sedangkan Sana hanya menatapnya datar.



"Eh, ngomong\-ngomong Syafa sekelas sama kita kan?" tanya Alf. Sana mengangguk singkat mengiyakan pertanyaan temannya.



"Kayaknya tahun ini kita punya temen\-temen yang keren\-keren deh"



Lyfa mengangguk antusias.



"Iya, kalo kita ngesampingin soal nenek sihir itu, kita masih punya murid lain yang berpengaruh di Nexus.." ucap Lyfa. Sana menatapnya bingung.



"Maksudnya..?"



Lyfa menghela nafas, lalu mengedarkan pandangannya keseluruh kantin.



"Itu Fath.." tunjuk Lyfa pada sosok diujung kantin.



"Dia itu kapten basket sekolah.. Faktanya, dia kapten pertama yang ngebawa tim sekolah ke turnamen nasional tahun lalu.. selain ganteng..uhuk.. dia juga berpengaruh di Nexus" ucap Lyfa semangat, Alf dan Sana mendengarkan.



"Giliran yang ganteng cepet lu.." ucap Sana dengan nada mengejek. Alf terkikik sedangkan Lyfa pura\-pura tak mendengarnya.



"Terus.. juga ada Faadhi sama Walldy.. mereka berdua juga anak basket. Fath, Faadhi dan Walldy itu ujung tombak tim basket sekolah.." ucap Lyfa lagi sambil menunjuk Faadhi dan Walldy disisi lain kantin.



"Cuma hubungan Fath dan Faadhi gak begitu baik.."



Sana meminum habis jusnya kemudian menatap Lyfa.



"Kayaknya lu tau banget soal mereka"



"Gua ini salah satu wartawan mading, jelas gua tau cerita sekolah ini" ucap Lyfa bangga, Alf tersenyum sedangkan Sana memutar matanya.



Lyfa kembali dengan pejelasannya.



"Selanjutnya, Syafa.. lu berdua pasti tau.. cewek yang suaranya selalu ada di speker setiap istirahat" Sana mengangguk.



"Juga ada Kirana.. Ketua osis kita, dia itu pinter pake banget.. dia punya rekor nilai tertinggi diNexus.. udah dua tahun, kalo tahun ini juga berarti tiga tahun berturut\-turut dia megang nilai tertinggi diNexus" ucap Lyfa.



"Aku tau soal Kirana, dia emang pinter.. aku pernah satu tim sama dia waktu cerdas cermat provinsi waktu itu" kata Alf sambil menatap kedua temannya.



"Yaa.. kalo sampe Alf ngaku ketua osis kita ini pinter, berarti dia emang pinter" ucap Sana memberi komentarnya yang membuat Lyfa bingung.



"Lu ngomong apa sih na? Gak mudeng gua" Lyfa menatap Sana dengan alis yang terangkat.



"Udah lanjutin aja cerita lu..?"



"Ada Luna, dia dari eskul musik. Kadang kita liat dia mainin pianonya waktu pensi.. Kalo gak salah pensi tahun lalu dia tampil juga kan?" ucap Lyfa. Alf dan Sana mengiyakan.



"Dia juga pernah main di acara award di tv, pokoknya dia keren.."




"Umurnya masih muda, dia udah jadi model, gua yakin kedepannya dia bisa jadi artis" kata Lyfa lagi.



"Aku gak nyangka temen sekelas kita hebat semua yaa.." komentar Alf sambil tersenyum. Ia merasa senang bisa berada dalam kelas yang sama dengan orang\-orang populer di Nexus.



"Kalo gua sih biasa aja.." ucap Sana datar. Lyfa tak memperdulikannya, ia masih asyik menatap kantin, berharap menemukan bahan obrolan lagi.



"Ahh.. itu dia" tunjuk Lyfa tiba\-tiba pada sosok laki\-laki yang baru saja masuk area kantin. Sana dan Alf menoleh kearah yanh ditunjukkan Lyfa.



"Nexus punya siswa dan siswi yang berprestasi.. lawan dari kalimat itu juga ada" ucap Lyfa.



Sana menatap laki\-laki yang ditunjuk Lyfa, kemudian menoleh kearah Alf yang sepertinya punya pandangan yang sama dengan dirinya tentang laki\-laki itu.



"Itu Faiz Anthera.. semua penghuni Nexus memanggilnya Tiger.. Gelar yang cocok untuk dia, kalo lu tanya pendapat gua" ucap Lyfa.



"Kalo Kirana ada di peringkat paling tinggi, cowok yang ini ada diperingkat paling bawah.. Dia langganan guru BK, lu pasti ngerti. Dia pembuat onar." jelas Lyfa. Sana dan Alf saling pandang, ada pandangan yang sulit diartikan yang terpancar dari keduanya. Sedangkan Lyfa tetap bercerita tentang laki\-laki itu, tentang apa yang sudah diperbuat pembuat onar bergelar Tiger itu.



"Yaa.. itu dia, semua yang gua tau tentang kelas kita" uca Lyfa mengakhiri ceritanya. Alf meminum jus miliknya sambil menatap Sana yang terdiam. Ia mengalihkan pandangannya kearah pembuat onar yang tadi disebut Lyfa.



Laki\-laki itu tengah berdiri di depan penjual bakso tak jauh dari tempat mereka duduk. Terlihat sekali kalau perkataan Lyfa itu benar, beberapa dari siswa yang juga memesan bakso mundur perlahan sambil mempersilahkan laki\-laki itu memesan lebih dulu. Bahkan para siswi kelas 10 yang sejak tadi ramai kini terdiam saat laki\-laki itu datang.



"Alghif.. Gimana tentang Alghif?" Sana terkejut, begitu juga dengan Lyfa yang sedang asyik mendengar Nexus FM. Alf mengatakannya begitu saja, bahkan ia sendiri terkejut mulutnya melontarkan pertanyaan itu.



"Emm.. yaa kita semua udah tau kan, dia anak dari donatur terbesar di Nexus.. Jadi.. yaa lu tau sendiri.." ucap Lyfa yang sepertinya enggan membicarakannya.



"Donatur terbesar di Nexus, gak ngejadiin dia ratu kan?" ucap Alf lirih sambil menatap gelas jusnya yang sudah habis. Lyfa segera merangkulnya.



"Jelas enggak Alf, dia cuma berlagak sok kayak ratu, padahal dia itu kan.."



.



.



.



.



.



"Emang ratu beneran.." sebuah suara terdengar, memotong kata\-kata Lyfa, membuat mereka bertiga menoleh.



Kini dihadapan mereka, Alghif dan kedua temannya sedang berdiri didepan mereka dengan wajah sinis.



"Elu bertiga ngomongin gua?"



Lyfa, Sana dan Alf tak ada yang menjawab. Alghif menatap Lyfa.



"Gua denger elu yang ngomongin gua.."



"Bukan.." Alf angkat bicara, Sana dan Lyfa memandangnya takjub. Mereka tak pernah mendengar Alf membantah Alghif, dan kini dengan beraninya Alf melakukannya.



"Bukan Lyfa.. tapi a\-aku.."



"Jadi elu.." Alghif berjalan mendekati Alf. Menatapnya dengan tajam, sedangkan Alf hanya tertunduk.



"Sekarang lu udah berani ngelawan gua yaa.." ucap Alghif, sedangkan kedua temannya, Karin dan Bella menatap dengan tatapan rendah.



"Ghif coba liat deh.. Kayaknya si pirang abis dandan deh.." ucap Bella sambil mengedikkan dagunya kearah Alf.



Alghif mulai memperhatikan penampilan Alf. Lalu mendengus kasar.



"Hoo.. Jadi lu udah bisa dandan? Mau nyaingin gua? Hahh? Mau nyaingin gua?" ucap Alghif sambil menarik surai pirang milik Alf. Alf mendesis kesakitan.



Sana menatap tajam Alghif yang masih menarik rambut Alf, tangan kanannya mengepal keras dibawah meja. Ia marah, tak pernah ia merasa marah seperti ini. Ia siap memukul Alghif, dengan gelar putri tae kwon do, ia yakin Alghif bisa pingsan dengan satu pukulan.



Tiba\-tiba tangan lembut Alf menggeggam kepalan tinju Sana, berusaha menahan amukan temannya itu.



Sana menatap mata biru Alf yang walau dipaksa menatap Alghif tapi tetap mengarah padanya.



"Lu gak bakal bisa nyaingin gua!!" bentak Alghif kasar sambil terus menarik rambut pirang Alf. Sedangkan Lyfa terdiam tak bisa membantu, begitu juga Sana yang tinjunya tetap digenggam Alf.



Bella tertawa sinis melihat Alf. Sedangkan Karin angkat bicara.



"Ghif.. Dia terinspirasi sama lu.. Ajarin dia dong biar bisa cantik kayak lu" ucap Karin sambil mengedikkan dagunya kearah botol saus diatas meja.



Alghif yang mengerti maksud Karin segera meraih botol saus itu. Ia tetap menarik rambut Alf.



"Elu mau jadi kayak gua? Jadi ratu di Nexus?"



"Dandanan lu lumayan.. Cuma satu yang salah, rambut lu pirang.." ucap Alghif sambil menarik rambut pirang itu lebih keras.



"Sang ratu gak suka pirang.. Karena gua lebih suka merah!!" ucapnya lagi sambil bersiap menuang seluruh saus dari botolnya keatas rambut Alf.



Sana tak tahan lagi, kali ini ia akan memukulnya. Tinju kirinya masih bebas, walau tak sekuat yang kanan tapi setidaknya Alghif akan jatuh kebelakang.



Namun sebelum Sana melayangkan tinjunya, sebuah tangan meraih botol saus ditangan Alghif lalu merebutnya.



"Ahh.. Jadi disini saosnya.. Gua cariin kemana\-mana juga" Faiz berdiri dihadapan mereka semua sambil menuang saus ke mangkuk bakso miliknya.



Tak ada yang mengatakan apa\-apa, semuanya masih terkejut melihat kedatangan sang harimau Nexus yang tiba\-tiba.



Faiz masih fokus dengan mangkuk baksonya.



"Apaan nih..ada semutnya" Ia mengangkat sesuatu yang dianggapnya semut dengan sendok lalu membuangnya sembarangan.



Kuah bakso yang dibuang Faiz dengan sendoknya sedikit mengenai tangan Alghif, memaksanya melepas genggaman tangannya dari rambut Alf.



"Aww.. Sial, heh.. Hati hati dong lu!!" bentak Alghif kearah Faiz yang masih mengurusi baksonya.



Merasa ia ditatap tajam, ia menoleh.



"Lu kenapa sih? Lu marah saos lu gua ambil?" tanya Faiz dengan datar sambil menatap Alghif yang menatapnya tajam.



"Iya..iya gua ngerti.." ucapnya lagi yang kemudian mencari sesuatu disaku celananya.



"Nih.." ucap Faiz sambil menyodorkan sejumlah uang kearah Alghif, membuatnya makin marah.



"Lu jualan saos kan?"



Alf, Sana serta Lyfa hanya bisa melihat kejadian itu tanpa bisa mengatakan apa\-apa, begitu juga dengan Karin dan Bella.



Alghif menatap laki\-laki didepannya dengan tajam, giginya bergemelutuk menahan marah.



"Lu jangan main\-main yaa.. Lu gak tau gua sia.."



"Gua tau.. Lu yang disebut\-sebut ratu sama orang\-orang kan? Tapi gua gak nyangka.. lu jualan saos" ucap Faiz memotong ucapan Alghif.



Faiz menggoyangkan tangannya yang masih menyodorkan sejumlah uang.



"Nih.. Mau kagak? apa ku.."



Alghif menghempaskan tangan Faiz, membuat uang yang dipegangnya berhamburan diudara.



"Jangan main\-main sama gue.. Gua kasih tau lu" ucap Alghif dengan nada mengancam.



Faiz menguap malas. Lalu balas menatap Alghif dengan tatapan tajam yang tiba\-tiba.



"Oh ya? Kalo gitu jangan mainin orang lain kalo gak mau gue mainin.." ucap Faiz santai yang membuat Alghif makin geram.



\*\*\*\*